
" Mama pasti akan menerimanya Om."
Kedua orang yang sedang bersitegang menoleh ke asal suara. Valle yang baru saja pulang dari sekolahnya, memberikan senyuman termanisnya kepada mereka berdua. Ia berjalan mendekati mereka lalu duduk di sofa sebrang berhadapan dengan keduanya.
" Sayang kamu... "
" Jujur... Aku menginginkan sosok ayah sepertimu Om, kau bukan siapa siapa kami tapi kau menyayangiku seperti ayahku sendiri. Kau juga selalu memberikan perhatian kepadaku dan mama. Dan terlebih lagi, aku tidak mau di pisahkan dari Raffa." Ucap Valle memotong ucapan Jia sambil menatap Raffa.
" Aku menganggap Raffa seperti adikku sendiri. Bahkan aku sering membayangkan bagaimana betapa bahagianya kita jika bisa menjadi satu keluarga. Kalian berdua sama sama memiliki sikap penyayang, aku yakin aku dan Raffa pasti akan hidup bahagia bersama kalian. Jadi aku mohon pada Mama, terimalah om Argham sebagai papa sambungku!" Ujar Valle menatap Jia penuh harap.
Jia nampak kebingungan, ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
" Ma.. Aku tahu kalau mama tidak mencintai om Argham. Tapi mama bisa belajar mencintai om Argham setelah pernikahan kan? Memang banyak yang bilang kalau cinta di atas segalanya, tapi menurutku lebih baik di cintai daripada mencintai Ma. Dulu Mama begitu mencintai papa, tapi apa hidup Mama bahagia?" Pertanyaan Valle membuat Jia terkejut.
" Tidak kan Ma, sekarang sudah saatnya Mama bahagia. Lebih tepatnya di bahagiakan oleh om Argham." Sambung Valle seperti orang dewasa yang begitu mengerti akan artinya cinta.
Argham kembali menggenggam tangan Jia. Jia menatap wajah Argham begitupun sebaliknya.
" Mari kita bangun keluarga bahagia bersama, Jia. Menikahlah denganku demi anak anak kita. Valle bahagia bersamaku dan Raffa bahagia bersamamu. Apa lagi yang kau pikirkan hmm? Cukup ucapkan satu kata kata maka aku bisa mengerti semuanya. Kalau kamu bingung mau menjawab apa, tinggal kamu anggukkan kepalamu atau gelengkan kepalamu." Ujar Argham.
" Ya atau tidak?" Tanya Argham.
Jia menatap Valle di balas anggukkan kepala oleh Valle. Jantung Argham berdetak sangat kencang menanti jawaban dari Jia. Ia berharap Jia menganggukkan kepalanya.
Jia menatap Argham begitupun sebaliknya.
" Ya Tuhan jika ini jalan takdirku aku ikhlas menerimanya. Berikanlah kemudahan dan kebahagiaan atas keputusanku ini." Doa Jia dalam hati.
__ADS_1
" Jia... " Tekan Argham.
" Baiklah aku terima." Ucap Jia memberikan keputusan akhir.
Bagaikan di siram air es di padang pasir, hati Argham merasa sangat sejuk setelah mendengar jawaban dari Jia. Bagaikan ada ribuan bunga yang bermekaran di dalam hatinya dan bagaikan ribuan kupu kupu berterbangan di dalam sana. Benar benar merasa bahagia.
Argham dan Valle saling melempar pandangan mereka tersenyum bahagia karena rencana mereka telah berhasil.
" Semoga om Argham. bisa menepati janjinya untuk membuat mama bahagia." Batin Valle.
" Terima kasih Jia." Ucap Argham mencium punggung tangan Jia dengan lembut. Jia hanya tersenyum membalas ucapan Argham.
Argham merogoh saku jasnya, ia mengeluarkan sekotak cincin yang sudah ia siapkan jauh jauh hari. Beruntung ia selalu membawanya kemana mana untuk mengantisipasi keadaan darurat seperti sekarang ini.
