HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
LOMBA CARI PERHATIAN


__ADS_3

Bagaikan melihat seorang musuh yang siap menyerang di seberang sana, Alex nerasa terancam. Ingin sekali Alex menembaknya dari sini. Ia mengepalkan erat tangannya menahan emosi yang memuncak di dadanya ketika Jia pergi bersama Argham membeli makanan untuk babby Raffa. Alex tidak suka dengan kedekatan mereka, ia tidak rela kehilangan kesempatan untuk bersama Jia kembali. Alex akan berusaha semaximal mungkin untuk membuat Jia kembali padanya.


" Aku akan tetap memperjuangkan kamu lagi Jia, walaupun kamu menahanku aku tidak akan gentar. Aku tidak akan kalah dari duda beranak itu."


Ya.. Alex bisa menduga jika Argham seorang duda karena ia berani dengan terang terangan mengibarkan bendera perang di depannya. Itu berarti ia siap tempur melawan Alex.


Sedangkan di pinggir jalan raya, Jia dan Argham berjalan berdampingan. Argham menenteng bubur bayi yang baru saja mereka beli di toko babby store yang menyediakan khusus kebutuhan bayi, sedangkan Jia menggendong Raffa sambil sesekali mengajak Raffa bicara. Argham tersenyum senang bisa berjalan berdua bersama Jia seperti sekarang ini, entah mengapa ia merasa seperti berjalan dengan pasangannya. Hatinya terasa berbunga jika berdekatan dengan Jia. Benarkah ia menyukai Jia? Benarkah pertemuan singkat ini mampu menggetarkan hatinya? Argham masih menerima kerja perasaannya yang masih abu abu. Jika perasaannya sudah jelas, ia akan maraton mengejar cinta Jia sampai ia bisa mendapatkannya. Untuk saat ini biarkan semua berlalu sesuai alurnya.


Jia melirik Argham sekilas, ia merasa heran melihat Argham yang senyam senyum sendiri.


" Mas Argham kenapa senyam senyum sendiri begitu? Hati hati lhoh nanti Mas Argham bisa kesambet." Ucap Jia menghentikan langkah Argham.


Jia pun menghentikan langkahnya, mereka berdua berdiri berhadapan dan saling bertatapan.


" Bukan kesambet Jia, entah mengapa aku merasa bahagia berada di dekatmu, saat ini aku merasa seperti berjalan dengan pasanganku sendiri." Ucap Argham jujur.


" Kalau begitu jangan berjalan bersamaku lagi! Aku tidak mau membuatmu baper. Aku duluan!" Jia berjalan meninggalkan Argham.


Argham segera berlari menyusul Jia.


" Jia jangan seperti ini donk! Maaf aku tadi hanya bercanda. Please jangan marah!" Ucap Argham mencekal tangan Jia.


Jia menatap tangannya mrmbuat Argham melepaskan cekalannya.


" Maaf!" Ucap Argham.


" Aku maafkan! Tapi jangan bercanda seperti ini lagi! Aku tidak nyaman dengan candaanmu Mas." Sahut Jia.


" Baiklah terima kasih." Ucap Argham.


Mereka berdua kembali berjalan menuju rumah Jia yang terletak tidak jauh dari sana. Sampai di rumah Jia segera menyuapi Raffa dengan bubur yang di belinya, Argham mengekor kemanapun Jia bergerak membuat Alex menjadi kesal. Ia merasa Argham sedang menjalankan misinya mendekati Jia.


" Mam.. Mam.. Mam.. " Raffa mengunyah makanan di mulutnya sambil mengeluarkan ocehannya.


" Iya sayang, mamam yang banyak biar kamu cepat besar. Kalau udah besar besok jadi dokter." Ucap Jia.


Argham berdiri di depan Jia menatap putra tercintanya.

__ADS_1


" Uh anak Papa pintarnya, bener kata mama nih. Sepertinya besok kamu bakalan jadi dokter." Ujar Argham menoel pipi Raffa dengan gemas.


Kedekatan mereka membuat Alex memanas, Alex yang masih lemas, memaksakan dirinya untuk keluar bergabung dengan Jia dan Argham.


Dengan tertatih tatih Alex berjalan lalu duduk di kursi yang ada di teras.


" Mas kenapa kamu keluar? Badan kamu masih belum fit, mending buat tiduran saja." Ujar Jia membantu Alex duduk.


Alex melirik Argham sambil tersenyum smirk, ia merasa senang karena Jia memberikan perhatian kecil kepadanya.


" Aku bosan tiduran di dalam Jia, aku rindu suasana di luar rumah ini." Sahut Alex.


