
Jia merasa gugup, ia tidak tahu harus menjawab apa. Antara jujur dan berdusta mendadak menjadi momok yang mengerikan untuk Jia. Melihat kebimbangan Jia, Argham mencoba bangun dari tidurnya, ia ingin duduk bersandar pada head board namun ternyata tidak bisa, kepalanya terasa sakit dan berat.
" Tiduran saja Mas!" Ujar Jia membantu Argham tiduran kembali.
Argham menggenggam tangan Jia sambil mengelusnya. Ia menatap Jia sambil menyentuh pipinya, keduanya saling bertatapan, Argham tersenyum sambil menganggukkan kepala seolah sedang menyalurkan kekuatan di dalamnya agar Jia berbicara jujur padanya. Namun pada kenyataannya Jia tetap bungkam.
" Sayang, aku menganggap Valle sebagai anak kandungku sendiri walaupun pertemuan kami terasa singkat, sama seperti kamu yang menganggap Raffa sebagai anakmu sendiri. Apapun yang terjadi dengan salah satu dari anak kita, itu tanggung jawab kita berdua sayang. Jadi jangan pernah sembunyikan apapun dariku! Meskipun hal buruk sekalipun." Ujar Argham.
Jia menghela nafasnya pelan, ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahu Argham tentang masalah Valle tanpa membebani pikiran Argham.
" Mulai sekarang Valle tinggal bersama mas Alex, Mas."
Deg...
Argham nampak sangat terkejut akan hal itu. Ia mengerutkan keningnya seolah meminta penjelasan kepada Jia untuk menjelaskan semuanya yang terjadi saat ia tidak sadarkan diri selama tiga hari ini.
" Saat Mas Argham kecelakaan, mas Argham... "
Mau tidak mau Jia memang harus menceritakan apa yang telah terjadi setelah kecelakaan yang Argham alami. Seketika raut wajah Argham berubah menjadi sedih. Ia tidak menyangka anak tirinya mau mengorbankan hidupnya demi dia. Perasaan sedih, bangga dan terharu bercampur menjadi satu merasuk ke dalam hati Argham.
" Valle berharap kita akan menjemputnya suatu hari nanti Mas. Kita akan merebut kembali Valle dari Mas Alex. Aku yakin Valle tidak bahagia hidup bersama papanya, apalagi melihat sikap papanya yang begitu cuek padanya." Ucap Jia. Mungkin terdengar egois dan sedikit merendahkan kemampuan Alex mengurus Valle, tapi memang itu kenyataan yang terjadi selama ini.
" Tentu sayang, kita akan menjemputnya setelah Mas sembuh. Jika perlu Mas akan tawarkan apapun permintaan Alex agar ia mau mengembalikan Valle kepada kita. Apapun akan Mas lakukan untukmu dan anak kita." Ujar Argham.
Jia tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merasa sedikit lega setelah mendengar ucapan Argham meskipun ia tahu Alex tidak akan semudah itu mengembalikan Valle padanya. Akan ia pikirkan nanti setelah Argham sembuh, ia harus fokus pada kesehatan Argham dan bagaimana mengurus Raffa selama Argham berada di rumah sakit.
" Sayang lalu bagaimana dengan Raffa?" Tanya Argham.
__ADS_1
" Raffa sering rewel karena aku harus bolak balik meninggalkannya di rumah Mas. Kalau dia menangis, bi Ijah akan menelepon dan aku akan pulang ke rumah. Mas Argham tidak perlu memikirkannya, sekarang fokuslah pada kesembuhan Mas supaya kita bisa cepat berkumpul kembali di rumah." Ujar Jia.
" Mas mau pulang." Ucapan Argham membuat Jia terkejut. Bagaimana Argham meminta pulang? Sedangkan keadaannya saja masih seperti ini.
" Supaya kamu tidak repot bolak balik rumah ke rumah sakit sayang, Mas ingin di rawat di rumah saja. Jadi kamu bisa jagain Raffa sekaligus jagain Mas." Ucap Argham memberi saran.
" Tidak Mas, Mas Argham lebih terjamin berada di sini. Tidak masalah aku bolak balik ke sini, itu sudah menjadi kewajibanku Mas." Sahut Jia.
" Tap.. "
" Tidak ada tapi tapian, segeralah sembuh untukku." Ucap Jia mengerlingkan sebelah matanya.
" Hmm kode nih, udah kangen ya." Goda Argham.
