HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
UNGKAPAN ARGHAM


__ADS_3

Jeduarrrr....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tidak hanya bu Lastri namun juga Alex yang terkejut dengan pengakuan Argham. Calon suami? Bukankah Jia bilang tidak berpikir untuk menikah lagi? Lalu kenapa pria di depannya mengaku sebagai calon suami jia? Apa Jia berusaha membodohinya? Pikir bu Lastri.


Bagaikan kaca yang pecah menjadi beberapa keping, hati Alex terasa remuk redam dan tidak bisa di perbaiki seperti sedia kala saat mendengar ucapan Argham, namun ia tidak akan percaya begitu saja dengan Argham kecuali ia mendengar sendiri dari bibir Jia.


Bu Lastri menatap Jia dengan tatapan menyelidik, begitupun dengan Alex. Mereka ingin mendengar kebenaran dari mulut Jia sendiri sekarang ini. Namun beberapa saat di tunggu Jia hanya diam saja. Tak tahan dengan kebungkaman Jia, Alex pun membuka suaranya.


" Apa ini alasanmu tidak mau kembali padaku, Jia?" Tanya Alex menatap Jia.


" A..


" Ya..." Sahut Argham memotong ucapan Jia.


" Aku sudah pernah bilang padamu kalau Jia tidak akan pernah kembali padamu lagi." Argham mendekati Jia lalu merangkul pundak Jia.


" Kami akan segera menikah, jadi aku harap mulai sekarang kamu tidak lagi mengganggu Jia." Sambung Argham. Argham merasa harus melakukan ini sebelum ia kehilangan Jia.


" Aku tidak bertanya padamu karena aku tahu jawabanmu adalah kebohongan. Aku ingin mendengar dari bibir Jia sendiri." Ujar Alex tersenyum remeh menatap Argham. Ia lalu menatap Jia yang saat ini hanya bisa menundukkan kepalanya.


" Katakan padaku Jia! Apa yang di ucapkan Argham suatu kebenaran? Apa kau dan dia berencana untuk menikah?" Selidik Alex.


Lagi lagi Jia hanya bungkam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Berkata yang sebenarnya berarti ia siap di kejar oleh Alex, mengatakan kebohongan yang berarti siap di desak oleh Argham.


" Katakan Jia! Jika kau diam saja aku anggap semua ucapan Argham suatu kebohongan." Desak Alex.


Jia mendongak menatap Argham, Argham tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu Jia menatap Alex.

__ADS_1


" Iya."


Satu kata yang keluar dari bibir Jia mampu menghancurkan hidup Alex. Harapan mendapatkan Jia kembali kini sirna lah sudah. Hatinya sakit bagaikan di remas remas. Lukanya pedih bagaikan di siram asalnya air cuka. Sebisa mungkin Alex menguasai dirinya sendiri.


" Bukankah kau mencintai orang lain? Lalu kenapa kamu mau menikah dengan Argham? Apa Argham memaksamu? Atau dia mengancammu?" Tanya Alex.


" Cinta bukan segalanya Mas. Buktinya cintaku padamu membuatku hidup dalam tekanan dan penderitaan selama aku hidup bersamamu. Aku tidak lagi percaya akan adanya cinta, karena menurutku cinta tidak mengintimidasi siapapun hingga membuat pasangan kita menderita. Yang aku harapkan sekarang bukanlah cinta lagi, tapi perhatian dan pengertian. Dan mas Argham memiliki keduanya." Sahut Jia.


Alex memejamkan matanya menahan pedih karena ucapan yang Jia katakan. Ia baru menyadari jika selama ini Jia benar benar merasa tertekan hidup bersamanya hingga perpisahan menjadi anugerah terbesar dalam hidupnya.


" Baiklah jika itu keputusanmu, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku doakan semoga kau bahagia. Aku juga ingin mengucapkan selamat kepadamu, semoga Argham pilihan terbaik untukmu. Aku permisi."


Tidak mau berlama lama menahan sesak di dalam hatinya, Alex segera berlalu meninggalkan rumah Jia di ikuti ibunya dari belakang. Ia berjalan menuju jalan raya mencari angkutan umum untuk sampai di rumahnya.


