
Di malam gelap pekat Lora duduk di lantai. Ia menekuk kedua lututnya, sambil menyandarkan kepalanya di sana. Kondisinya nampak acak acakkan, baju nampak compang camping, rambut berantakan dan bagian intinya terasa sangat nyeri seperti robek lebar karena baru saja di gilir oleh lima pria yang menjadi pelanggan mami. Wajahnya penuh lebam, bahkan sudut bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah. Mereka benar benar bermain dengan kasar membuat Lora seolah ingin mati saat itu juga.
" Hiks.. Hiks... " Lora terisak dalam kesendirian.
Dia memang terbiasa melayani Ardian yang hyperseks itu namun tidak mendapat perlakuan kasar seperti ini.
" Hiks.. Ardian.. Aku mohon tolong keluarkan aku dari sini. Aku tidak akan sanggup hidup lebih lama jika aku terus berada di tempat ini. Rasanya sakit... Hiks.. Jiwaku kotor, aku tidak mau berada di sini lagi hiks.. Tempat ini benar benar tidak aman bagiku, aku tidak sudi tubuhku di jamah oleh banyak pria. Tolong aku Ardian, bawa aku pergi dari sini hiks.." Tangis Lora terdengar sangat memilukan.
" Ayah ibu hiks... Maafkan aku! Tolong aku Yah, Bu. Aku sedang membutuhkan bantuan kalian berdua. Aku mohon hiks..."
" Ayah....Ibu..." Teriak Lora sambil menjambak rambutnya sendiri.
" Haaaa haaaa." Tangis Lora pecah dalam kesunyian malam.
Ceklek...
Pintu terbuka menampakkan mami Valen masuk ke dalam menghampiri Lora.
" Kenapa kau tidak melayani mereka dengan baik? Mereka komplain atas pelayananmu padaku. Jangan membuatku semakin rugi Lora, ingat! Hutangmu masih banyak padaku jadi jangan bertingkah. Menurut lah seperti kakakmu yang manis itu."
Lora mendongak menatap wanita yang baru saja berbicara dengan tatapan sengit.
" Jangan samakan aku dengan wanita bodoh itu, dia tidak punya prinsip ataupun pendirian. Yang dia bisa hanya mengikuti kata orang saja." Sahut Lora tersenyum sinis.
" Benar benar tidak tahu terima kasih. Jika bukan karena dia kau tidak akan bisa hidup mewah selama ini. Seharusnya kau sadar, dia terlalu banyak melakukan hal untuk kesenanganmu sendiri tanpa memikirkan kebahagiaannya. Kau tidak akan bisa menemukan kakak angkat sebaik dirinya Lora. Tapi apa yang kau lakukan? Bukannya balik menyayanginya kau malah menghancurkan hidupnya. Kau merenggut kehormatannya, kau merenggut suaminya dan kau juga merenggut putranya. Tidak sampai di situ, kau bahkan dengan tega merenggut hidupnya dengan melemparkan dia kemari. Sekarang sudah saatnya kau menuai perbuatan jahatmu itu. Kau akan merasakan apa yang kakakmu rasakan di sini. Bersiaplah hidup menderita tanpa ada yang mau membantumu. Kau harus menebus semua kesalahanmu di sini. Kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup segan mati tak mau." Ucap mami Valen keluar dari kamar Lora. Tidak lupa ia mengunci pintunya dari luar agar Lora tidak bisa kabur darinya karena ia tahu jika Lora wanita yang sangat licik.
" Arghhhh!!!!" Teriak Lora.
" Awas kalian semua... Aku akan membalas kalian semua jika sampai aku bisa keluar dari tempat ini. Terutama kamu Lervia, aku akan melenyapkanmu jika sampai kau ada di depanku."
Pada dasarnya Lora wanita yang jahat, ia tidak akan bisa berubah begitu saja. Sudah menjadi kebiasaannya menyalahkan orang lain atas kesengsaraan nya.
" Sshhh.. Perih sekali, mereka benar benar memperlakukan aku seperti binatang, aku harap tidak akan lama berada di sini atau aku akan melenyapkan pelanggan ku satu per satu." Lora berjalan tertatih menuju kamar mandi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Lervia saat ini ia sedang menyiram tanaman yang ada di depan rumahnya. Dengan memakai dress hitam di bawah lutut membuatnya nampak cantik. Dari kejauhan nampak sebuah mobil mewah menuju ke pekarangan rumahnya. Ia menghentikan kegiatannya menatap mobil yang semakin mendekat ke arahnya.
