
Bagaikan mengharapkan setetes air di padang pasir, Alex menunggu jawaban Jia yang ia yakini kali ini Jia tidak akan berpihak padanya. Rasa di dalam hati Jia benar benar telah sirna karena sikapnya. Alex berusaha menguatkan mentalnya sekuat mungkin agar ia tidak down setelah mendengar keputusan Jia. Kepalanya benar benar terasa berdenyut nyeri seolah terasa mau pecah karena masalah yang telah menerpa dirinya ini.
" Jia.. " Alex menatap Jia begitupun sebaliknya.
Bibir Jia terasa lengket, lidahnya terasa kelu, jawaban yang hendak ia keluarkan hanya tercekat di tenggorokan saja. Ia tidak tega menyakiti hati Alex, hati pria yang selama ini menemaninya walaupun hanya kehampaan yang Jia rasakan.
Alex menatap Jia menanti jawabannya. Untuk memberikan jawaban kepada Alex, Jia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Alex menghembuskan kasar nafasnya sambil memejamkan matanya menahan sesak yang kini menghimpit dadanya. Ia tidak kaget dengan jawaban Jia karena ia sudah tahu jawaban yang akan Jia berikan kepadanya.
" Kenapa Jia? Kenapa kau tidak mau kembali padaku walaupun demi anakmu? Apa kau lebih mementingkan perasaanmu itu daripada perasaan Valle? Kau bisa berusaha untuk mencintaiku lagi Jia, dan aku rasa hal itu tidak akan terlalu sulit. Tapi kau malah memilih pria itu daripada kembali kepadaku. Jangan mengkhawatirkan sikapku! Aku akan merubah sikapku kepadamu, kau ingin aku memanjakanmu? Akan aku turuti. Aku akan lebih memperhatikanmu Jia, aku akan memberikan perhatian lebih padamu, tapi aku mohon kembalilah padaku. Kita mulai semuanya dari awal Jia, kembalilah padaku." Di sinilah Jia tidak menyukai sikap Alex, baginya Alex terlalu menekan dirinya tanpa memberikannya kebebasan untuk memilih haknya.
Bukan karena ego Jia tidak mau kembali padanya, tapi dia cukup bahagia hidup berdua dengan putrinya dengan bebas akhir akhir ini. Tidak ada tekanan yang ia rasakan seperti selama ini. Bukan hanya Jia yang merasa tertekan selama ini, Valle juga. Walaupun Alex berjanji akan merubah sikap, tapi Jia tidak bisa mempercayai semua itu. Sikap mungkin bisa berubah, namun watak tidak akan bisa di ubah sampai kapan pun.
Alex merasa frustasi, ia menarik kasar rambutnya mengeluarkan kekesalannya. Ia kesal pada dirinya sendiri karena telah mengacaukan kebahagiaanya dan Jia. Andai ia bisa memutar waktu, ia pasti akan menyayangi Jia seperti yang Jia mau. Sebenarnya Jia tidak menuntut kasih sayang ataupun waktu Alex, ia hanya menginginkan sedikit perhatian dan kepedulian Alex saja, namun sekarang semuanya sudah terlambat baginya.
" Baiklah kalau kamu tidak mau kembali padaku, aku tidak akan memaksanya lagi karena aku tahu perasaanmu bukan untukku lagi melainkan untuk pria itu. Aku permisi." Alex beranjak dari duduknya. Tiba tiba kepalanya terasa berat, pandangannya terlihat berputar dan bergoyang. Ia memegangi kepalanya sambil menahan berat tubuhnya.
" Mas kamu kenapa?" Tanya Jia mendekati Alex.
Tiba tiba..
Brugh...
" Astaga." Jia mencoba menopang tubuh Alex yang kehilangan kesadarannya agar tidak jatuh. Ia mendorong pelan tubuh Alex ke atas sofa. Jia sedikit khawatir pasalnya kadar gula darah dan tekanan darah Alex selalu rendah, jika sudah sampai pingsan seperti ini itu berarti kondisi Alex dalam keadaan parah.
Jia menempelkan punggung tangannya pada dahi Alex.
__ADS_1
" Badannya juga demam." Gumam Jia.
Jia mengambil selimut di kamarnya lalu menyelimuti Alex sampai batas bahu. Ia mengambil tempelan penurun panas lalu menempelkannya ke dahi Alex berharap demamnya akan turun.
" Engh Jia.. Jangan tinggalkan aku!" Alex mengingau sambil menggenggam tangan Jia.
" Aku di sini Mas." Jia mengelus tangan Alex.
