HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
PUTRIKU MALAIKATKU


__ADS_3

Bagai berlayar dan terombang ambing di tengah tengah lautan, pikiran Jia benar benar kacau saat ini. Ia sudah menghubungi semua teman temannya dan teman teman Argham untuk membantu mencari pendonor darah yang cocok untuk Argham, namun tidak ada satu pun yang mendapatkannya. Bahkan Jia tidak segan segan meminta bantuan Wahyu, namun tidak jauh dari yang lainnya. Wahyu gagal mendapatkan pendonor karena selain golongan darah yang langka, waktunya juga terlalu singkat. Argham membutih pendonor kurang dari satu jam, jika sampai terlambat maka nyawa akan jadi taruhannya.


Harapan satu satunya adalah Alex, Jia sudah berusaha menghubungi Alex, namun saat Jia menelepon dan meminta bantuannya, Alex justru memberikan syarat yang tidak mungkin Jia penuhi.


Aku akan membantu menyelamatkan suami barumu, tapi setelah itu kembalilah padaku. Jika kau tidak mau, aku punya pilihan kedua. Biarkan Valle hidup bersamaku selamanya.


Kata kata Alex terus terngiang di telinga Jia. Ia merasa frustasi dengan keadaan yang menurutnya begitu mencekik leher ini. Nafasnya terasa tercekat, dadanya terasa sesak, bahkan ia merasa sangat kesulitan untuk bernafas. Kembali kepada Alex rasanya tidak mungkin, tapi menyerahkan Valle kepada Alex rasanya juga tidak memungkinkan. Mana mungkin ia rela membiarkan Valle bersama Alex sedangkan Alex bukan sosok ayah yang penyayang bagi Valle.


Manusi biasa seperti Jia pada akhirnya akan mengeluh jika merasa semua jalan telah tertutup rapat untuknya. Kenapa ia harus di hadapkan dalam posisi sulit seperti ini? Kenapa ia harus memilih antara anak dan suaminya, sedangkan ia tahu kebahagiaan mereka berdua ada bersamanya.


Jia benar benar di landa kebingungan, ingin rasanya ia meraung mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya namun ia cukup malu untuk melakukan semua itu. Ia tidak bisa menggambarkan apa yang terjadi padanya saat ini. Ingin berbagi duka namun dengan siapa? Dengan Wahyu? Ia tidak mau membebani Wahyu apalagi Wahyu sedang sakit saat ini. Dengan Valle?Ia bahkan tidak memberitahu Valle tentang kecelakaan yang menimpa Argham.


" Hiks... Ya Tuhan.. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Di dalam sana suamiku sedang berjuang melawan maut sambil menunggu aku menyelamatkannya, tapi di sini aku justru tidak punya jawaban untuk semua itu. Hiks... " Tubuh Jia luruh ke lantai meratapi nasibnya. Nasib yang saat ini sedang mempermainkannya


Tap tap tap...


Derap langkah kaki terdengar mendekatinya, Jia bisa merasakan pemilik langkah itu saat ini berhenti di belakangnya. Tapi siapa?


" Biarkan aku bersama papa Alex, Ma."


Jia sangat terkejut mendengar suara sang putri tercinta. Sontak Jia menoleh ke belakang menatap Valle yang saat ini berdiri sambil menatapnya. Melihat ibunya berurai air mata, Valle langsung berjongkok lalu memeluk Jia dengan erat. Ia tak kuasa melihat ibunya terpuruk seperti sekarang ini.

__ADS_1


" Kuatlah Ma! Jangan lemah seperti ini! Papa sangat membutuhkan pertolongan Mama." Ucap Jia mengelus punggung Jia.


" Hiks Valle.. " Mereka berdua terisak dalam satu pelukan.


Setelah sedikit merasa tenang, Jia melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya lalu menatap Valle dengan tatapan menyelidik. Banyak pertanyaan di dalam pikirannya, bagaimana Valle bisa sampai di sini? Dan siapa yang memberitahunya tentang masalah ini?


Sadar dengan tatapan ibunya yang seolah meminta penjelasan, Valle segera memberitahu Jia jika Alex tadi meneleponnya dan memberitahu apa yang terjadi pada Argham termasuk syarat yang ia ajukan kepada Jia. Jia nampak terkejut, Alex telah mengindahkan larangannya. Padahal Jia sudah mewanti wanti Alex agar tidak melibatkan Valle dalam masalah ini, Jia akan mencari solusi dan menangani masalah ini sendiri.


" Ma." Valle menggenggam tangan Jia. Keduanya saling melempar tatapan sama satu lain.


" Papa Argham sangat membutuhkan darah papa Alex, jika mama memilih syarat pertama itu sama saja mama tidak menyelamatkan papa, tapi justru membunuhnya. Tidak ada gunanya papa selamat jika tidak bisa hidup bersama mama setelahnya. Papa pasti lebih memilih mati daripada merasakan sakit melihat mama kembali bersama papa Alex."


