
Nyonya Dodi menatap Claris dan Wahyu bergantian. Ia mengerutkan keningnya saat melihat wajah Claris yang berapi api.
" Sayang tenanglah dulu! Lebih baik kamu duduk lalu jelaskan semuanya." Ucap Nyonya Dodi.
Claris duduk di samping Wahyu karena memang hanya kursi itu yang kosong. Wahyu nampak tenang dan tetap menyunggingkan senyumannya saat mendapat lirikan sinis dari Claris.
" Begini Ma, Pa. Om om satu ini sudah membodohiku, dia menambahkan surat pernyataan bersedia menikah di dalam dokumen kerja sama yang pernah aku tanda tangani." Ucap Claris menggebu.
Tuan dan Nyonya Dodi hanya saling melempar pandangan saja lalu kembali menatap sang putri tercinta.
" Apa kau sudah meneliti dengan benar semua isi dokumen itu sebelum menandatanganinya nona Clarisa?" Tanya Wahyu menekan kata terakhirnya.
" Ya jelas jelas aku sudah menelitinya, waktu itu tidak ada surat pernyataan bersedia menikah denganmu Om. Kalau ada aku pasti menolaknya bukan malah menandatanganinya. Aku tidak peduli dengan kerja sama itu." Sahut Claris.
" Coba kamu ingat ingat, berapa kali kamu tanda tangan saat itu?" Tanya Wahyu.
Claris mencoba mengingatnya dengan baik dan jelas.
" Tiga." Sahut Claris menunjukkan ke tiga jarinya. Wahyu tersenyum menatap Claris yang seperti orang linglung.
" Kenapa ada tiga tanda tangan di sana? Bukankah seharusnya cuma ada dua? Itu berarti surat pernyataan bersedia menikah sudah ada sejak saat itu hanya saja kamu yang kurang teliti membacanya." Ucap Wahyu membuat mata Claris membola sempurna.
" Tidak.. Aku yakin surat itu tidak ada, pasti kau yang sudah menambahkannya." Ujar Claris.
__ADS_1
" Lalu darimana aku mendapatkan tanda tangan itu Nona? Tanda tangan itu asli tulisan tangan kamu sendiri." Wahyu memberikan surat pernyataan bersedia menikah jika terjadi kerja sama antara dirinya dan tuan Dodi kepada tuan Dodi.
" Mohon di teliti Om! Apakah tanda tangan itu palsu atau asli." Ucap Wahyu.
Tuan Dodi meneliti tanda tangan Claris yang ada di sana dengan seksama. Sebagai seorang pengusaha ia tahu mana yang asli dan mana yang palsu.
" Ini asli tanda tangan Claris, surat ini sah secara hukum. Berarti Claris harus menikah denganmu."
" Apa???" Pekik Claris tidak percaya.
" Tidak Pa, aku tidak mau menikah dengannya. Umur kami sangat jauh berbeda Pa. Lihat saja! Dia sudah tua bahkan mungkin dia seumuran dengan Papa, sedangkan aku masih sangat muda Pa. Aku tidak mau menikah dengannya." Ucap Claris menggerakkan kedua tangannya tanda tidak setuju dengan ucapan papanya.
" Kalau kamu tidak menikah dengannya itu tandanya kerja sama kami batal Claris, dan kau harus membayar denda sebesar dua triliun rupiah, dan darimana Papa bisa menghasilkan uang sebanyak itu? Kalaupun Papa punya, bisa di gunakan untuk membangun usaha lainnya Nak. Kecuali kalau nak Wahyu sendiri yang membatalkannya, maka kamu bebas dari dua hal ini. Tapi Papa rasa nak Wahyu tidak akan mau membatalkannya." Ucap tuan Dodi.
" Aish sepertinya aku harus merayunya agar dia mau membatalkan surat perjanjian ini." Batin Claris.
" Om om yang baik hati dan sangat tampan, tolong batalkan surat pernyataan bersedia menikah itu ya. Aku masih ingin mengejar cita citaku untuk mengembangkan semua bisnisku. Umurku juga masih sangat muda, aku belum mau menikah. Kalaupun aku menikah, aku tidak bisa apa apa. Aku tidak bisa memasak apalagi mengurus pekerjaan rumah. Hidupmu pasti akan terlantar Om, aku pasti akan membuat kekacauan setiap harinya." Ucap Claris mencoba merayu Wahyu.
