HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
TIDAK FOKUS KARENAMU


__ADS_3

Argham menatap keduanya dengan tajam. Seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh, jantung Jia berdetak sangat kencang. Ia takut Argham akan marah padanya karena telah menemui laki laki lain di belakangnya. Walaupun notabene nya Wahyu adalah sahabatnya, namun dia tetap seorang pria.


" Sedang apa kalian di sini hmm? Apa kalian sedang menjalin hubungan di belakangku?" Pertanyaan Argham membuat Wahyu dan Jia saling menatap. Ingin sekali mereka mengatakan yang sebenarnya ataupun sekedar berkilah, namun lidah merek nampak kelu.


Tiba tiba Argham tertawa lepas sambil memegangi perutnya. Wahyu dan Jia nampak terkejut melihatnya. Yang paling terkejut adalah Wahyu, selama ia menjadi teman Argham, tidak pernah ia melihat Argham bisa tertawa seperti sekarang ini.


" Wajah kalian nampak lucu sekali, kenapa harus tegang seperti ini hmm?" Ujar Argham. Kedua insan di depannya menghela nafasnya lega. Mereka berpikir Argham seserius itu tapi pada kenyataannya ia hanya bercanda saja.


" Aku hanya bercanda saja, jangan di anggap serius!" Ucap Argham.


" Siapa lo." Wahyu meninju lengan Argham.


" Gue kira lo seserius ini Gham, nggak tahunya malah bercanda." Sambung Wahyu.


" Tapi kenapa kalian di sini? Berduaan lagi? Aku jadi benar benar kepo." Ujar Argham.


" Gue mau ngucapin selamat buat Jia, dan mau memastikan kalau Jia menerima lo karena cinta dan tanpa paksaan." Sahut Wahyu.


" Terus jawabannya apa?" Tanya Argham.


Wahyu menatap Jia begitupun sebaliknya, dapat Jia lihat ada kesakitan di mata Wahyu. Sakit karena memendam perasaan untuknya.


" Jia menerimamu karena baginya kamulah yang terbaik untuknya." Sahut Wahyu menahan luka di dalam hatinya.


" Kalau begitu aku permisi dulu, sekali lagi selamat untuk kalian berdua. Aku pasti datang ke acara pernikahan kalian. Aku pergi." Wahyu menepuk bahu Argham lalu berlalu meninggalkan Argham dan Jia.


" Aku juga mau pulang Mas, selamat malam!" Ucap Jia melewati tubuh Argham begitu saja.


Grep...


Argham mencekal tangan Jia membuat Jia menghentikan langkahnya.


" Temani aku bertemu clientku. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka sebagai calon istriku." Ucap Argham.


" Tapi Mas aku malu, aku mau pulang saja. Valle pasti sudah menunggu." Ujar Jia mencoba menolaknya. Jujur.. Ia masih sungkan berada di lingkup kehidupan Argham. Walaupun bukan CEO perusahaan besar namun ia punya banyak mitra kerja untuk mengembangkan bisnis shorumnya.

__ADS_1


" Kenapa mesti malu Jia, kamu baju. Kamu juga cantik, apalagi yang bikin kamu meras malu hmm?" Tanya Argham merapikan anak rambut yang menutupi wajah Jia.


" A.. Aku.." Jia bertambah gugup dengan apa yang Argham lakukan padanya.


" Valle menungguku." Sahut Jia.


" Valle ada di rumah, Mas menjemputnya barusan. Kasihan dia di tinggal kencan sendirian di rumah." Ucap Argham.


Jia melongo mendengar ucapan Argham.


" Mas aku nggak kencan, aku hanya memenuhi undangan Wahyu untuk makan malam bersama. Dia bilang untuk merayakan hari jadi kita." Kilah Jia berbohong. Sebenarnya ia tidak nyaman jika harus berbohong seperti ini pada Argham, namun ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya demi menjaga perasaan Argham dan pertemanan mereka. Lagian hubungannya dengan Wahyu sudah lama berakhir, jadi pertemuannya dengan Wahyu tidak bisa di artikan kencan lagi.


" Iya aku percaya padamu. Lagian mana mungkin seorang sahabat menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri." Ucapan Argham membuat hati Jia mencelos. Ia merasa menjadi wanita munafik karena telah membohongi Argham.


" Ya sudah ayo temani Mas!" Argham menarik tangan Jia menuju ruang VIP nomer sepuluh dimana client sudah menunggunya.


