
Pria itu mengelus pipi Lora, ia membungkukkan badannya lalu menempelkan bibirnya ke telinga Lora.
" Ini aku sayang."
Deg....
Jantung Lora terasa berhenti berdetak. Lora sangat mengenali pria ini dengan jelas, namun ia masih sedikit ragu untuk membuktikan kebenaran tentang dugaannya.
" Pria yang kau goda lalu kau tinggalkan begitu saja." Sambungnya membuat Lira semakin yakin siapa pria yang sedang bersamanya saat ini.
" A... Aku tidak meninggalkanmu, aku hanya..."
Plak....
Belum selesai Lora berbicara pria itu kembali menampar pipinya. Ingin sekali Lora membalasnya, namun apalah dayanya karena tangan yang masih terikat di kursi, ia hanya bisa mengepalkan erat tangannya saja.
" Kau sengaja menjebak Argham karena kau sedang berusaha lari dariku. Apa kau pikir kau bisa lari dariku begitu saja hmm?"
Deg...
Lagi lagi jantung Lora berdetak sangat kencang. Darimana pria itu tahu tentang Argham? Apa dia mengintai Lora selama ini? Atau mereka saling mengenal satu sama lain? Pikir Lora.
Pria itu menarik rambut Lora hingga Lora mendongak sambil meringis kesakitan.
" Tidak Lora.. Kau tidak akan bisa terbebas dariku. Sekali aku menginginkanmu, maka selamanya kau akan menjadi milikku dan aku tidak akan pernah melepaskanmu." Ucapnya. Lora memejamkan matanya menahan sakit pada kukut kepalanya.
" Aku sudah pernah bilang padamu, jadilah wanita penurut maka aku akan memberikan apapun yang kamu mau seperti selama ini. Kembalilah padaku dan tetap tinggal di rumahku, maka kau akan aman." Ucapnya.
" Aku tidak mau ikut denganmu, aku mau pulang. Aku tidak mau hidup bersamamu lagi. Aku sudah cukup tersiksa selama ini, biarkan aku hidup jauh darimu." Entah keberanian darimana hingga Lora berani membantahnya, padahal selama ini Lora hanya bisa mengikuti keinginannya saja.
" Rupanya sekarang kau sudah berani membantahku. Baiklah kalau itu maumu, aku akan menelepon anak buahku untuk mencelakai orang tuamu." Lora nampak terkejut dengan ucapan pria itu. Ia menatap pria itu dengan tajam.
" Asal kamu tahu kalau sekarang anak buahku sudah stand by di rumahmu. Mereka hanya menunggu perintah dariku saja, hanya dengan jentikan jari mereka akan melakukan apa yang aku mau."
__ADS_1
Lagi lagi Lora terlihat terkejut, bagaimana pria itu tahu rumahnya? Padahal selama ini Lora tidak pernah memberikan alamat rumahnya pada pria itu. Belum hilang pertanyaan pertanyaan di dalam kepala Lora, pria itu mengambil ponsel di saku celananya.
" Aku akan menelepon mereka sekarang, tapi sebelum itu aku ingin bertanya lagi padamu. Apa kau mau ikut denganku atau memilih kematian kedua orang tuamu?" Tanya pria itu sambil menatap Lora.
Lora merasa terintimidasi, ia tidak punya pilihan lain selain kembali pada pria itu.
" Baiklah baiklah aku akan ikut bersamamu. Aku akan menuruti apapun ucapanmu. Tapi tolong jangan usik orang tuaku." Ucap Lora.
" Kau sangat cantik kalau lagi patuh begini. Aku jadi ingin melakukan itu di sini, rasanya pasti sangat menyenangkan jika aku melakukannya dengan posisimu yang seperti ini." Pria itu mengelus pipi Lora.
" Jangan Ardian! Aku akan melayanimu tapi tidak di sini. Kita cari tempat yang lebih nyaman. Aku tidak mau badanku sakit semua gara-gara ini." Ujar Lora. Pria itu tersenyum lebar mendengar ucapan Lora. Inilah yang ia inginkan dari Lora, kepuasan.
Sekikas tentang pria itu, namanya Ardian Syeiko seorang pria berdarah dingin yang merupakan pemimpin geng hitam yang terkenal ganas di pulau B. Ia telah terpikat oleh kecantikan Lora. Berawal dari teman kencan dan berakhir menjadi partner ranjang selama setahun terakhir. Awalnya Lora hanya ingin bermain main dengannya, ia hanya memanfaatkan harta Ardian untuk kepentingan dirinya sendiri namun Lora malah terjebak hubungan dengannya.
Ya... Lora selama ini tinggal bersama Ardian layaknya seorang suami istri. Ardian memiliki watak keras dan mengidap penyakit hyperseks hingga membuat Lora merasa tersiksa selama hidup bersamanya. Setiap waktu Ardian pasti akan meminta Lora untuk melayaninya. Hal itu membuat Lora merasa jengah dan ingin terlepas dari hubungan ini. Ia sengaja kabur dari rumah Ardian dan menyusun rencana untuk mendekati Argham agar ia terbebas dari Ardian, karena ia yakin jika ia berhasil menikah dengan Argham pasti Argham akan melindunginya namun rupanya usahanya telah gagal. Entah darimana Ardian bisa mengetahui keberadaannya.