" Jia dengan cincin ini aku mengikatmu sebagai calon istriku. Setelah ini kau tidak boleh dekat pria manapun selain aku. Aku pun akan melakukan hal sama, aku tidak akan dekat dekat dengan wanita lain selain kamu dan Valle. Sekali lagi terima kasih telah menerimaku sebagai suamimu Jia. Aku akan mengurus pernikahan kita secepatnya. Persiapkan saja dirimu sebaik mungkin untuk pernikahan kita nanti. Dan mulai sekarang kurangi pekerjaanmu apalagi pekerjaan yang berat. Kau hanya boleh mengurus Raffa tanpa membantu pekerjaan bibi di rumah. Aku tidak mau sampai kamu drop saat pernikahan nanti." Ucap Argham menyematkan cincin di jari manis Jia.
" Apa kau mengerti ucapanku Jia?" Tanya Argham menatap Jia yang hanya bisa diam saja.
" Iya Mas aku mengerti." Sahut Jia menganggukkan kepalanya.
" Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua, semoga lancar sampai hari H nanti dan semoga langgeng sampai maut memisahkan kalian."
" Amin." Ucap Jia dan Argham bersamaan.
" Dan setelah menikah, jangan lupa beri adik untuk aku dan Raffa."
Sontak Jia dan Argham saling melempar pandangan. Adik? Bahkan Jia tidak pernah memikirkan sampai ke sana? Baginya umur tiga puluh satu sudah terlalu tua untuk memiliki bayi lagi. Namun bagaimana jika Argham menginginkan keturunan darinya? Apa ia harus menolaknya atau menerimanya? Pikiran Jia tiba tiba melayang ke arah sana.
__ADS_1
" Jangan di pikirkan Jia! Kita jalani saja seperti air mengalir. Jika Tuhan memang menghendaki kita punya momongan, ya syukuri saja. Jika tidak, aku tidak masalah. Aku tidak akan menuntut akan hal itu. Apalagi kita sudah memiliki mereka berdua." Ucap Argham seolah tahu apa yang sedang di pikirkan Jia sambil menatap Valle dan Raffa bergantian.
" Iya Mas, terima kasih telah memahami perasaanku. Mas Argham tahu apa yang sedang aku pikirkan. Tapi sekarang aku merasa lega, aku akan menjalani takdirku dengan baik." Ucap Jia di balas senyuman oleh Argham.
Setelah itu Argham membawa Jia dan Valle pulang ke rumahnya. Sampai di rumah Jia menidurkan Raffa di dalam kamar Argham di ikuti Argham dari belakang. Saat Jia merebahkan Raffa di atas ranjang, tiba tiba Raffa bangun dan menangis. Mungkin ia sudah puas tidur dalam gendongan Jia.
Jia naik ke atas ranjang lalu memeluk Raffa sambil mengelus punggungnya. Tak lama Raffa pun terlelap kembali. Tanpa sadar Jia pun ikut terlelap di sampingnya, melihat hal itu Argham nampak menyunggingkan senyumannya. Ia menyelimuti Raffa dan Jia dengan selimut yang biasa ia pakai hingga sebatas dada. Setelah itu ia mencium kening Raffa, tiba tiba ia menatap wajah Jia lalu dengan penuh keberanian ia memindahkan ciumannya di kening Jia. Senyuman melebar di sudut bibirnya, ia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang akan Jia tunjukkan jika ia tahu Argham mencuri ciuman di keningnya. Argham keluar dari kamarnya dengan perasaan bahagia yang membuncah di dalam hatinya.
" Ehm.. Ehm... " Valle berdehem sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
Argham menoleh ke arah Valle yang ternyata sedari tadi telah memperhatikannya.
" Bahagia banget bisa meminang sang pujaan hati, Om." Ucap Valle menggoda Jia.
" Iya lah... Siapa coba yang tidak bahagia bisa mendapatkan seseorang yang di cintai. Suatu saat kamu pasti akan merasakannya." Ujar Argham.
" Tepati janji Om untuk membuat mama bahagia. Kalau Om sampai mengingkari janji maka aku akan membawa mama pergi jauh dari kehidupan Om." Ancam Valle.
" Widih... Udah pinter mengancam aja, anak siapa sih." Ucap Argham.
" Anak mama donk Om." Ucap Valle tertawa ria. Ia juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan Argham. Ia merasa Argham adalah pria terbaik dari yang terbaik di dunia ini. Ia menaruh harapan besar pada Argham untuk membuat mamanya bahagia.
Mampukan Argham menepati janjinya untuk membuat Jia bahagia? Mau bahagia apa ada konflik nih?...
Tulis di kolom koment ya..
TBC.....
__ADS_1