Sedangkan di rumah Jia, Jia masih mematung di depan pintu sambil menggendong Raffa yang terlelap. Argham berdiri menghadap Jia, ia melipat kedua tangan di depan dadanya sambil terus menatap Jia.


" Maaf ucapanku tadi hanya...


" Duduklah! Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Argham menarik tangan Jia menuju sofa. Keduanya duduk berdampingan.


" Menikahlah denganku!"


Deg....


Jantung Jia terasa berdetak sangat kencang, ia menatap Argham begitupun sebaliknya.


" Jia." Argham menggenggam tangan Jia.

__ADS_1


" Apa yang aku ucapkan tadi adalah kenyataan, aku memang berniat untuk menjadikanmu sebagai ibu sambung dari putraku dengan cara menikahimu." Argham mengelus punggung tangan Jia.


Jia bisa menebak jika suatu saat Argham pasti akan melakukan ini padanya. Namun ia ingin tahu lebih jauh tentang perasaan Argham padanya walupun ia tidak berniat menerimanya.


" Jujur... Sejak pertama kali kita bertemu, aku merasa tertarik padamu. Saat itu juga hatiku menginginkanmu untuk menjadi pendamping hidupku. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan ini semakin mendesak hatiku Jia. Aku merasa nyaman berada di dekatmu, aku merasa cemburu melihatmu bersama pria lain. Aku tidak rela kau menjadi milik orang lain Jia. Aku mohon menikahlah denganku! Aku berjanji akan membuat hidupmu dan Valle bahagia." Ujar Argham.


Jia hanya diam saja tanpa bisa berkata apa apa.


" Aku bukan lelaki yang pandai merangkai kata kata cinta Jia, tapi aku akan membuktikannya melalui perbuatan. Aku tahu kamu baru menata hatimu dari kata trauma. Tapi percayalah Jia! Tidak ada kata trauma dalam hubungan, setiap pria memiliki sikap dan sifat yang berbeda beda. Kau bisa membedakan bagaimana sikapku dan mantan suamimu itu. Kami sangat jauh berbeda Jia. Selama ini aku telah memberikan semua waktu, perhatian dan kasih sayangku padamu. Aku yakin kau bisa merasakannya dan menebak alasan aku melakukan semua itu. Aku mohon Jia! Menikahlah denganku." Ucap Argham menatap Jia.


Jia nampak sedang berpikir, ia juga bingung harus bagaimana. Melihat Jia yang hanya diam saja, Argham mengeluarkan jurus terakhirnya. Jurus yang di ajarkan oleh Valle sang calon anak tirinya.


" Gunakan Raffa untuk menekan Mama, maka rencana kita pasti akan berhasil." Ucapan Valle saat itu terngiang di telinga Argham. Ia menimbang nimbang apakah rencana terakhirnya akan berhasil? Atau malah gagal? Untuk mengetahui berhasil dan tidaknya ia harus mencobanya.


" Kalau kau menolaknya, akan aku pastikan hari ini adalah hari terakhir kau bertemu Raffa."


Deg...


Jantung Jia terasa berhenti berdetak. Ia benar benar tidak rela jika Raffa jauh darinya. Ia menatap Argham seolah menuntut penjelasan darinya.


" Aku akan pindah ke luar negeri Jia. Aku merasa tidak ada gunanya aku dan Raffa di sini tanpa kehadiranmu. Raffa tidak akan bisa menjalani hati harinya dengan baik tanpamu, sedangkan jika kau tetap menjadi pengasuh Raffa, akulah yang akan tersiksa. Aku bisa melihatmu setiap hari tapi aku tidak bisa memilikimu, itu akan sangat menyakitkan Jia. Lebih baik aku pergi daripada harus menanggung rasa sakit itu. Aku menginginkan jawabanmu sekarang karena aku harus menyiapkan dokumen kepindahanku dan Raffa mulai sekarang." Ujar Argham.


Jia menatap wajah Raffa yang terlelap dalam pangkuannya, ia mengelus pipi mungil babby tampan itu. Tanpa sadar ia menciumi wajahnya di depan Argham. Argham tersenyum melihat itu, ia yakin jika usahanya kali ini membuahkan hasil.


" Katakan padaku Jia! Apa jawabanmu?" Argham menatap Jia begitupun sebaliknya.


" Aku.... "

__ADS_1


TBC....


__ADS_2