Mobil berhenti tepat di depannya, seseorang turun dari sana. Seorang pria berbadan tinggi dengan memakai kaca mata hitam menatap ke arahnya. Lervia membuka mulutnya lebar, ia tidak menyangka jika yang ia lihat saat ini adalah Wilson.
" Wilson." Lervia melempar selang di tangannya lalu berlari memeluk Wilson.
" Aku merindukanmu." Entah kenapa kata kata itu keluar begitu saja dari bibir Lervia.
Wilson mengulas senyum di sudut bibirnya, ia mengusap pucuk kepala Lervia dengan lembut. Jujur ia juga sangat merindukan sosok wanita yang entah sejak kapan menjadi penghuni hatinya. Mereka saling melepas rindu untuk sejenak, lalu Lervia mengajak Wilson masuk.
" Silahkan duduk Mas!" Ucap Lervia malu malu.
" Apa? Kamu panggil aku apa?" Tanya Wilson duduk di sofa sambil menatap Lervia memastikan pendengarannya.
" Apa ya? Memangnya aku panggil kamu apa?" Tanya Lervia mengelak.
" Kalau nggak salah dengar, tadi kamu panggil aku Mas deh." Ujar Wilson.
" Sini duduk!" Wilson menepuk sofa di sampingnya.
Lervia duduk di samping Wilson, mereka saling melempar tatapan satu sama lain.
" Aku bahagia bisa melihatmu lagi." Ucap Wilson.
" Aku juga." Sahut Lervia cepat membuat Wilson terkekeh.
" Aku akan melamarmu, dimana bapak dan ibumu?"
Mata Lervia membulat tidak percaya dengan ucapan Wilson barusan.
" Secepat itu?" Tanya Lervia memastikan.
__ADS_1
" Lebih cepat akan lebih baik. Kebetulan aku punya usaha di daerah sini, aku akan pindah ke sini demi kamu. Jadi aku akan mengurus dokumen pernikahan kita sekalian aku mengurus dokumen pemindahan ku." Ujar Wilson.
" Baiklah, tapi ayah sama ibu sedang ada acara di balai desa Mas. Mungkin sebentar lagi pulang." Ucap Lervia.
" Hatiku rasanya seperti di siram air es mendengar kamu memanggilku Mas. Sejuk sekali." Wilson menyentuh dadanya sendiri.
" Sebentar lagi kita menikah, tidak mungkin kan aku memanggilmu dengan sebutan nama saja. Rasanya tidak sopan kalau di dengar oleh orang lain." Ujar Lervia.
" Iya sayang." Sahut Wilson membuat Lervia tersipu malu.
" Mas sebenarnya ada yang mengganjal di dalam hatiku, bolehkah aku mengutarakannya?" Lervia menatap Wilson.
" Katakan saja! Jangan sungkan!" Titah Wilson.
" Apa kau yakin dengan keputusanmu yang akan menikahi ku Mas? Kau tahu aku wanita seperti apa, aku bukan wanita baik baik. Aku wanita ko.. "
" Stt!" Wilson meletakkan telunjuknya di bibir Lervia.
" Jangan katakan itu lagi! Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Yang jelas setelah kita menikah nanti kau harus meninggalkan dunia itu. Aku mampu mencukupi semua kebutuhan dan keinginanmu. Apa kau bisa menjanjikan itu padaku?" Tanya Wilson menatap Lervia.
" Aku berjanji Mas, terima kasih." Lervia kembali memeluk Wilson. Ia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Wilson. Pria baik hati yang mau menerimanya dengan tulus tanpa memandang statusnya.
Tak terasa air mata haru menetes membasahi pipinya. Ia segera mengusapnya sebelum Wilson menyadarinya.
" Aku lihat kau sudah lama menderita Lervia, sekarang saatnya kau hidup bahagia bersamaku. Aku berjanji padamu aku akan membuatku bahagia dan merasa beruntung memiliki suami sepertiku. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Mari kita bahagia bersama, itu janjiku padamu." Ucap Wilson tulus.
" Terima kasih." Ucap Lervia.
" Apa kita akan seperti ini sampai ayah dan ibumu kembali?"
Lervia barus menyadari jika sedari tadi ia memeluk Wilson. Dengan malu malu Lervia menjauhkan tubuhnya dari Wilson. Wilson tersenyum melihatnya.
" Senyumlah calon istriku!" Wilson mencubit pelan pipi Lervia.
__ADS_1
Lervia tersenyum lebar sambil menatapnya. Terpancar rona kebahagiaan di wajahnya. Ia berharap ini awal kebahagiaan untuknya. Ia berjanji akan mengabdikan sisa hidupnya untuk Wilson, pria yang telah mencuri hatinya.
TBC....