HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
MALAM PENGANTIN


__ADS_3

Kebahagiaan Jia dan Argham menular pada sepasang pengantin baru yang saat ini sedang duduk di atas ranjang di dalam kamar Erick. Erick duduk bersandar pada head board, sedangkan Devita menjadikan bahu Erick sebagai sandarannya sambil satu tangannya memeluk perut Erick. Benar benar posisi yang sangat nyaman menurut Devita. Erick mengelus rambut Devita dengan lembut.


" Sayang, apa kita akan menghabiskan malam ini hanya dengan seperti ini saja?" Sejujurnya Erick sedang memberikan kode pada Devita, apalagi ini malam pertama mereka. Ingin rasanya ia menyentuh Devita sekarang juga, apalagi sesuatu di bawah sana sudah mulai bereaksi hanya memandang tubuh indah Devita yang terbungkus piyama.


" Emmmm." Devita nampak berpikir.


" Hmm apa sayang?" Tanya Erick dengan suara yang mulai berubah serak karena menahan sesuatu yang mulai merasuk jiwanya.


" Aku belum siap Mas." Tiba tiba Erick menjadi lemas, ia menghembuskan kasar nafasnya.


" Ini yang pertama bagiku dan aku sama sekali belum berpengalaman. Aku takut mengecewakan kamu Mas, terus nanti kamu banding bandingin aku sama mbak Ayu." Ujar Devita.


Erick beringsut menatap wajah Devita, ia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


" Aku tidak akan bisa membandingkan kamu dengan wanita manapun sayang. Kau segalanya bagiku, kau pemilik hatiku dan kau adalah hidupku. Kau tidak akan pernah tertandingi oleh siapapun karena hanya kamu yang mampu memikat hatiku dalam waktu singkat." Ucap Erick mengecup kening Devita. Devita memejamkan mata menikmati sentuhan bibir kenyal yang kini menempel pada keningnya.


Erick mendorong tubuh Devita dengan pelan hingga terlentang, untuk sesaat keduanya saling menatap. Erick menatap bibir Devita yang berwarna pink membuat ia bernafsu lagi untuk menciumnya. Ia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Devita dengan lembut. Devita membuka sedikit mulutnya membiarkan Erick mengekspos setiap inchinya. Keduanya saling menikmati manisnya bertukar saliva hingga suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.


Devita mencengkeram bahu Erick membuat Erick melepas pagutannya. Ia mengerti jika Devita telah kehabisan nafas.


" Maaf sayang." Erick mengusap bibir Devita dengan lembut.


" Mau kita lanjutkan?" Tanya Erick memberikan tawaran. Ia menatap Devita sambil mengelus lembut pipi sang istri tercinta. Dengan patuh Devita menganggukkan kepalanya.


Erick tersenyum penuh kemenangan. Ia segera melancarkan aksinya dengan begitu lihai seperti seseorang yang sudah berpengalaman lebih dari puluhan tahun sebelum Devita berubah pikiran. Padahal dengan Ayu, ia hanya melakukannya beberapa kali saja. Ia kembali mencium bibir Devita dengan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas salah satu gundukan milik Devita membuat Devita mendesah tanpa sadar. Jiwa kelakian Erick langsung membuncah, ingin sekali ia langsung melakukan penyatuan saat ini juga.


Ciuman Erick turun ke leher Devita membuat beberapa tanda merah kehitaman di sana. Devita menggelinjang menahan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Dengan lembut Erick segera memulai permainannya. Keduanya melakukan penyatuan bukti cinta mereka hingga pagi. Entah berapa kali Erick dan Devita mencapai pelepasannya yang jelas keduanya sama sama merasa bahagia.


Erick tumbang di samping Devita, ia memeluk Devita lalu mencium keningnya dengan lama.


Cup...


" Terima kasih sayang telah menjaganya untukku, aku mencintaimu." Ucap Erick.

__ADS_1


Terasa begitu lelah Devita tidak mampu menyahut, ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah itu ia memejamkan matanya merasuk ke alam mimpi. Begitupun dengan Erick, ia tidur sambil memeluk Devita. Nyaman.. Rasanya begitu nyaman dan bahagia hingga ribuan kupu kupu terasa berterbangan memenuhi hatinya.


...****************...


Sinar matahari nampak menyilaukan mata Devita yang masih terpejam. Ia mengucek matanya lalu mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru kamar. Kosong... Erick sudah tidak ada lagi di atas ranjang, Devita tersenyum mengingat kejadian semalam. Ia duduk bersandar pada head board, sekali lagi ia mengembangkan senyumannya melihat piyama yang sudah menempel di tubuhnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Erick.


