
Sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi dari arah lawan, sedangkan mobil Argham berada di tengah badan jalan saat ini, karena Argham tidak fokus mengemudi ia tidak menyadari dimana posisi mobilnya.
" Awas Mas!!!" Teriak Jia.
Argham langsung menatap ke depan, dengan sigap ia membanting stir ke kiri dan menginjak rem hingga...
Ckiiitttt...
Mobil berhenti mendadak di tepi jalan. Sontak tubuh keduanya terhuyung ke depan, Argham langsung menempelkan tangan kirinya pada kening Jia agar Jia tidak terpentok dashboard.
" Owh astaga... Ya Tuhan alhamdulillah kami selamat." Jia mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdebar sangat kencang. Ia berpikir akan kehilangan nyawanya malam ini. Beruntung Argham seorang pengemudi yang handal hingga tidak terjadi sesuatu kepada mereka berdua.
" Maaf hampir membuatmu celaka." Ucap Argham menatap Jia.
" Bukan hanya aku saja yang akan celaka Mas, tapi kamu juga. Bagaimana dengan anak anak kita kalau terjadi sesuatu dengan kita Mas? Mereka akan menjadi yatim piatu. Lain kali kalau sedang mengemudi fokus ke depan, jangan malah liatin ke samping. Jantungku hampir copot rasanya, aku sudah berpikiran yang tidak tidak tentang keselamatan kita." Baru kali ini Jia mengeluarkan omelannya seperti seorang istri memarahi suaminya dengan panjang lebar.
Bukannya marah atau bagaimana, Argham malah menyunggingkan senyumannya menatap Jia. Ia merasa senang dengan sikap Jia yang terlihat tidak canggung lagi kepadanya. Itu artinya Jia mulai membuka hati untuknya. Apalagi saat Jia mengatakan anak kita, hatinya benar benar merasa damai.
" Kenapa malah senyam senyum gitu sih Mas? Emangnya Mas Argham tidak khawatir apa?" Ujar Jia merasa kesal dengan sikap Argham yang nampak tenang tenang saja. Padahal ia sudah panik minta ampun.
" Aku tidak akan merasa khawatir ataupun takut bila berada di dekatmu Jia. Aku justru merasa tenang, nyaman berada di dekatmu walaupun apapun yang terjadi. Bahkan jika maut tepat di depan mataku." Sahut Argham.
" Sttt!!!" Jia meletakkan telunjuknya pada bibir Argham tanpa sadar membuat Argham terkejut.
" Jangan pernah berbicara tentang mau Mas, entah mengapa hatiku rasanya tidak nyaman. Aku merasa tidak rela kehilanganmu." Entah sadar atau tidak, Jia mengatakan hal seperti itu. Hati Argham menjadi berbunga bunga seperti ada ribuan kupu kupu yang berterbangan.
Argham menggenggam tangan Jia lalu mengecupnya.
" Untuk itu selalu berada di dekatku Jia, jangan pernah tinggalkan aku atau aku akan kehilangan arah hidupku. Berjanjilah padaku untuk selalu bersamaku selamanya." Ucap Argham menatap Jia.
__ADS_1
Jia menghirup udara sebanyak banyaknya lalu menghembuskanya dengan pelan.
" Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu Mas karena apa yang akan terjadi ke depannya aku tidak tahu. Yang jelas aku akan mendampingi Mas Argham sesuai kemampuanku. Aku akan menjaga kesetiaanku pada Mas Argham. Aku belajar dari hubunganku dengan Alex, dulu kami saling berjanji untuk setia sampai mati tapi pada kenyataannya kami berpisah saat kami masih bisa bernafas. Sejak saat itu aku berniat untuk tidak menjanjikan apapun pada siapapun." Ujar Jia menghembuskan kasar nafasnya.
" Baiklah tidak apa, aku tidak akan menuntut apa apa darimu. Yang aku inginkan hanya kamu yang menjadi pendamping hidupku, sampai kapan pun itu biarlah waktu yang menjawabnya. Terima kasih telah menerimaku dan putraku menjadi bagian dari hidupmu." Ujar Argham.
" Aku juga berterima kasih padamu Mas. Semoga kita akan menjadi keluarga yang bahagia sampai akhir hayat memisahkan kita. Semoga tidak ada rintangan yang berarti dalam pernikahan kita seperti pernikahanku sebelumnya." Ucap Jia. Argham menganggukkan kepalanya.
