HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
PDKT TOMI


__ADS_3

Setelah capek mengobrol ke sana kemari, kini tiba saatnya mereka makan siang bersama. Ya.. Mereka sampai melewatkan jam makan siang karena asyik mengobrol. Selama mengobrol tadi Tomi tidak henti hentinya menatap Valle, kecantikan dan kepolosan Valle semakin membuatnya tergila gila.


" Gila... Kenapa hati gue berdesir setiap kali melihatnya? Benarkah hati ini memilih bocil seperti Valle sebagai pemiliknya? Selama ini gue tidak pernah merasakan debaran jantung sehebat ini walaupun gue dekat dengan para perempuan. Padahal perempuan di club bodinya aduhai, tapi tidak ada satu pun yang bisa menggetarkan hati gue." Batin Tomi tidak percaya dengan perasaannya sendiri.


Seperti yang Argham katakan jika Tomi memang pemabuk berat, di antara mereka Tomi lah yang paling handal dalam urusan minum meminum alkohol. Namun sebejat apapun kelakuan Tomi, ia tidak pernah bermain wanita. Hatinya selalu bersih dari urusan begitu begituan. Ia sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya urusan ranjang meskipun usianya sudah matang. Bukan karena tidak normal, tapi ia sangat menjaga dirinya dengan baik. Ia hanya akan memberikan tubuhnya untuk wanita yang akan menjadi istrinya nanti.


Mereka semua duduk di meja makan sambil menyantap makanan masing masing, tapi tidak dengan Tomi. Entah mengapa setiap gerakan Valle terlihat begitu indah di matanya hingga ia mengacuhkan makanan di depannya.


" Makan Tom! Jangan cuma lihatin Valle mulu'" Ujar Eko menepuk lengan Tomi.


Valle yang merasa namanya di sebut pun menoleh ke arah mereka berdua, sialnya manik matanya malah bersibobrok tepat dengan manik mata Tomi.


Glek...


Di tatap seperti itu oleh Tomi membuat Valle merasa gugup. Ia menelan salivanya dengan kasar. Jantungnya benar benar merasa deg deg an. Namun entah mengapa ia tidak bisa memalingkan wajahnya dari wajah Tomi. Ia justru terus menatap lekat mata Tomi tanpa berkedip. Jia dan Argham yang melihatnya saling melempar tatapan. Argham memejamkan matanya sambil menganggukkan kepala seolah berkata jangan khawatir untuk menenangkan hati Jia. Entah kekhawatiran apa yang sedang Jia rasakan saat ini, hanya ia yang tahu.


" Ehm ehm."


Deheman Wahyu menyadarkan kedua insan berbeda generasi yang sedang saling melempar pandangan itu dari lamunannya. Valle jadi salah tingkah, ia membuang pandangannya ke sembarang arah sedangkan Tomi menyunggingkan senyumannya melihat Valle yang salah tingkah seperti itu, terasa begitu unyuk di mata Tomi.


" Benar benar tuh om om ya, bisa bisanya dia bikin gue terhipnotis dengan pesonanya. Ya Tuhan... Malu banget gue ketahuan memandangi om Tomi." Ujar Valle dalam hatinya. Ia kembali melanjutkan acara makannya tanpa menoleh kemanapun karena takut menatap mata Tomi lagi.


Setelah selesai makan, Argham dan Jia kembali ke kamarnya untuk istirahat, sedangkan yang lain duduk di gazebo taman belakang. Lalu kemana Valle? Ia memilih ke kamar Raffa dan bermain dengannya sehingga bi Ijah bisa melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena menjaga Raffa.


" Duh adeknya kak Valle udah besar nih, baru di tinggal satu minggu aja pipinya udah tambah gembul gini hm.. " Valle menciumi pipi Raffa dengan gemas. Ia menggendong Raffa sambil sesekali mengangkatnya ke atas. Tak jarang ia mencium perut Raffa membuat Raffa tertawa terbahak bahak.


" A ha.. ha.. ha... " Entah mengapa Valle sangat menyukai tawa Raffa yang begitu indah menurutnya di banding tangisannya.


" Ka.. Ka.. Ka.. " Raffa berceloteh seolah memanggil Valle. Ia sangat senang mengusap usap wajah Valle seolah menemukan mainan kesayangannya.


" Kenapa hmm? Suka banget pegang wajah Kakak. Kakak cantik ya, kamu iri ya dengan kecantikan Kakak ini hmm." Valle menoel pipi Raffa.


" Kita jalan jalan yuk ke taman belakang." Valle membawa Raffa keluar dari kamarnya.


Valle berjalan menuju taman belakang, ia tidak tahu jika teman teman Argham berada di sana termasuk Tomi. Valle berjalan sambil menyanyikan lagu untuk menimang Raffa. Dari kejauhan suaranya sudah terdengar ke telinga Tomi membuat Tomi meminta yang lainnya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


" Lo mau pdkt sama Valle Tom?" Tanya Adnan.


