HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
TEMAN PRIA VALLE


__ADS_3

Terik matahari menyengatkan panasnya ke muka bumi membuat banyak orang gelisah seperti cacing kepanasan. Tidak sedikit dari mereka yang memilih berdiam diri di dalam rumah, namun bagi sebagian orang, cuaca seperti apapun tidak berpengaruh pada mereka. Apalagi seperti pedagang dan pekerja buruh. Mereka tetap mengais rejeki di bawah teriknya sinar yang membuat kepala nyut nyut an.


Mobil Argham melaju dengan kecepatan sedang dari rumah sakit menuju rumahnya. Argham mengemudi dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan Jia. Jia menatap ke luar jendela melihat aktifitas orang orang sekitar sampai tatapan matanya tertuju pada seorang pelajar wanita yang mengenakan baju putih biru sedang berdebat dengan pelajar pria. Nampak pria tersebut menarik narik tangan gadis itu.


Deg...


" Valle." Gumam Jia setelah mengamati gadis tersebut.


" Mas berhenti Mas! Itu Valle." Jia menunjuk ke arah dua pelajar itu.


Argham segera menepikan mobilnya setelah melihat ke arah yang di tunjuk Jia. Ia segera turun dari mobil lalu menghampiri Valle bersama teman prianya.


" Deon lepasin aku!!!!" Bentak Valle menyentak tangannya berharap tangan Deon bisa terlepas.


Sampai langkah Argham tepat di belakang pria itu, ia menarik kasar pria itu lalu...


Bugh....


" Mas Argham!!!" Jia menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak menyangka Argham akan main tangan dengan pria yang seumuran dengan Valle.


" Papa, jangan Pa!" Valle menarik tangan Argham menjauh dari Deon yang tersungkur di trotoar.


Tidak tega melihat temannya terluka, Valle justru membantu Deon berdiri. Ia meminta Deon untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang.


" Diamlah di sini!" Deon hanya menganggukkan kepala saja.


Valle mendekati kedua orang tuanya.


" Kenapa kamu membantunya? Kenapa kamu membantu pria yang bersikap kurang ajar kepadamu sayang?" Tanya Argham, ia tidak habis pikir dengan Valle.


" Pa, dia memang sering seperti itu. Dia punya kelainan Pa, dia tidak normal seperti kita." Ujar Valle melirik Deon yang saat ini sedang menatapnya seolah mendengarkan pembicaraan mereka.


" Tidak normal katamu?" Argham mengerutkan keningnya. Ia menelisik Deon dari atas sampai bawah. Tidak ada yang salah, semua terlihat normal. Deon terlihat tampan, kulit putih bersih dan kalau di lihat lihat ia dari keluarga berada. Deon melempar senyuman kepada Argham, tidak ada raut kesakitan ataupun ketakutan di wajahnya.


" Iya Pa, dia seperti orang... "


" Bloon." Bisik Valle di telinga Argham.


" Terus kalau dia bloon kamu diam saja di perlakukan seperti tadi? Bagaimana kalau dia berbuat buruk padamu? Bagaimana kalau dia berniat melecehkanmu? Apa kamu tidak takut hmm?" Argham benar benar mengkhawatirkan keselamatan putrinya.

__ADS_1


" Tidak Pa... Dia anak yang baik. Hanya saja tadi dia tidak mengijinkan aku pulang, dia ingin aku menemani dia belajar di perpustakaan jadi dia mengejarku dan menarik tanganku." Ujar Valle.


" Sayang, bagaimana keadaan dia sebenarnya? Bisa kau ceritakan pada Mama agar mama tidak takut kamu bergaul dengannya." Ujar Jia.


Deon Anggara, entah berasal dari keluarga mana Valle tidak tahu. Dua bulan yang lalu, ia pindah dari kota kembang ke kota Jakarta. Kebetulan ia satu kelas dengan Valle. Entah mengapa saat hari pertama masuk sekolah, Deon memilih Valle menjadi teman satu bangkunya. Valle tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi teman satu bangkunya karena ia termasuk murid yang cuek di kelasnya. Ia tidak menolak ataupun mengiyakan Deon duduk di sebelahnya. Awalnya Valle merasa Deon baik baik saja, dia terlihat seperti orang normal namun ternyata takarannya kurang satu ons.


Di kelas Deon hanya bisa mengingat nama Valle, kemanapun Valle pergi ia selalu mengikutinya membuat para siswa yang lain menjadi risih. Yang membuat Valle heran, selama ini Deon tidak mengikuti pelajaran dengan benar. Bahkan semua bukunya masih bersih tanpa ada coretan tinta sedikitpun, namun Deon selalu bisa mengerjakan apa yang di berikan oleh guru. Nilainya juga sangat menakjubkan, delapan hingga sepuluh.


