
Valle terus menatap Deon yang terlihat gelisah, ia dapat menangkap sikap aneh Deon dari sini. Ia merasa apa yang ia pikirkan saat ini adalah kebenaran.
" Tidak apa apa jika memang sebenarnya kau normal sepertiku, aku malah senang." Ucap Valle tidak tega menyudutkan Deon.
Deon menggenggam tangan Valle, keduanya saling menatap satu sama lain.
" Alle... Aku tidak gila, aku tidak idiot, aku normal seperti ini. Tapi entah kenapa mereka semua menganggapku idiot. Aku sedih Alle, mereka tidak mau menerimaku sebagai teman mereka. Aku normal Alle, hanya saja aku tidak bisa seperti kalian. Kata mamaku, aku seperti ini sejak kecil. Aku sering kehilangan kewarasanku jika pikiranku tertekan, tapi aku akan bersikap normal jika aku sedang senang seperti saat bersamamu seperti ini. Aku harus bagaimana Alle? Aku ingin bersikap normal seperti kalian semua. Tapi aku tidak peduli mereka semua menganggapku begitu, biarkan mereka menganggapku gila tapi aku mohon Alle, please jangan kamu! Jika kamu yang mengatakan itu..... Hatiku sakit Alle. Sangat sakit."
Deg...
Ucapan Deon membuat hati Valle mencelos. Ia tidak menyadari jika ucapannya begitu membuat Deon tersiksa, Deon merasa rendah diri dengan setiap kata kata yang Valle ucapkan. Memang benar ia tidak peduli dengan perkataan dan bullyan dari teman temannya, tapi jika Valle yang mengucapkannya rasanya begitu menusuk hati.
Valle meletakkan tangannya di atas tangan Deon.
" Aku minta maaf jika ucapanku melukai hatimu. Aku tidak akan meragukanmu lagi, bagiku apapun kondisimu kau tetap temanku. Aku akan selalu ada untukmu, maafkan aku!" Ucap Valle.
" Apa Alle berjanji?" Tanya Deon memastikan.
" Iya aku janji, kita akan jadi sahabat selamanya." Sahut Valle melingkarkan jari kelingkingnya ke kelingking Deon.
" Terima kasih Alle, kau memang yang terbaik." Ucap Deon. Valle menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah sekarang jangan bersedih lagi, lupakan apa yang aku katakan! Sekarang kita... " Belum juga Valle melanjutkan ucapannya tiba tiba tangannya di tarik oleh Arfan. Teman beda kelas yang menyukainya.
" Lepasin!" Valle menyentak kasar tangan Arfan membuat pegangannya terlepas.
" Apa apaan sih kamu, kenapa kamu main tarik tarik tangan aku hah?" Valle benar benar emosi menatap Arfan.
" Aku tidak suka kamu dekat dekat dengan cowok idiot sepertinya." Arkan menunjui Deon.
__ADS_1
" Memangnya kamu siapa aku sampai melarang aku seperti itu? Kita bukan siapa-siapa ya." Ujar Valle.
" Untuk itu jadilah pacarku. Jangan menolak ku lagi!" Ujar Arfan.
" Pacar pacar... Kita itu masih kecil, kewajiban kita belajar bukan pacaran. Aku nggak mau pacar pacaran dulu, aku mau fokus sekolah terus kerja. Kalau udah bisa nyenengin orang tua, baru aku cari pacar terus langsung menikah." Ketus Valle. Deon menyembunyikan senyumannya mendengar ucapan Valle.
" Aku tidak peduli, sekarang lebih baik kau ikut aku!" Arfan menarik paksa tangan Valle membuat Valle memberontak.
" Arfan lepaskan aku! Arfan!!! Tanganku sakit Fan." Valle terus berteriak. Hal itu membuat Deon marah, ia berlari mengejar keduanya lalu menarik pundak Arfan dan...
Bugh... Bugh...
Deon memukul wajah Arfan hingga tersungkur di trotoar. Valle tercengang melihat kejadian itu. Ia tidak menyangka jika Deon bisa melakukan hal se anarkis ini.
" Deon cukup!"
Tidak mau masalah semakin melebar, Valle menarik tangan Deon lalu mengajaknya menjauh dari Arfan. Arfan mengepalkan erat tangannya menatap kepergian mereka berdua.