" Iya, udah sana pergi! Jangan ganggu gue, gue mau memulai usaha gue buat dapetin Valle." Sahut Tomi tanpa malu.


" Bener bener pedofil lo." Cibir Eko.


" Selisih umur kami tidak banyak bro, cuma beda empat belas tahun. Lagian sekarang lagi viral hubungan beda usia kan? Jadi sah sah aja usaha gue. Udah sana pada pergi keburu Valle sampai sini." Tomi mendorong teman temannya.


Beruntung ada pintu yang menghubungkan taman belakang dengan jalan setapak di samping rumah Argham hingga mereka tidak melalui pintu depan yang harus berpapasan dengan Valle.


Melihat Valle semakin mendekat, Tomi bersembunyi di belakang gazebo sambil berjongkok hingga Valle tidak menyadari jika ada orang di sana. Valle berjalan mendekat gazebo sambil terus bernyanyi, ia menyanyikan lagu anak anak berjudul kan cicak cicak di dinding.


" Nah udah sampai, Raffa duduk di sini Kakak jagain ya." Valle duduk di atas gasebo lalu menurunkan Raffa di depannya.


" Adem banget di sini Dek, enaknya kita ngapain ya?" Valle nampak sedikit berpikir.


" Ah iya Kakak lupa bawa mainan buat kamu Dek." Ujar Valle menyadari kebodohannya.


Mendengar ucapan Valle merupakan kesempatan bagi Tomi untuk keluar dari persembunyiannya.


Valle berjingkrak kaget saat mendengar ucapan Tomi.


" Astaga Om, Om mengagetkan aku saja." Valle menyentuh dadanya sendiri.


" Maaf." Ucap Tomi mendekati Valle.


" Apa yang bisa aku bantu?" Sambung Tomi menatap Valle setelah berdiri di hadapannya.


" Tolong ambilkan mainan Raffa di kamar ya Om!" Ujar Valle tanpa sungkan.


" Oke siap, aku ambilkan dulu." Sahut Tomi berbalik badan.


" Om, jangan lupa cuci tangan dulu sebelum menyentuh mainannya." Ucap Valle menghentikan langkah Tomi.


" Oke." Sahut Tomi menatap Valle. Ia kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


" Tolong sekalian bawakan tisu basahnya."


Tomi menghentikan langkah kakinya sambil menghela nafasnya pelan. Ia membalikkan badannya menghadap Valle. Valle nampak nyengir kuda memamerkan deretan giginya yang rata.


" Oke sayang, apa ada lagi yang harus aku ambilkan untukmu?" Tanya Tomi dengan nada mesra seolah sedang berbicara dengan sang kekasih.


" Jangan panggil sayang donk Om, nanti aku di labrak sama pacar Om kan bisa gawat." Ujar Valle sedikit mengejek Tomi. Ia tahu kalau Tomi tidak punya pacar ataupun sedang dekat dengan wanita.


Mendengar ucapan Valle, Tomi berjalan menghampiri Valle. Ia merasa harus meluruskan kesalah pahaman ini kepada Valle. Ia tidak mau Valle merasa ia sedang mempermainkannya.


" Dengarkan aku Valle!" Ucap Tomi menatap Valle dengan lekat.


" Aku tidak punya pacar, ataupun sedang dekat dengan seorang wanita. Apa yang tadi aku ucapkan itu serius Valle, entah mengapa hatiku berdesir saat dekat denganmu. Sepertinya aku jatuh cinta padamu." Ucap Tomi mengerlingkan sebelah matanya.


" Beneran sedang tidak dekat dengan siapapun?" Tomi tersenyum senang mendapat pertanyaan seperti itu dari Valle. Ia merasa Valle sedang cemburu padanya.


" Iya benar." Sahut Tomi mantap sambil menganggukkan kepala.


" Lalu siapa yang membuat tanda di leher Om sampai berwarna hitam begitu?"


Tomi melongo mendengar ucapan Valle. Ia meraba lehernya sendiri.


" Sial!! " Umpat Tomi dalam hati saat menyadari bekas kissmark yang wanita club tinggalkan semalam.


" Valle kamu jangan salah paham! Ini.. Ini.. " Tomi bingung bagaimana menjelaskannya kepada gadis cilik seperti Valle.


" Sudahlah Om tidak masalah! Itu urusan orang dewasa, aku tidak mau ikut campur." Ujar Valle membuat Tomi lega.


" Baiklah, aku ambilkan mainannya dulu." Tomi berbalik badan melangkah menjauh dari Valle sampai ucapan Valle membuatnya kembali menghentikan langkah.


" Aku tidak suka dengan pria yang suka melakukan itu dengan para wanitanya Om."


Nah loh...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2