HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
KEBETULAN APA JODOH?


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan gadis ketus dua hari lalu, Wahyu bagaikan menemukan hidupnya yang baru. Ia merasa mendapat semangat untuk tetap bertahan hidup dengan baik. Bayang bayang wajah manis dan kejutekan Claris terus menari nari di kepalanya, tidak hanya itu suaranya pun terus terngiang di telinganya. Wahyu yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya senyam senyum sendiri seperti orang tidak waras. Hardan sang sekretaris yang baru masuk sampai terheran heran melihat bosnya yang seperti kesambet hantu jalanan.


" Lo kenapa Bos?" Pertanyaan Hardan mengagetkan Wahyu.


" Sialan lo! Ngagetin gue aja." Cebik Wahyu melempar pensil ke arah Hardan, dengan sigap Hardan menghindarinya hingga pensil itu jatuh ke lantai.


" Lah lagian lo ngelamun sambil senyam senyum gitu, kesambet setan mana hah?" Hardan yang masih sahabat Wahyu duduk di ujung meja tepat di depan Wahyu.


" Tidak sopan lo duduk di depan meja bos, mau gue pecat." Ujar Wahyu menatap Hardan dengan nyalang.


" Nggak apa apa di pecat, paling lo yang bakalan nangis nangis karena tidak ada yang bantuin pekerjaan lo." Sahut Hardan mengejek.


" Sialan lo!" Umpat Wahyu.


" Udah udah nggak usah berdebat lagi! By the way kenapa lo senyam senyum gitu hmm?" Tanya Hardan.


" Siapa yang senyam senyum? Orang gue diem aja gini dari tadi." Elak Wahyu.


" Gue lihat dengan jelas Bro. Udah jujur aja napa sih. Lo lagi kasmaran ya..." Hardan menunjuk Wahyu.


" Paan sih. Udah deh nggak usah sok kepo, lo ngapain ke sini?" Ujar Wahyu.


" Gue ke sini mau bilang kalau kita ada meeting dengan pemilik mall xx yang akan bekerja sama dengan kita." Ujar Hardan.


" Jam berapa?" Tanya Wahyu.


" Setengah jam lagi." Sahut Hardan menatap sekilas jam yang melingkar di tangannya.


" Oke gue selesaikan pekerjaan gue dulu. Kalau perlu lo bantuin donk!" Ucap Wahyu meneruskan pekerjaannya begitupun dengan Hardan. Ia harus menyiapkan berkas yang hendak di bawa meeting.


Setengah jam kemudian, mereka pergi ke cafe xx untuk bertemu dengan client mereka. Sampai di sana keduanya menuju meja VVIP nomer satu yang telah di reservasi atas nama Wahyu yang berada di lantai atas.


Sampai di sana, ruangan masih kosong. Mereka duduk di kursi sambil menunggu client yang katanya sedang dalam perjalanan. Setelah beberapa saat yang di tunggu belum juga datang, mereka berdua memesan minuman lebih dulu.


" Bos, client memberi kabar kalau beliau tidak bisa datang. Tapi di gantikan oleh anaknya sebentar lagi sampai katanya." Ucap Hardan menyesap jus jeruknya.


" Baiklah kita tunggu, tapi jika dalam waktu sepuluh menit belum datang kita tinggal saja. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ujar Wahyu di balas anggukkan kepala oleh Hardan.


Sampai...


Ceklek...

__ADS_1


" Maaf terlambat datang."


Wahyu mendongak menatap ke arah pintu, suara yang familiar di telinganya.


Deg...


" Om." Claris terkejut sambil menunjuk ke arah Wahyu. Wahyu menyunggingkan senyuman menyambut kedatangan gadis yang telah membayang bayanginya.


" Ah Papa payah tidak memberitahu dulu kalau yang aku temui om om itu. Kalau tahu gitu mending aku nggak usah ke sini." Gerutu Claris duduk di depan Wahyu.


" Ternyata kamu anak dari tuan Dodi." Ucap Wahyu.


" Bukan." Ketus Claris.


" Lalu kenapa kau di sini? Apa kau salah masuk ruangan?" Tanya Wahyu menggoda Claris.


" Iya iya aku anaknya papa, udah buruan di mulai meetingnya. Aku harus bekerja lagi." Ujar Claris.


Wahyu tersenyum mendengarnya sedangkan Hardan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak menyangka jika bos dan client nya saling kenal.


" Segera mulai Dan!" Titah Wahyu.


" Siap bos." Sahut Hardan mulai membuka map berisi dokumen.


