
Seperti orang yang sedang kesetanan, Erick melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Slip... Slip... Slip.. Banyak kendaraan yang ia dahului, walaupun ia sudah meminta anak buahnya untuk memboklir pintu masuk bandara tapi ia tidak mau sampai kecolongan. Ia harus memastikan jika Devita belum benar benar pergi darinya.
Perjalanan yang seharusnya di tempuh tiga puluh menit, kini Erick hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk tiba di bandara. Ia segera turun dari mobil lalu berlari menuju pintu masuk bandara dimana lima anak buahnya sudah berada di sana.
" Dimana dia?" Tanya Erick menatap kelima anak buahnya yang nampak berdiri sambil menundukkan kepala.
" Jawab dimana dia!!!" Bentak Erick.
Erick semakin emosi ketika kelima anak buahnya malah bungkam. Ia mendekati salah satu anak buahnya yang bernama Felix. Ia menarik dagu Felix membuatnya mendongak menatap Erick.
" Katakan dimana Dev! Kalian berhasil menahan kepergiannya kan? Tidak mungkin kalian kalah cepat dengannya kan? Katakan Felix!" Teriak Erick di akhir kalimatnya.
" Maaf bos! Kami tidak berhasil menahannya. Sepertinya nona sudah lebih dulu masuk ke dalam sebelum kedatangan kami."
Bugh...
Tiba tiba pukulan keras mendarat di pipi kiri Felix, sontak ia langsung mengelus pipinya yang terasa sakit.
Bugh...
Lagi lagi pukulan Erick mendarat di pipi Felix, kali ini pipi sebelah kiri. Lengkap sudah penderitaannya, namun ia hanya bisa menerima tanpa bisa membalasnya.
" Bagaimana bisa kalian sebodoh ini hah!!!!" Teriak Erick menarik kasar rambutnya.
" Mengejar satu wanita saja kalian tidak bisa melakukannya, untuk apa aku membayar kalian mahal mahal kalau kerja kalian tidak becus seperti ini? Buang buang uang saja." Erick nampak geram dengan kelima anak buahnya yang tidak becus bekerja menurutnya.
" Tidak... Devi tidak boleh pergi, dia tidak boleh meninggalkan aku. Aku tidak rela dia pergi jauh dariku. Aku harus mencarinya sendiri." Tanpa membuang waktu Erick langsung berlari masuk ke dalam bandara.
" Devita... " Teriak Erick sambil mengedarkan pandangannya berharap Devita mendengarnya.
__ADS_1
" Devita.. " Erick tidak peduli ia jadi tontonan para calon penumpang ataupun sekedar pengantar lain. Ia harus menemukan Devita secepatnya.
" London.. Ya tadi dokter Rayhan bilang Devi mau ke London. Aku harus menanyakan penerbangannya." Erick berlari menuju ruang informasi untuk menanyakannya, namun sayang pesawat tujuan London telah lepas landas lima menit yang lalu.
Tubuh Erick terasa lemas, lututnya tidak lagi mampu menopang tubuhnya hingga ia luruh ke lantai dengan kedua lutut sebagai tumpuannya.
" Bodoh... Kenapa tadi aku tidak langsung mengejar mobilnya? Kenapa aku justru banyak berpikir daripada bertindak? Seandainya aku tadi langsung menahannya pasti aku tidak akan kehilangannya. Bodoh kau Erick, kau sangat bodoh. Kau kehilangan wanita yang kau cintai untuk yang kedua kalinya." Erick memukul kepalanya sendiri merutuki kebodohannya.
" Arghhhh!!!!!" Teriak Erick menarik rambutnya dengan kasar, tidak peduli rasa sakit yang menjalar di kulit kepalanya atau tatapan orang orang sekitar.
Ya.. Tadi setelah pulang dari rumah Devita, ia tidak langsung ambil tindakan. Ia bimbang untuk menentukan pilihan antara mengejar dan merelakan hingga hatinya mendorongnya untuk mengejar cinta Devita. Namun sekarang semuanya sudah terlambat. Devita telah pergi jauh meninggalkannya.
" Heh.. " Erick tersenyum sinis.
" Kau pikir kau bisa pergi darimu begitu saja Devi? Tidak... Kemanapun kau pergi aku akan menemukanmu dan membawamu pulang ke rumahku sebagai istriku. Sekarang aku tidak peduli dengan pemikiran ku, entah pantas atau tidak yang jelas kau hanya akan menjadi milikku. Aku akan menemukanmu, tunggu aku!" Erick beranjak dari tempatnya lalu meninggalkan bandara. Ia pulang menuju rumahnya tanpa mempedulikan kelima anak buahnya yang sedang menunggu perintah darinya untuk melakukan pergerakan.
Di tempat lain, tepatnya di dalam rumah Erick. Ayu dan Devita duduk di sofa ruang tamu saling berhadapan. Beberapa saat lalu tanpa Erick tahu, Ayu mengikuti Erick saat ke rumah Devita. Ia mendengar percakapan Erick dan dokter Rayhan, ada perasaan curiga yang merambat ke dalam hatinya. Apalagi melihat raut wajah Erick yang menampakkan kesedihan setelah kepergian Devita, ia dapat menangkap sesuatu yang sedang Erick rasakan saat ini.