" Jia sebelum kita menikah, aku ingin kau tahu tentang masa laluku. Siapa ibu dari Raffa dan bagaimana peringainya, agar kau tahu alasan aku bisa jatuh cinta padamu." Ucapan Argham membuat Jia sedikit terkejut. Seistimewa itukah dirinya untuk Argham? Hingga Argham mau memberitahu Jia tentang masa lalu yang cukup lama terpendam? Pikir Jia.
Argham berpikir Jia harus tahu tentang semua masa lalunya. Ia tidak mau jika masa lalunya akan menjadi boomerang untuk masa depannya.
" Namanya Alena, dia....." Argham menceritakan tentang sosok mantan istrinya kepada calon istrinya.
Pertemuan pertama Argham dan Alena adalah pada saat Alena ingin menyewa mobil untuk keluarganya pulang kampung. Alena nampak tertarik dengan Argham hingga setelah itu ia terus mengejar Argham dan berhasil mendapatkan cintanya. Mereka menjalin hubungan selama beberapa tahun hingga akhirnya mereka menikah.
Di awal pernikahan mereka nampak bahagia, namun di tengah tengah pernikahan masalah mulai muncul yang di sebabkan oleh keluarga Lora. Sampai pada Alena memilih meninggalkan Argham hingga ia tiada.
" Setelah kau tahu bagaimana perempuan yang telah melahirkan Raffa, apa kau masih mau menjadi ibunya? Apa kau masih mau menikahku denganku? Aku harap kamu tidak akan mengubah keputusanmu." Ujar Argham.
" Tidak."
Argham langsung menatap Jia dengan tatapan kecewa. Memang inilah konsekuensi yang harus ia tanggung karena telah memberitahu Jia yang sebenarnya. Wanita mana yang mau menjadi ibu dari anak seorang j@l@ng? Mereka akan berpikir dua hingga tiga kali untuk membesarkannya.
" Tidak masalah Jia, aku menghargai keputusanmu." Ucap Argham.
" Iya memang tidak masalah, keputusanku sudah benar kan?" Ujar Jia.
" Iya, walaupun keputusanmu menghancurkan hidupku." Sahut Argham.
__ADS_1
" Menghancurkan gimana? Bukankah keputusanku membuat Mas Argham bahagia?"
Argham menatap Jia sambil mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu?" Tanya Argham.
" Berpisah darimu bukanlah hal yang baik untukku, lalu bagaimana kau bisa berkata seperti itu." Sambung Argham.
" Aku juga bukan wanita baik Mas, aku yakin Alena punya alasan untuk melakukan semua hal itu. Jadi aku tidak masalah dengan masa lalunya. Aku tidak keberatan menjadi ibu dari anaknya, bukankah Raffa suci? Dia tidak membawa dosa ibunya kan? Lalu untuk apa aku mempermasalahkannya?" Ucap Jia.
Argham tersenyum saat menyadari jika Jia telah membodohinya.
" kau sengaja membodohiku?" Tanya Argham menatap manik hitam kecoklatan milik Jia.
" Mas Argham saja yang bodoh, langsung mengambil kesimpulan dengan terburu buru. Jadi bukan salahku." Sahut Jia.
" Nakal kamu ya." Argham menggelitik perut Jia.
" Mas hentikan! Kalau ada yang lihat di kira kita ngapa ngapain. Entar kita di gerebek warga malah repot." Argham langsung menghentikan tingkahnya saat mendengar ucapan Jia.
" Baiklah, kita ngapa ngapain nya setelah menikah saja." Ucap Argham mengerlingkan sebelah matanya.
" Genit." Cibir Jia.
" Nggak apa apa sama calon istri sendiri." Sahut Argham.
" Aku jadi tidak sabar menunggu hari pernikahan kita tiba. Aku akan memberimu pelajaran di saat malam pertama kita." Ucap Argham membuat Jia bergidik ngeri.
" Aku akan tidur dengan Raffa dan Valle." Sahut Jia.
__ADS_1
" Coba aja kalau bisa." Ucap Argham, a kembali melajukan mobilnya menuju rumahnya. Jia melongo mendengar ucapan Argham. Ingin sekali ia berdebat dengan Argham namun ia mencoba mengendalikan dirinya.
TBC....