Saat keduanya masuk ke dalam, nampak seorang pria seumuran Argham menoleh ke arah mereka berdua. Tatapan pria itu terpaku pada Jia, ia merasa terpesona dengan pesona yang Jia pancarkan. Padahal Jia tidak berdandan malam ini. Argham yang menyadarinya berdehem membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


" Selamat malam pak Argham. Silahkan duduk!" Ucapnya.


" Sayang duduklah." Argham menarik kursi untuk Jia. Setelah memberi penghormatan kepada pria di depannya, Jia segera duduk di kursi yang telah Argham siapkan. Argham duduk di kursi samping Jia berhadapan dengan Remon.


" Dia.. " Remon menunjuk Jia.


" Perkenalkan dia istri saya, namanya Jia." Ucap Argham.


" Anda sudah menikah lagi?" Tanya Remon tak percaya.


" Sudah menemukan yang cocok, mau apa lagi." Sahut Argham.


" Iya kau benar pak Argham." Sahut Remon.


Mereka memesan makan malam terlebih dahulu sedangkan Jia hanya memesan es kopi latte karena perutnya sudah kenyang. Setelah selesai makan barulah Argham dan Remon mulai membahas soal kerja sama yang perusahaan Remon tawarkan untuknya sedangkan Jia memainkan ponselnya. Ia tidak begitu tertarik dengan obrolan para pria. Berbagai suku cadang berkualitas dan murah Remon tawarkan. Serta kesiapan Remon untuk menanam sepuluh persen saham di shorum yang sedang Argham jalankan.


Di sela sela obrolan mereka, Remon nampak mencuri curi pandang terhadap Jia. Sangat jelas di mata Argham bahwa Remon tertarik dengan wanita yang telah menjadi calon istrinya yang tak lain adalah Jia.

__ADS_1


" Maaf Pak Remon! Mari kita fokus pada kerja sama kita. Saya mohon untuk tidak mencuri pandang terhadap istri saya. Saya menghormati anda begitupun sebaliknya. Anda juga harus menghormati kami." Ucap Argham menegur Remon.


Jia mendongak menatap Remon saat mendengar ucapan Argham. Remon menjadi salah tingkah, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghindari tatapan Jia. Mereka melanjutkan meeting sampai terjadi kesepakatan kerja sama. Setelah selesai, Argham pamit pulang. Ia menggandeng tangan Jia meninggalkan Remon yang masih duduk di kursinya.


" Bodoh kau Remon. Kenapa sampai ketahuan memandangi istri orang sih, mata Argham juga. Kenapa bisa jeli seperti itu? Tahu aja kalau aku memandang istrinya." Monolog Remon mengacak kasar rambutnya.


" Tapi kalau di lihat lihat, kenapa sepertinya aku pernah bertemu dengan Jia ya? Tapi dimana?" Remon nampak memikirkan hal itu namun ia sama sekali tidak mengingatnya. Hanya wajah Jia nampak familiar di matanya.


Di dalam mobil, Argham nampak fokus dengan kemudinya. Ia merasa kesal mengingat tatapan Remon pada Jia.


" Mas Argham kenapa? Kenapa sepertinya Mas Argham nampak kesal?" Tanya Jia menatap Argham.


" Mas kesal karena Mas yakin kalau Remon itu suka padamu. Tahu gitu Mas biarin kamu pulang naik taksi aja tadi biar kamu tidak bertemu dengan Remon." Sahut Argham.


Jia terkekeh mendengarnya.


" Jadi sekarang ceritanya menyesal nih?" Tanya Jia menggoda Argham.


" Hmmm." Gumam Argham menganggukkan kepala.


" Belum tentu juga dia suka sama aku Mas, memangnya apa sih yang membuatnya menyukaiku? Aku jauh dari kata sempurna, wajah juga pas pas an." Ujar Jia.


" Itu menurutmu, menurut para pria beda lagi sayang. Kamu tuh benar benar perfect di mata mereka. Wajahmu penuh dengan keteduhan, senyumanmu penuh dengan keindahan dan hatimu penuh dengan ketulusan." Ucap Argham.


" Hmm gombal." Ucap Jia.


" Eh siapa yang sedang ngegombali kamu? Nggak ada ya." Ujar Argham menatap Jia.


Argham terus menatap Jia membuat Jia sedikit khawatir karena Argham tidak fokus ke depan.


" Mas fokus ke depan." Ucap Jia. Namun Argham tidak mendengarkannya sampai...


" Awas Mas!!!" Teriak Jia.


Dan....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2