" Aku mencintaimu Devita, kau membuatku berpaling dari Jia. Kau telah mencuri hatiku, tapi kenapa setelah kau mencurinya kau justru meninggalkan aku? Aku memang pengecut.. Aku tidak berani mengakui perasaanku di depanmu. Aku pengecut Devi.. Aku mencintaimu."
Sedih.. Tentu saja. Hati Ayu bagai di sayat sebilah pisau yang sangat tajam saat mendengar kenyataan di depannya. Erick dan Devita saling mencintai? Ia tidak pernah menyangka jika kondisinya berhasil mendekatkan mereka berdua. Air mata kepedihan menetes begitu saja membasahi pipinya. Ia tidak menyangka Devita mampu membuat Erick jatuh hati padanya. Ayu merasa sudah tidak ada tempat baginya di hati Erick, seberapa besar pun ia mencoba ia tidak akan pernah menang. Erick hanya menganggapnya sebagai bayangan saja.
Meskipun begitu, Ayu tetap ingin memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan Erick. Ia segera menjauh dari sana lalu menuju rumah Devita untuk menemui dokter Rayhan. Sampai di sana ia menceritakan semua yang terjadi pada Devita dan Erick. Dokter Rayhan sangat terkejut, ia tidak menyangka jika putrinya mencintai seorang pria beristri. Dokter Rayhan meminta maaf pada Ayu, namun Ayu tidak mempermasalahkan semua itu, ia cukup sadar diri dengan posisinya yang tidak di inginkan oleh Erick.
Ayu menelepon Devita dan memintanya kembali. Ia berbohong jika terjadi hal buruk pada Erick. Mendengar pria yang ia cintai dalam masalah, tanpa pikir panjang Devita langsung kembali ke rumahnya. Tepatnya di rumah Erick seperti sekarang ini. Namun ia kecewa, karena sampai di sana ia tidak mendapati Erick sama sekali.
" Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan mbak Ayu? Kenapa kau membohongiku seperti ini? Kau bilang kak Erick mengamuk dan ingin lompat dari lantai atas, tapi nyatanya apa? Dia malah tidak ada di rumah." Omel Devita merasa kesal karena telah di bodohi oleh Ayu.
" Dia pergi mengejarmu."
__ADS_1
Devita melongo mendengar ucapan Ayu.
" Jangan berbohong! Aku tidak akan mempercayai ucapanmu lagi." Ujar Devita.
" Aku tidak berbohong Devita, Erick benar benar mengejarmu karena dia mencintaimu." Ucap Ayu membuat Devita syok.
" Cin.. Cinta?" Devita menatap Ayu sambil mengerutkan keningnya.
" Darimana kau tahu itu mbak? Kak Erick hanya mencintaimu bukan aku." Sambung Devita.
Ayu menceritakan apa yang ia dengar tadi, namun Devita tidak percaya. Jika benar Erick mencintainya, kenapa ia tidak mengatakannya? Itu berarti Erick sedang menjaga pernikahannya apalagi sudah ada anak di antara mereka.
" Hah ini benar benar konyol, kau menghentikan kepergianku hanya karena kau merasa kak Erick mencintaiku. Ya Tuhan.... " Devita langsung berdiri lalu meletakkan satu tangannya di kepalanya sedangkan tangan yang satunya berada di pinggang.
" Kalau kau tidak percaya kau bisa membuktikannya sendiri." Ucap Ayu.
" Dengan apa?"
" Kau saja yang istrinya tidak tahu perasaan suamimu yang sebenarnya, apalagi aku. Jika benar kak Erick mencintaiku kenapa dia tidak mengatakannya? Apa dia punya alasan tertentu? Apapun alasannya jika dia memang ingin bersamamu seharusnya dia tetap berbicara kan? Tapi pada kenyataannya dia hanya diam saja." Ucap Devita membuat Ayu bungkam.
" Sudahlah lupakan semua ini. Jangan lagi melakukan hal bodoh seperti ini lagi, kau hanya membuang waktuku saja." Ucap Devita berlalu meninggalkan Ayu.
" Terluka lah di depannya, maka kau akan lihat bagaimana dia mencemaskanmu. Perbuatan bisa di buat buat tapi perasaan tidak bisa di bohongi Devita." Ucap Ayu menghentikan langkah Devita.
Devita berbalik badan menatap Ayu.
" Aku tidak sudi melukai diriku sendiri hanya karena seorang pria, Ayu. Kak Erick mencintaimu bukan aku." Devita kembali melanjutkan langkahnya tepat saat Erick masuk ke dalam. Keduanya saling melempar tatapan, Erick tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Wanita yang ia cari setengah mati kini berada di depannya.
Melihat itu Ayu melirik pisau buah yang ada di atas meja, ia mengambilnya lalu berlari mendekati Devita dan...
__ADS_1
" Devi!!!!!"
TBC....