" Justru itu yang akan membuat hidupku berwarna, selama ini aku merasa kesepian karena hidup sendiri. Aku ingin ada seseorang yang membuat rumahku ramai. Aku rasa jika aku menikah denganmu aku tidak akan kesepian lagi apalagi kalau kita bisa mempunyai anak, pasti rumahku akan terasa ramai." Sahut Wahyu.
Claris melongo sambil mengepalkan erat tangannya, ia menatap sang ayah tercinta.
" Pa, kenapa Papa diam saja dengan kecurangan yang telah di lakukan oleh om om ini? Harusnya Papa marah lah karena anak Papa di jebak sama dia." Ujar Claris.
__ADS_1
" Dia tidak menjebakmu tapi kinerjamu yang kurang teliti. Inilah akibat dari kecerobohanmu dan kau harus menerimanya. Papa tidak mau perusahaan Papa merugi gara gara kamu. Semua keputusan ada di tangan nak Wahyu sendiri, kalau dia mau membatalkannya ya alhamdulillah kalau tidak ya mau tidak mau kamu harus menikah dengannya. Papa rasa tidak ada salahnya juga kalau kamu menikah dengannya, dia single, tampan dan mapan. Mau cari yang seperti apa lagi untuk menjadi pendamping hidupmu hmm?" Ujar tuan Dodi.
Pupus sudah harapan untuk masih sendiri dan memilih calon pendamping hidup sendiri, Claris sangat kecewa dengan sikap papanya yang terkesan tidak mau membelanya. Ia menatap Wahyu dengan penuh kebencian. Tanpa mengatakan apa apa lagi ia beranjak meninggalkan tempat itu.
Ingin sekali Wahyu mengejarnya namun tuan Dodi menghentikannya.
" Biarkan dia sendiri nak Wahyu, dia akan tambah marah jika kamu mendekatinya, walaupun kamu bujuk dengan sejuta rayuan sekalipun." Ucap tuan Dodi.
" Baik Om." Sahut Wahyu.
" Bisakah kau beritahu kami kenapa kau melakukan semua ini pada putri kami?" Tanya Nyonya Dodi menatap Wahyu.
" Sebelumnya saya minta maaf Tante karena cara saya salah. Jujur saya sangat tertarik dengan putri Tante sejak pertama kali kami bertemu. Tentunya sebelum pertemuan kerja sama ini, saya tidak punya keberanian untuk mendekatinya secara langsung karena yang saya lihat dia gadis yang jutek. Apalagi dengan status saya sekarang, saya tambah tidak percaya diri. Saya seorang duda dan sudah tua, saya yakin putri anda tidak akan menerima saya. Maka dari itu saya melakukan kecurangan ini. Jujur sebenarnya memang surat pernyataan itu tidak ada sebelumnya, hanya kertas kosong yang kebetulan ikut di tanda tangani oleh Claris. Dan saya memanfaatkan tanda tangannya untuk mengisi surat pernyataan tersebut." Jelas Wahyu.
" Tapi Tante tidak perlu khawatir! Meski begitu saya janji akan membahagiakan putri Tante. Saya tidak akan menyianyiakannya, saya akan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya akan mencintainya seperti kalian mencintainya selama ini. Itu janji saya pada kalian berdua." Ucap Wahyu sungguh sungguh.
" Kenapa kau terlalu yakin anak muda, apa kau berpikir kami akan merestuinya?" Perkataan Nyonya Dodi membuat Wahyu terkejut, ia menatap Nyonya Dodi dengan seksama.
" Apa maksud Tante? Apa Tante tidak akan memberikan restu untuk niat saya ini?" Tanya Wahyu. Jantungnya terasa berhenti berdetak, ia tidak pernah memikirkan hal ini. Benar kata Nyonya Dodi, kenapa ia begitu percaya diri jika orang tua Claris merestuinya? Benar benar bodoh pikir Wahyu.
" Saya tidak akan.... "
TBC....
__ADS_1