Jia menyeret sofa tunggal lalu duduk di depan Alex. Ia pandangi wajah Alex yang nampak pucat, ia yakin Alex tidak menjaga pola makannya dengan baik.
Pikiran Jia menerawang ke bagaimana nasib mereka berdua, tepatnya nasib Alex ke depannya. Alex telah berpisah dari Ayu, itu berarti Alex tidak punya tempat tinggal untuk ia tinggali saat ini. Apa mungkin Alex akan kembali ke kampung halamannya? Atau ia akan mencari kontrakan lainnya? Kalau benar begitu, Alex akan membayarnya dengan apa? Apalagi Jia yakin setelah ini Erik pasti akan memecat Alex dan membuat Alex menjadi pengangguran.
Jia menghembuskan kasar nafasnya, ia akan membicarakan hal ini kepada Alex besok pagi. Rasanya malam ini ia sangat mengantuk sekali. Jia memejamkan matanya sambil duduk di sofa menuju alam mimpi.
...****************...
" Kamu sudah bangun Mas." Ucap Jia.
" Hmm.. Aku sangat bahagia bisa melihatmu saat aku membuka mata Jia, aku sangat merindukan saat saat seperti ini. Aku jadi ingat saat saat kita masih bersama, aku akan bangun setelah kamu membuatkan kopi untukku. Aku jadi berharap kenangan itu bisa kembali lagi seperti dulu." Ucap Alex.
Jia langsung membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia tak kuasa menatap mata Alex, apalagi terpancar di wajahnya harapan yang begitu besar kepada Jia.
Dari kejauhan Valle nampak berjalan menghampiri mereka.
" Papa... " Ucap Valle.
Alex melempar senyuman ke arah putri cantiknya.
__ADS_1
" Papa sedang sakit Va." Sahut Jia.
" Papa sakit apa? Tidak biasanya papa sakit. Papa kan pria terkuat seantero negeri." Ujar Valle duduk di sofa sebrang sambil menatap Alex.
" Sepertinya gula darah papamu drop sayang, bisa buatkan kopi buat papa? Atau susu saja." Ujar Jia menatap Valle.
" Aku nggak mau, aku maunya minum kopi buatanmu." Sahut Alex membuat Jia menatapnya.
" Baiklah akan aku buatkan, susu saja ya sepertinya Mas belum makan dari kemarin, tidak baik meminum kopi di saat perut kosong." Ujar Jia berjalan ke dapur.
Alex tersenyum mendapat perhatian seperti itu dari Jia, lalu ia menatap Valle dengan tatapan penuh kerinduan.
" Sini sayang, Papa kangen sama kamu." Ucap Alex tak berdaya. Ia hanya bisa rebahan di sofa tanpa bisa bergerak karena tubuhnya yang terlalu lemas.
Valle menggelengkan kepalanya membuat Alex nampak sedih, putri yang sangat dekat dengannya dulu kini menjauh darinya. Ingin rasanya Alex meneteskan air mata namun sekuat mungkin ia menahannya. Ia tidak mau terlihat lemah di mata putri semata wayangnya.
Jia kembali dengan membawa segelas susu putih. Ia bisa merasakan suasana tidak bersahabat yang di pancarkan oleh putrinya.
" Valle, tolong jaga Papa kamu! Mama mau sholat dulu lalu memasak sarapan untukmu." Jia sengaja meninggalkan Valle dan papanya, ia ingin memberikan waktu untuk keduanya agar kembali dekat Walaupun ia sudah bercerai dari Alex namun ia tidak mungkin membiarkan Valle menjauh dari ayahnya. Bagaimanapun, apapun yang terjadi, Valle tidak boleh membenci apalagi menghakimi ayahnya. Ia harus tetap menjaga, menghormati hubungannya dengan Alex dengan baik.
" Tapi Ma, aku mau mandi terus bersiap ke sekolah." Ujar Valle mencoba menghindar. Ia terlalu malas berdekatan dengan papanya yang menurutnya bersikap egois.
" Sebentar saja! Kamu bisa mandi nanti jam enam, Mama ke kamar dulu." Ucap Jia.
" Oh ya, duduklah di sana! Tubuh papa kamu sedang lemas, takutnya akan terjatuh kalau tidak ada yang menjaganya. Mama akan memanggilkan bisa Desi setelah jam tujuh nanti." Ucap Jia. Ia segera berlalu dari sana.
" Kau memang yang terbaik Jia, kau selalu melakukan ini ketika Jia berusaha menjauh dariku. Akulah yang tidak pandai bersahabat dengan kalian berdua. Maafkan aku! Kini aku telah menyesalinya." Batin Alex.
__ADS_1
TBC....