" Baiklah kita akan menghabiskan waktu di rumah kita, tapi sebelum itu kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Argham terlebih dahulu." Ujar Ardian.
" Kau tidak perlu tahu itu, turuti saja perintahku." Ujar Ardian.
" Baiklah, aku akan segera menyelesaikannya. Tapi sebelum itu, lepaskan dulu ikatan talinya! Tanganku terasa sakit semua." Ucap Lora.
Mendengar Lora kesakitan, Ardian segera membuka tali yang mengikat tangan Lora. Selain berwatak keras, Ardian juga memiliki sikap posesif. Ia tidak akan membiarkan Lora terluka, ia segera membuka ikatan tangan Lora lalu mencium tangan Lora yang memerah akibat bekas tali tersebut. Ia tidak rela jika wanita yang ia cintai sampai terluka apalagi karena dirinya sendiri.
Setelah semua tali terbuka, Ardian menggendong Lora ala bridal style keluar dari gedung tua itu menuju mobilnya. Ia menurunkan Lora di kursi samping kemudi, setelah itu ia melajukan mobilnya menuju tempat yang seharusnya ia datangi.
...****************...
Di dalam kamar berukuran enam kali enam meter, Jia nampak sedang menidurkan Raffa di ranjangnya. Ia menepuk dada Raffa dengan pelan sambil menyanyikan lagu nina bobok. Argham yang baru masuk ke dalam segera menghampiri Jia. Ia naik ke atas ranjang lalu berbaring miring di belakang Jia sambil memeluk pinggang Jia. Jia tidak bergeming, ia lebih tertarik fokus pada Raffa daripada suaminya. Jujur.. Rasa kesal, cemburu dan sedikit tidak percaya masih menyelimuti hati Jia.
" Jia sayang... Mas Argham minta maaf ya." Jia terkejut dengan tingkah Argham yang seperti anak kecil, ia tahu jika Argham sedang mencoba merayunya namun ia tidak menyangka jika Argham bisa bersikap seperti ini. Jia memilih untuk bungkam karena malas menyahut ucapan Argham.
" Sayang.. Jangan diam saja donk! Katakan kalau kamu sudah memaafkan Mas Argham. Terus kita baikan deh, kita sama sama cari bukti jika mas Argham tidak bersalah. Di saat saat seperti ini Mas Argham butuh bantuan Jia. Mas Argham butuh suport dari Jia, kalau Jia mengabaikan Mas seperti ini yang ada Mas tidak bisa melangkah untuk mengumpulkan bukti sayang. Please... Jangan marah lagi ya, Mas Argham juga mau minta maaf jika ucapan Mas tentang hubungan Jia dan Wahyu menyinggung perasaan Jia. Mas minta maaf sayang." Semua kata yang di ucapkan Argham justru membuat Jia merasa geli. Yang awalnya ingin tetap mempertahankan kemarahannya kini berubah menjadi tawa. Jia tertawa lirih sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak meledak.
__ADS_1
Argham yang mendengarnya tersenyum senang bisa membuat Jia tertawa.
" Kamu tertawa sayang?"
" Tidak." Sontak Jia langsung membungkam mulutnya.
" Jangan bohong deh! Aku tahu kamu barusan tertawa, aku sangat senang kalau kamu sudah tidak marah lagi. Terima kasih sayang." Ucap Argham mencium kepala Jia.
" Apaan sih Mas, udah deh nggak usah merayu! Aku tidak akan luluh sebelum Mas Argham memberikan buktinya padaku." Ujar Jia.
Argham menghela nafasnya pelan.
" Aku tidak bisa membuktikannya sayang." Ucapan Argham kali ini mampu membuat Jia membalikkan posisinya menghadap Argham.
" Apa maksudmu tidak bisa Mas? Apa kau dan Lora memang benar benar melakukan hal itu?" Tanya Jia menatap Argham dengan tatapan menyelidik.
" Bukan begitu, aku tidak bisa membuktikannya karena kau tidak mendukungku. Aku tidak bisa melangkah tanpa dukungan darimu. Apalah artinya aku tanpamu sayang, aku merasa tidak akan bisa hidup tanpa kau di sampingku dan dukungan darimu. Untuk itu tetaplah di sampingku dan selalu mendukung setiap langkahku, aku berjanji akan memberikan buktinya besok pagi padamu." Ucap Argham menggenggam tangan Jia.
Jia menatap Argham begitupun sebaliknya.
Deg... Deg... Deg...
Jantung keduanya berdetak sangat kencang. Ada rasa tidak tega di dalam hati Jia karena sempat meragukan suaminya. Terlihat jelas di mata Argham bahwa Argham mengatakan yang sejujurnya. Argham juga terlihat rapuh selama di abaikan olehnya. Jia menghela nafasnya pelan lalu menghembuskannya kembali.
" Aku akan mendukungmu Mas, aku sadar aku susah tidak muda lagi. Aku tidak bisa mengartikan sesuatu sembarangan tanpa berpikir panjang. Aku memberikan kepercayaan penuh padamu Mas, semoga kau mendapatkan bukti bukti itu secepatnya." Ujar Jia.
" Terima kasih sayang, aku mencintaimu." Argham mencium punggung tangan Jia.
" Aku ragu."
"???"
TBC....
__ADS_1