" Iya lah Mas, cepat sembuh ya." Sahut Jia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam sebuah kamar yang telah di sulap seperti ruang rawat di rumah sakit, Erick nampak kebingungan saat mendengar tangisan Mikayla yang tiada henti. Ia berjalan mondar mandir sambil menggendong Mikayla, ia menatap tubuh Ayu yang terbaring lemah di atas ranjang dengan segala peralatan medis yang menempel di seluruh tubuhnya.
Ya.. Ayu di nyatakan koma setelah kejadian naas yang menimpanya. Namun tidak seperti Argham, kondisi Ayu jauh lebih parah karena Ayu mengalami pembekakan pada pembuluh darah di dalam otaknya. Dokter tidak bisa memprediksi sampai kapan Ayu tersadar dari komanya.
" Diamlah Mikay! Tangisanmu membuat kepalaku terasa seperti mau pecah tahu tidak sih. Kau dan ibumu benar benar membuatku susah saja. Tahu begini aku tidak akan pernah menjalin hubungan dengan wanita menyusahkan itu." Bukannya iba dengan keadaan Ayu tapi Erick malah menghujatnya. Benar benar pria tidak punya hati sama sekali.
Tangisan Mikayla semakin keras dan terlihat berontak. Hal ini membuat Erick semakin murka.
" Kalau kamu tidak bisa diam, aku akan membuangmu ke jalanan." Ancam Erick.
__ADS_1
" Tidak boleh seperti itu dengan anak kecil."
Erick menoleh ke belakang, nampak Devita berjalan menghampirinya.
" Sayangnya aunti kenapa nangis hmm? Papa kamu nakal ya." Devita mengambil alih gendongan Mikayla dari Erick.
" Tenanglah sayang! Ada aunti di sini." Devita menimang Mikayla sambil mengelus kepalanya. Perlahan tangisan Mikayla semakin lirih dan berakhir berhenti. Ia diam dalam gendongan Devita.
Erick yang melihatnya merasa terharu dengan kelembutan yang Devita tunjukkan. Bagaimana seorang gadis seperti Devita mampu menenangkan anak sekecil Mikayla, sedangkan ia uang ayahnya saja tidak bisa. Sifatnya sangat mirip dengan sifat yang Jia miliki. Mereka bagai pinang di belah menjadi dua, bahkan tanpa ia sadari wajah Devita hampir mirip dengan wajah Jia walau sekilas. Mungkinkah mereka berdua memiliki ikatan darah? Tapi rasanya tidak mungkin karena Jia tidak punya saudara di sini.
" Sepertinya Mikay haus Kak, bisakah kak Erick membuatkan susu untuknya?" Devita menatap Erick yang nampak melamun.
" Kak." Devita menyenggol lengan Erick membuat Erick tersadar dari lamunannya.
" Ah iya." Ucap Erick.
" Tolong buatkan susu untuk Mikay, kelihatannya dia haus." Devita mengulangi ucapannya.
Bagai terakhir dewi khayangan, Erick menurut begitu saja. Ia menganggukkan kepala lalu keluar dari kamar Ayu menuju dapur. Devita tersenyum melihat kepatuhan Erick. Ia berjalan mendekati ranjang lalu menatap Ayu.
" Sebenarnya kak Erick pria yang baik, hanya saja kamu yang kurang beruntung mbak. Segeralah sadar sebelum aku semakin dekat dengan kak Erick, entah mengapa hatiku bergetar saat dekat dengannya. Lanjutkan perjuanganmu untuk mendapatkan hatinya, atau aku akan mengambilnya darimu. Tidak hanya kak Erick, tapi Mikayla juga." Ucap Devita.
Ia cukup pintar membaca situasi yang terjadi dengan kehidupan pernikahan keduanya. Apalagi tanpa Erick sadari ia sering melihat sikapnya kepada Ayu selama beberapa bulan tinggal di sini. Ia dapat menebak jika pernikahan mereka terjadi tanpa adanya cinta.
" Semangat berjuang mbak, semoga kau berhasil memenangkan hati kak Erick. Sebisa mungkin aku akan menekan hatiku untuk tidak condong kepadanya. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa apa jika kau sendiri yang memberikan aku kesempatan untuk merebutnya."
Akankah Devita bisa mengendalikan perasaannya? Atau justru perasaannya mendapat sambutan dari Erick? Nantikan kelanjutannya ya kita akan menyelesaikan masalah Valle terlebih dulu.
__ADS_1
TBC....