" Apa lagi? Jangan buang buang waktu deh!" Ucap Claris.


" Apa kamu yakin bisa mencerna setiap kata yang akan di ucapkan oleh Hardan?" Tanya Wahyu memastikan.


" Om pikir aku bodoh gitu? Walaupun aku masih muda tapi aku cukup genius Om kalau masalah seperti ini. Sejak SMP aku sudah menjalankan bisnis minimarketku dan om bisa lihat seberapa sukses minimarket yang telah aku kembangkan. Apa kau masih meragukan kemampuanku?" Ujar Claris menyombongkan diri dengan apa yang telah ia capai saat ini. Ia memang tipe pekerja keras sejak kecil karena didikan kedua orang tuanya. Saat masuk kelas delapan, ia mulai merintis usaha minimarket tempatnya bekerja saat ini, keuletan dan kegigihannya membuahkan hasil hingga ia mempunyai beberapa cabang saat ini.


" Bukankah kau seorang anak pembantu?" Sindir Wahyu.


" Aish malah menyindir nih orang, ya udah lah aku mau pulang saja." Ucap Claris.


" Baiklah maafkan aku!" Ucap Wahyu akhirnya. Ia semakin tertarik dengan gadis kecil di depannya ini. Ternyata kejutekan nya menggambarkan karakteristiknya.


Hardan mulai membacakan perjanjian kontrak kerja sama, keuntungan dan lain sebagainya. Claris nampak mengangguk anggukkan kepala tanda mengerti, ia cukup tergiur dengan keuntungan yang di tawarkan oleh perusahaan Wahyu.


" Bagaimana? Apa kau tertarik dengan kerja sama ini?" Tanya Wahyu menatap Claris.


" Cukup menarik." Claris menganggukkan kepala. Ia bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat jika ia menyewakan salah satu stand kepada perusahaan Wahyu untuk memasarkan produk yang Wahyu luncurkan. Minyak wangi branded dan limited edition akan di serbu oleh para kaum remaja.

__ADS_1


Wahyu juga menawarkan saham sebsesar sepuluh persen untuk perusahaannya ke mall milik keluarga Claris.


" Baiklah aku setuju, dimana aku harus tanda tangan?" Tanya Claris tidak mau membuang waktu. Berlama lama dekat dengan Wahyu membuat jantungnya berdebar. Ia tidak mau sampai pingsan di sini.


" Di sini Nona." Hardan memberikan dokumen persetujuan kerja sama dengan segala isinya. Claris segera menandatanginya. Wahyu tersenyum smirk menatap Claris.


" Sudah, sekarang aku mau pulang. Akan aku sampaikan hasil meeting ini pada papa." Ucap Claris.


" Kenapa terburu buru Claris? Setidaknya kita bisa makan bersama untuk merayakan kerja sama ini." Ujar Wahyu.


" Aku tidak perlu merayakan apapun, karena ini sudah biasa bagiku. Aku sedang tidak memenangkan tender hari ini, lagian aku harus lanjut bekerja." Ucap Claris beranjak dari kursi.


" Apakah seperti ini sikapmu pada rekan kerjamu?" Pertanyaan Wahyu menyinggung perasaan Claris hingga Claris menatapnya dengan tajam.


" Kenapa? Tidak suka?" Claris menaikkan dagunya sambil berkacak pinggang.


" Kalau tidak suka batalkan saja kerja samanya. Aku... "


" Kalau kau membatalkan kerja samanya maka kau harus siap membayar denda penalty dua kali lipat." Sahut Wahyu memotong ucapan Claris.


Claris menelan kasar salivanya.


" Baiklah baiklah tidak jadi, aku pulang dulu." Claris segera meninggalkan ruangan yang mulai menyeramkan baginya. Wahyu terkekeh melihat tingkahnya.


" Dasar bocil." Gumam Wahyu.


" Lo menyukainya?"


Wahyu langsung menatap Hardan.


" Apa lo tidak suka?" Bukannya menjawab malah Wahyu balik bertanya.


" Ti.. Tidak." Ucap Hardan gugup.


" Memang seharusnya lo tidak menyukai calon bu bos." Sahut Wahyu membuat mata Hardan melotot.


Wahyu menatap dokumen yang sudah terbubuhi tanda tangan Claris sambil tersenyum smirk.


" Aku akan mendapatkanmu manis." Gumam Wahyu.


Kira kira apa nih yang bakal Wahyu lakuin? Penasaran? Jangan lupa dukungannya untuk novel ini ya.. Terima kasih...

__ADS_1


miss U All...


TBC...


__ADS_2