
Hari hari berlalu, masa pendekatan Argham kepada Jia benar benar membuahkan hasil. Hubungan mereka semakin hari semakin dekat saja. Jia sudah bisa bersikap care layaknya seorang teman terhadap Argham. Namun Argham belum berani mengungkapkan perasaannya pada Jia. Ia tidak mau membuat Jia merasa sungkan kepadanya. Ia akan mengatakan perasaannya di saat yang tepat.
Di bawah terik matahari jam dua belas siang ini, banyak para pegawai perusahaan berlalu lalang mencari tempat untuk mereka makan siang. Begitupun dengan Argham, namun bedanya ia meminta Jia datang ke kantornya untuk membawakan makan siang sekaligus membawa Raffa dengan alasan ia ingin melihat Raffa. Dengan begitu rasa letihnya bisa hilang begitu saja walaupun sebenarnya itu hanya modus saja.
Sambil menggendong Raffa dan menenteng tempat bekal di tangan kanannya, Jia menuju ruangan Argham dengan menggunakan lift. Raffa terus berceloteh berada dalam gendongan Jia. Hingga lift berhenti di lantai lika belas, Jia segera keluar dari sana. Ia berjalan menuju ruangan besar yang ada di ujung sana. Ruangan yang membuat Argham merasa betah di sana.
Sampai di depan pintu, seseorang telah membukakan pintunya dari dalam. Gandi... Sang asisten Argham yang paling setia menemani Argham selama beberapa tahun ini.
" Siang Nyonya, silahkan masuk!" Ucap Gandi. Jia menatap Gandi sekilas, tubuh athletis, tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima dan berkulit putih membuat Gandi nampak tampan paripurna.
Argham yang melihat Jia menatap Gandi merasa kesal. Ia beranjak dari kursinya lalu berjalan sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya menghampiri mereka berdua.
" Ehmm Ehmm... " Dehem Argham membuyarkan lamunan keduanya.
" Ya Tuhan Nyonya.. Kau membuatku dalam masalah saja." Batin Gandi memejamkan mata.
Jia masuk ke dalam mendekati Argham.
" Mas Argham ini makanannya." Ucap Jia memberikan kotak bekal yang ia bawa kepada Argham.
" Terima kasih, ayo temani aku makan!" Argham menarik tangan Jia menuju sofa yang berada di pinggir sebelah kanan dari meja Argham.
Keduanya duduk di sofa, Argham menatao Gandi yang masih mematung di depan pintu.
" Kau mau bergabung dengan kami atau mau makan di laut, Gandi." Ucap Argham penuh penekanan.
" Eh saya makan di laut di saja Bos, saya permisi." Gandi segera keluar dari ruangan Argham sebelum Argham mengancam akan memotong gajinya setengah bulan.
" Raffa pangku Papa aja, biar mama kamu siapin makannya." Argham mengambil alih Raffa dari pangkuan Jia.
__ADS_1
Jia membuka penutup tempat bekalnya, ia mengeluarkan nasi, sayur beserta lauknya dari dalam. Ia meletakkan sendok makan di atas tempat makannya.
" Silahkan Mas!" Ucap Jia menyodorkan makanannya kepada Argham.
" Sini biar Raffa sama aku saja Mas." Jia kembali mengambil Raffa dari Argham lalu memangkunya.
" Apa kamu sudah makan?" Tanya Argham menatap Jia sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sop ayam beserta sambal dan ayam gorengnya.
" Sebenarnya belum karena Mas Argham mendadak memintaku ke sini mengantar makan siang. Nanti setelah pulang dari sini aku pasti makan kok." Sahut Jia.
Argham langsung menghentikan kegiatannya, ia menyendokkan makanan lalu menyodorkannya ke mulut Jia. Jia menatapnya begitupun sebaliknya. Manik mata mereka bertemu hingga beberapa saat.
Deg... Deg...
Jantung keduanya terasa berdetak dengan kencang. Sorot mata Argham menggambarkan cinta dan kasih sayang terhadap Jia, ia mengulas senyuman di sudut bibirnya, namun hal itu membuat Jia menjadi salah tingkah. Jia memalingkan wajahnya menatap ke sembarang arah. Argham kembali tersenyum melihat tingkah Jia.