" Kamu kangen suasana luar rumah ya, kalau begitu ayo kita jalan jalan! Aku akan membantumu berjalan biar kamu sehat lagi." Ucap Argham.


" Ah tidak, tubuhku masih terasa lemas. Aku tidak bisa berjalan lebih jauh lagi atau aku akan pingsan nanti." Sahut Alex.


" Kalau pingsan nanti aku gendong." Ujar Argham.


" Nggak mau." Sahut Alex.


" Tidak bisa, Jia baru bekerja denganku. Aku tidak mengijinkannya libur. Lagian putraku tidak bisa diam kalau tidak bersama Jia." Sahut Argham.


" Kalau begitu tinggalkan saja putramu di sini, kau bisa pergi dari sini. Kenapa kau juga ada di sini? Pasti modus ya." Ucap Alex menunjuk Argham.


" Bukannya modus, tapi aku harus memastikan kalau putratu terurus di sini karena Jia juga harus mengurus bayi besar sepertimu." Sahut Argham.


" Sudah sudah jangan berdebat lagi! Pusing aku dengarnya." Sahut Jia.


" Aduh kepalaku pusing." Pekik Alex mencari perhatian Jia.


" Tuh kan masih pusing, makanya tiduran aja di dalam. Ayo aku bantu!" Ucap Jia.


" Tidak perlu, biar aku yang membantunya. Kamu tetap gendong Raffa aja." Ujar Argham.


" Baiklah." Sahut Jia.


Argham tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Alex. Ia membantu Alex berjalan menuju kamar Valle. Jia sengaja menempatkan Alex di sana agar Alex bisa tidur dengan baik. Sampai di kamar, Alex merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil milik Valle.

__ADS_1


" Jia, bisa kau pijit kakiku? Kakiku rasanya lemas." Ucap Alex menatap Jia.


" Benar benar cari perhatian nih orang, gue nggak boleh kalah." Gerutu Argham dalam hati.


" Jia, Raffa belum mandi. Kau harus memandikannya sekarang." Ucap Argham mencoba menjauhkan Jia dari Alex.


" Baiklah, kau istirahat saja dulu Mas! Aku mau memandikan Raffa lalu menidurkannya." Ujar Jia.


Lagi lagi Argham tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Alex memasang wajah cemberutnya. Beruntung tadi Argham membawa perlengkapan mandi Raffa, ia memang sengaja membawa Raffa ke sini saat Jia memberitahu alasannya meminta ijin. Ia tidak rela jika Jia kembali dekat dengan mantan suaminya. Ia menuju mobil mengambil tas berisi baju ganti Raffa lalu memberikannya kepada Jia.


Argham kembali masuk ke kamar Valle untuk mengawasi Alex, ia duduk di kursi belajar milik Valle sambil menunggu Jia selesai memandikan Raffa sambil memainkan ponselnya. Lima belas menit kemudian Jia kembali ke kamar Valle sambil menggendong Raffa yang sudah mandi.


" Anak Papa udah wangi, sekarang giliran tidur ya." Ujar Argham mengingatkan Jia. Hampir saja Jia memberikan Raffa kepada Argham dan gantian mengurus Alex.


" Jia kakiku rasanya linu semua, tolong pijat kakiku sebentar!" Ucap Alex sambil meringis kesakitan.


Memang seperti itu jika penyakit Alex kambuh, Jia bisa memahami rasa sakitnya.


" Baiklah." Sahut Jia.


" Mas tolong gendong Raffa dulu, aku pijat kaki mas Alex dulu. Kasihan dia kesakitan." Ujar Jia memberikan Raffa pada Argham.


Akhirnya mau tak mau Argham menggendong Raffa. Namun saat Jia hendak memijat kaki Alex, Raffa menangis sambil menyodorkan kedua tangannya ke arah Jia. Jia kembali berdiri lalu menggendong Raffa. Belum juga masalahnya selesai, teleponnya berdering panggilan masuk dari Wahyu. Ia mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di meja belajar Valle lalu segera mengangkatnya karena biasanya kalau Wahyu meneleponnya pasti ada hal penting yang ingin di sampaikan.


" Hallo."


" Hallo Jia, bisakah kau menolongku? Aku jatuh dari motor di jalan dekat rumahmu. Tolong bantu aku! Aku tidak bisa berjalan sampai sana." Ucap Wahyu di sebrang sana.


" Jia buruan! Kakiku sakit." Ucap Alex.


Hua.. Hua...


Tangisan Raffa kembali pecah karena Jia tidak menimangnya. Kepala Jia rasanya mau pecah, ingin sekali ia berteriak meminta mereka semua untuk diam.


" Kenapa aku harus terjebak dengan mereka bertiga."


TBC....

__ADS_1


__ADS_2