" Kemana mas Erick ya? Apa dia sedang mandi?" Tanya Devita pada diri sendiri.


Devita turun dari ranjang, ia segera mandi. Sampai ia selesai mandi, Erick belum juga kembali. Ia turun ke bawah mencari cari Erick namun tidak kunjung ketemu hingga ia berpapasan dengan bi Nah yang baru pulang dari pasar.


" Apa nona mencari den Erick?" Tanya bi Inah.


" Iya Bi, apa Bibi melihatnya?" Devita balik bertanya.


" Sudah sejak jam empat pagi den Erick keluar Nona, katanya den Erick mendapat telepon dari mbak Ayu kalau Mikayla masuk rumah sakit." Devita tertegun mendengar ucapan bi Nah.


Tak lama ia pun tersenyum, Erick telah memperlihatkan kepeduliannya.


Devita segera mengambil kunci mobilnya, tak lupa tas selempang yang selalu menemaninya. Ia segera menuju rumah sakit xx untuk menjenguk anak tirinya.


Devita melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Mikayla di rawat. Sampai di sana ia segera menuju bagian informasi untuk menanyakan kamar Mikayla. Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia segera menuju ruang VIP melati dua yang terletak di lantai lima belas menggunakan lift.


Sampai di depan ruangan, Devita membuka pintunya perlahan.


Deg...


Jantung Devita berdetak sangat kencang saat melihat Erick menggendong Ayu. Mereka nampak sangat dekat. Sakit... Hati Devita terasa seperti di remas remas.


" Dokter Devita, anda di sini?"


Mendengar suara suster, Erick menoleh ke belakang.


Brak...

__ADS_1


" Awh Erick.. " Pekik Ayu saat tubuhnya mendarat dengan sempurna di lantai karena Erick mendadak melepasnya.


" Sa.. Sayang." Erick mendekati Devita yang masih mematung di depan pintu.


Ingin rasanya Devita meredam kecemburuan yang membuncah di hatinya namun ia tidak bisa. Ia segera berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Melihat itu, Erick langsung mengejarnya.


" Sayang jangan salah paham!" Erick mencekal tangan Devita.


" Lepas Mas! Aku mau pulang." Ucap Devita.


Bukannya menjauhkan tangannya, Erick malah menarik Devita ke dalam pelukannya.


" Lepas Mas!!!" Devita mencoba berontak namun tenaga Erick jauh lebih kuat darinya.


" Tadi Ayu terpeleset di kamar mandi, kakinya terkilir. Itu sebabnya aku menggendongnya." Jelas Erick.


" Apapun itu alasannya Mas, yang jelas hatiku sakit melihatmu menyentuh wanita lain meskipun itu mantan istrimu. Aku akui aku memang egois, aku memintamu untuk peduli pada Mikayla bukan mbak Ayu. Kau bahkan ke sini sejak menjelang pagi tadi tapi sampai sekrang kau tidak mengabari aku. Itu sudah cukup membuktikan kalau aku tidak berarti dalam hidupmu." Ucap Devita menohok hati Erick.


" Tidak sayang, kau salah. Aku minta maaf karena aku lupa mengabarimu, ponselku kehabisan daya dan aku tinggal di mobil karena saking paniknya saat Ayu telepon dan memberi tahu aku kalau Ayu kejang kejang. Dia memintaku datang untuk membantunya membawa Mikayla ke rumah sakit. Sampai di sini aku tidak tega meninggalkannya sendiri karena Ayu terlihat sangat mengantuk, jadi aku minta dia untuk tidur dan aku yang menjaga Mikayla. Pas dia bangun tidur, dia bentar mencuci muka di kamar mandi malah dia jatuh." Terang Erick.


" Kau sangat berarti dalam hidupku, aku mencintaimu. Tolong jangan marah lagi! Kau bisa menghukumku tapi jangan abaikan aku!" Ucap Erick.


" Aku akan memberi hukuman kepadamu, sekarang lepaskan aku dulu." Titah Devita.


Erick segera melepaskan pelukannya.


" Jangan pulang sebelum Mikayla sembuh, aku pulang dulu."


Setelah mengucapkan itu Devita berlalu begitu saja, Erick melongo melihat kepergiannya.


" Sial!!!"


TBC....

__ADS_1


__ADS_2