Jia menghela nafasnya panjang. Memang benar apa yang di ucapkan oleh Valle. Lalu ia harus bagaimana?


" Papa Alex pasti sudah bisa menebak jika mama tidak akan memilih kembali padanya, itu sebabnya papa membuat syarat kedua. Papa tahu kalau mama tidak bisa hidup jauh dariku, tujuannya sebenarnya sama. Sama sama menginginkan mama kembali padanya, jika aku hidup bersama papa otomatis mama dan papa bisa kembali dekat karena kalian pasti akan sering bertemu. Dan itu akan membuat keinginan untuk kalian kembali bersatu akan muncul di dalam hatiku. Dengan begitu satu kali dayung, dua pulau terlampaui. Papa bisa mendapatkan kita berdua tanpa bergerak lebih jauh karena mama akan mendekat sendiri ke arahnya." Ujar Valle.


Jujur... Jia semakin tidak mengerti dengan maksud Valle, pikirannya benar benar tidak bisa di ajak bekerja sama lagi.


" Jika aku bersama papa Alex, setidaknya mama bisa menyelamatkan papa Argham dan mengurusnya sampai sembuh. Setelah papa sembuh, aku yakin papa pasti akan merebutku kembali dari papa Alex. Hal itu lebih mudah di lakukan daripada merebut mama dari papa Alex. Mama paham kan maksud Valle?" Tanya Valle memastikan.


Jia menganggukkan kepalanya, ia menyimpulkan jika Valle sedang menyusun strategi saat ini. Ia ingin menyelamatkan Argham tapi ia juga ingin tetap bersamanya dan Argham. Jia tersenyum menyadari kepandaian anaknya satu ini. Bak malaikat yang datang, Valle benar benar mampu menyelesaikan masalah Jia saat ini.

__ADS_1


Valle menyunggingkan senyumannya melihat senyuman di wajah ibunya.


" Jadi sekarang mama tidak perlu khawatir! Telepon papa Alex dan katakan padanya jika mama menerima syarat kedua. Aku siap jika papa Alex mau menjemputku kapan saja Ma." Ujar Valle. menyentuh bahu Jia.


" Terima kasih sayang, kau bukan hanya menyelamatkan hidup papa Argham tapi juga hidup mama. Kau rela berkorban sebesar ini demi kebahagiaan kami sayang. Mama janji, mama dan papa akan menjemputmu suatu hari nanti. Maafkan mama yang telah mengorbankanmu demi suami mama." Ucap Jia.


" Dia papaku Ma, apapun akan aku lakukan untuknya. Mungkin ini jalan yang Tuhan tunjukkan agar aku menjadi anak yang berbakti. Papa sangat menyayangiku begitupun denganku. Bagiku dia adalah papa kandungku." Ucap Valle.


Jia kembali memeluk putrinya, kali dengan perasaan haru dan bahagia. Ia bahagia setidaknya masalahnya terselesaikan saat ini, untuk masalah perebutan Valle akan ia pikirkan nanti. Yang jelas saat ini ia lebih memikirkan keselamatan Argham. Jia yakin Alex mampu mengurus Valle dengan baik, karena bagaimanapun ia ayah kandungnya.


Jia segera menelepon Alex dan mengatakan keputusannya. Alex sedikit kecewa namun ia tetap bersyukur setidaknya ia bisa kembali dekat dengan putrinya. Masalah Jia ia akan memikirkannya nanti.


Satu jam berlalu, Alex telah memasuki ruang ICU bersama dengan Argham untuk melakukan transfusi darah. Valle dan Jia melihatnya dari lingkaran kaca yang ada pada pintu. Argham nampak terbaring lemah di atas ranjang dengan beberapa alat medis menempel pada tubuhnya. Darah mengalir dari kantong yang tergantung pada tiang infus menuju tubuh Argham melalui selang kecil yang tertancap di pergelangan tangannya. Di ranjang samping, nampak Alex berbaring sambil menatap Jia dari balik kaca.


" Semoga cara ini jalan kita menuju kebersamaan Jia. Aku belum ikhlas merelakan kepergianmu dari dalam hidupku. Aku yakin suatu hari nanti kita pasti bisa bersama kembali." Gumam Alex dalam hati.


Ada harapan besar di tengah tengah kebaikan Alex saat ini.


" Ya Tuhan selamatkan suamiku, agar kami bisa mengambil Valle dari Mas Alex suatu saat nanti." Ujar Jia dalam hati.


" Berjuanglah pa, dan segera jemput aku setelah papa sembuh nanti. Jujur aku tidak bisa hidup jauh dari kalian, tapi demi papa apapun akan aku lakukan. Aku yakin Tuhan akan mempersatukan kita lagi dalam kebahagiaan." Batin Valle.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2