" Sayang lihat mama kamu, mama kamu mengabaikan papa, padahal tangan papa sudah pegal ini." Ucap Argham.
" Tidak usah repot repot Mas! Mas Argham makan duluan saja, lagian aku belum lapar." Ujar Jia.
Klutik...
Tiba tiba Argham meletakkan sendoknya ke wadah kembali. Ia jadi tidak selera makan, lebih tepatnya pura pura tidak selera supaya Jia mau makan berdua dengannya.
" Kenapa tidak jadi makan Mas?" Tanya Jia menatap Argham.
" Aku tidak berselera, bagaimana aku bisa makan kalau kamu saja kelaparan. Kalau kamu mau makan, baru aku mau makan." Ujar Argham.
" Tapi aku membawa makanannya hanya satu porsi Mas sesuai pesananmu, percuma kan kamu makan kalau tidak kenyang." Ucap Jia mencoba berkilah padahal ia merasa canggung banget.
__ADS_1
" Kalau kamu ikut makan kita pasti akan sama sama kenyang Jia, sekarang makanlah! Aku akan menyuapimu." Ujar Argham. Argham kembali menyodorkan sendoknya ke depan mulut Jia.
" Aku bisa makan sendiri Mas." Ucap Jia meminta sendok dari tangan Argham namun Argham tidak memberikannya. Jia menghela nafasnya pelan, akhirnya mau tidak mau ia menerima suapan dari Argham. Argham tersenyum melihat Jia mengunyah makanannya.
" Jangan di lihatin gitu Mas! Aku kan malu." Ucap Jia.
" Kenapa mesti malu? Di suapin sama papanya Raffa kok malu malu. Kamu itu sudah membuat kenyang putraku dengan menyuapi nya setiap harinya, sekarang giliran aku yang melakukan itu padamu." Ujar Argham menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
Alhasil mereka berdua makan bersama dengan sendok yang sama juga. Tanpa mereka sadari secara tidak langsung mereka telah berciuman. Jia melirik Argham sekilas, bukannya ia tidak tahu. Ia sangat paham dengan maksud perhatian Argham kepadanya. Ia tahu jika Argham tertarik padanya, namun ia pura pura tidak tahu dan menganggapnya angin lalu saja agar ia tidak merasa canggung berhadapan dengan Argham.
" Aku tahu apa maksudmu sebenarnya Mas Argham. Jujur aku mulai merasa nyaman dengan semua perhatianmu tapi aku masih berusaha membentengi hatiku dari yang namanya jatuh cinta. Aku masih ingin sendiri menikmati kebebasanku. Kecuali jika Tuhan berkata lain, aku pasrahkan semuanya kemana Tuhan akan membawa takdirku."
" Aku tahu kau menyadari perasaanku Jia, tapi kau sengaja pura pura tidak mengetahuinya untuk menghindariku. Tapi tidak apa apa, aku menghargai keinginanmu. Aku akan menunggu sampai kau mau membuka hatimu kembali untuk pria sepertiku. Kesabaranku tidak akan ada batasnya, aku mencintaimu." Ucap Argham dalam hati.
Selesai makan Jia segera pamitan pulang. Ia membawa Raffa pulang bersamanya. Saat Jia hendak membuka pintu, Argham menghentikan langkahnya.
" Jia."
Jia menoleh ke belakang. Argham berjalan mendekati Jia.
" Ya." Sahut Jia.
Keduanya saling berhadapan.
" Hati hati! Setelah pulang dari sini segera istirahatlah! Pak Lukman akan menjemput Valle di sekolahnya, aku ada meeting setelah ini." Ucap Argham.
Jia hanya membalasnya dengan senyuman manisnya. Begitupun sebaliknya, Argham melempar senyuman manis kepadanya. Tiba tiba Argham membungkuk badannya, ia mencium pipi gembul Raffa dalam gendongan Jia membuatnya dan Jia berada dalam jarak yang sangat dekat bahkan terkesan menempel. Jantung Jia terasa deg degan, tubuhnya terasa gemetar apalagi saat mencium aroma maskulin tubuh Argham.
" A.. Aku pulang Mas."
__ADS_1
Jia segera keluar dari ruangan Argham dengan perasaan yang tidak menentu. Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini yang jelas ia sendiri tidak bisa menebaknya.
TBC....