Sikapnya kadang aneh dan tidak mencerminkan cowok normal pada umumnya, tidak ada satupun teman yang mau berteman dengannya. Namun tidak bagi Valle, ia tidak membeda bedakan siapa yang akan menjadi temannya, selama orang itu bisa bersikap baik padanya maka ia akan menjadikannya sebagai temannya.


Argham dan Jia nampak mengangguk anggukkan kepalanya saat Valle menceritakannya. Mereka tidak meminta Valle untuk menjauhi Deon, namun mereka berpesan agar Valle selalu berhati hati dengannya. Bagaimanapun Deon adalah manusia, kalau bukan Valle yang menemaninya lalu siapa lagi?


" Ya sudah, ayo kita pulang! Raffa pasti sudah menunggu kita." Ujar Argham.


" Sebentar Pa." Ujar Valle.


Valle mendekati Deon yang masih setia duduk di bangkunya.


" Deon aku pulang dulu ya, lain kali kita belajar bersama lagi." Ucap Valle menatap Deon.


" Alle pulang?" Tanya Deon dengan tatapan kosong layaknya orang tidak normal.


" Aku akan telepon sopir kamu buat menjemputmu di sini." Valle mengeluarkan ponsel dari tasnyaalu menelepon supir yang biasanya mengantar jemput Deon. Darimana Valle mendapat nomer teleponnya? Tentu saja pak sopir itu sendiri yang memberikannya.


Setelah menelepon sopir Deon, Valle menghampiri kedua orang tuanya.


" Papa sama Mama pulang duluan saja, supir Deon masih ada keperluan jadi sedikit lama. Kasihan Deon kalau dia di tinggal sendirian di sini, soalnya sopirnya menitipkan Deon sama aku Ma, Pa. Tapi juga kasihan Raffa kalau Mama sama papa kelamaan di sini." Ujar Valle.


Argham menatap Jia di balas anggukkan kepala olehnya.


" Baiklah, kamu hati hati. Pak Lukman akan segera menjemputmu di sini. Kami pulang dulu." Ucap Argham.


" Hati hati." Ucap Valle.


Valle melambaikan tangannya dadah sama kedua orang tuanya. Deon pun mengikuti apa yang Valle lakukan kepada kedua orang tua Valle. Jia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menatap Deon. Argham kembali melajukan mobilnya ke jalan raya meninggalkan Valle bersama Deon.


Valle duduk di samping Deon sambil memainkan ponselnya, hal itu membuat Deon merasa kesal karena di abaikan.


" Alle apa ponselmu lebih menarik dibandingkan aku?" Valle langsung menoleh menatap Deon. Kadang kadang Deon bisa bersikap dan berpikir normal seperti sekarang ini. Entah penyakit apa yang di deritanya, Valle tidak tahu.

__ADS_1


" Apa itu artinya aku harus terus memandangimu sampai sopirmu datang?" Bukannya menjawab Valle malah balik bertanya.


" Lebih baik begitu." Sahut Deon.


" Aku senang kalau Alle mau memandangiku." Sambung Deon membuat Valle terkekeh.


Kalau di rasa rasa, Deon orangnya cukup mengasyikkan walaupun sering kali ulahnya membuat teman temannya merasa kesal. Namun kalau dengan Valle, ia akan berubah menjadi kucing imut.


" Baiklah aku akan memandangimu, tapi jangan sampai kau jatuh cinta padaku karena aku tidak akan bertanggung jawab untuk itu." Valle tertawa lepas saat mengatakannya, ia merasa geli sendiri mendengar ucapannya yang sangat narsis dan lebay menurutnya.


" Memangnya kenapa kalau aku jatuh cinta sama Alle? Apa Alle tidak mau menerima aku sebagai pacarmu?"


Deg....


Jantung Valle berdetak sangat kencang, tawanya langsung hilang entah kemana. Ia merasa Deon sedang dalam kondisi normal senormal normalnya saat ini. Ia menatap Deon dengan tatapan tajam.


" Alle... Jangan memandangku seperti itu! Kalau Alle memandangku dengan tajam begini yang ada aku takut Alle." Ujar Deon menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya walaupun terlihat dari sela sela jarinya.


" Apa kamu dalam kondisi normal saat ini? Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Apa selama ini kau sedang berusaha membohongiku? Kau tidak idiot kan? Kau normal kan?" Berbagai pertanyaan yang mengusik hati Valle, ia keluarkan semua.


Deon nampak gelisah, ia mengedarkan pandangannya ke segala arah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Deon, katakan padaku!" Desak Valle.


Deon memberanikan diri untuk menatap Valle. Ada desiran aneh yang merambat ke dalam hatinya. Tidak mau kalah, jantungnya pun berdebar dengan sangat kencang.


" Deon... " Valle menekan ucapannya.


" Aku... "


TBC.....


Sedikit tentang Valle dan Deon yang akan menjadi pembahasan di seasons ke dua nanti ya...


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya bair author makin semangat nih...


Terima kasih.


Miss U All..

__ADS_1


__ADS_2