Valle terus berjalan sambil menggandeng tangan Deon, hingga mobil sopir Deon terlihat mendekat ke arah mereka.
" Sopir kamu sudah sampai, kau pulanglah!" Ucap Valle menatap Deon.
" Alle harus ikut pulang, Arfan jahat. Pasti Arfan akan mencelakai Alle." Ucap Deon menatap Valle.
Valle tersenyum sambil menepuk bahu Deon.
" Jangan khawatir! Pak Lukman akan segera sampai, aku bisa jaga diri. Sampai rumah, kompres lebam di bibirmu dan juga tanganmu. Aku minta maaf atas sikap papaku kepadamu." Ucap Valle.
Deon menatap Valle dalam diam. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
Pak sopir turun dari mobil menghampiri mereka berdua.
" Maaf merepotkan Nona." Sopir Deon yang bernama pak Hans membungkukkan badannya memberi hormat pada Valle.
" Tidak juga Pak." Sahut Valle sopan.
" Kalau begitu kami pulang dulu Nona, sekali lagi terima kasih." Ucapnya.
" Sama sama Pak." Sahut Valle.
Deon masuk ke dalam mobil, pak sopir mulai melajukan mobilnya meninggalkan Valle. Deon melambaikan tangannya ke arah Valle di balas Valle dengan lambaian dan senyuman. Tak lama pak Lukman datang menjemputnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam yang dingin serta angin semilir merasuk ke dalam sendi sendi membuat orang orang lebih memilih bergelung di bawah selimut tebalnya. Namun tidak bagi Jia, ia malah merasakan kebalikannya. Tubuhnya berkeringat saat Argham mencium bibirnya dengan lembut, tangannya bergerilya seolah sedang menghafal setiap lekuk tubuh Jia yang nampak indah menurutnya.
Jia merasa gugup, jantungnya terdengar berdegup dengan kencang. Ia bisa menafsirkan apa yang akan terjadi kepadanya dan Argham malam ini. Apalagi sepertinya tidak akan ada gangguan yang datang, Raffa dan Valle sudah tidur dengan nyenyak sejak tadi. Argham ******* bibir Jia, sesekali ia menggigit pelan bibir Jia karena merasa gemas. Lidahnya menyapu seisi mulut Jia dengan lihai. Tiba tiba...
" Shhhh... " Suara ******* lolos begitu saja dari bibir Jia saat Argham meremas salah satu gundukan kembarnya. Menyadari hal itu, Jia menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara itu lagi.
Argham mendorong tubuh Jia dengan pelan di atas ranjang, ciumannya kini turun ke leher. Ia mencetak beberapa stempel merah pada leher Jia yang putih bersih. Jiwa Jia semakin menggila saat Argham memainkan lidahnya di sana. Perlahan Argham melepas tali spageti pada gaun yang Jia kenakan hingga menampakan bahu mulus milik Jia. Hal itu membuat junior Argham semakin ingin bangun dari tidurnya.
" Aku datang sayang." Bisik Argham dengan suara parau. Jia menganggukkan kepalanya. Tanpa membuang waktu Argham segera meluncurkan senjatanya.
Argham mulai memacu tubuhnya dengan pelan, ia menyentuh Jia dengan lembut membuat Jia begitu terbuai dengan sentuhannya. Suara ******* lolos begitu saja dari bibir Jia, yang awalnya Jia masih malu malu kini sudah tidak lagi. Bahkan suara ******* dan erangannya terdengar saling sahut sahutan dengan suara Argham. Keduanya menikmati malam pertama yang tertunda dengan begitu indah.
Malam ini akan menjadi moment yang tidak akan pernah terlupakan oleh sepasang pengantin baru yang baru memadu kasih. Keduanya terbang ke atas nirwana menggapai puncak surga dunia. Jia merasa bahagia bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri begitupun dengan Argham. Ia merasa telah menjadi suami yang sempurna.
Author coba ketik lebih detail pas kegiatan malam pertamanya semalam, tapi baru saja di tolak oleh editor.. Jadi kalau mau yang hot hot bayangin sendiri aja ya...
__ADS_1
Jangan lupa like koment dan votenya.. Terima kasih... Miss U All...
TBC....