
Sinar matahari menembus kamar Valle melalui celah celah korden. Jia mengerjapkan matanya menatap sekeliling, rupanya hari sudah pagi. Jia langsung beranjak duduk karena sadar telah bangun kesiangan, ia tidak menyangka niatnya menidurkan Raffa lebih dulu malah membuatnya ketiduran. Terbesit rasa bersalah kepada Argham karena tidak menemaninya di malam pertama mereka.
" Kira kira mas Argham pulang jam berapa ya? Kenapa tidak membangunkan aku?" Gumam Jia bertanya tanya.
Jia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah itu ia keluar dari kamar Valle menuju kamarnya. Sampai di kamarnya, Jia nampak mengerutkan keningnya. Pasalnya kamar pengantinnya terlihat tidak berpenghuni, kelopak mawar masih sangat rapi di atas ranjang. Lilin lilin yang semula menyala pun kini sudah padam hanya ada sisa sisanya saja.
" Mas Argham belum pulang, kemana dia?" Jia nampak berpikir kemana perginya Argham. Ia segera kembali ke kamar Valle mengambil ponselnya. Sudah menjadi kebiasaan Jia mematikan data pada ponselnya ketika ia tidur karena ia tidak mau di ganggu oleh siapapun. Jia mengidap penyakit imsonia, akan sangat sulit untuk tidur kembali jika ia sudah terbangun di tengah malam. Beruntung semalam Raffa tidur dengan tenang, ia berharap akan selalu seperti itu untuk malam malam berikutnya.
Sampai di kamar Valle, Jia segera mengaktifkan data seluler pada ponselnya.
Drt... Drt...
Ponsel bergetar beberapa kali tanda pesan masuk. Baik itu pesan whatsapp maupun notif pesan lainnya. Jia melihat ada tiga pesan di whatsapp nya, ia segera membuka yang ternyata pesan berasal dari kontak Alex.
Deg....
Jantung Jia terasa berhenti berdetak saat membuka kiriman foto yang Alex kirimkan padanya. Hatinya memanas, tiba tiba rasa sakit menjalar di hatinya saat melihat foto Argham bersama Lora masuk ke dalam hotel.
Alex bersama wanita lain di hotel xx ~Alex
Tubuh Jia terhuyung ke belakang, dadanya terasa sesak. Terlambat... Ia terlambat membuka ponselnya, rasa penyesalan menghantam dadanya. Ia menyesal karena telah mematikan data ponselnya sehingga ia terlambat membuka pesan penting yang di kirimkan Alex untuknya.
Jia langsung berlari keluar, ia mengendari motornya menuju hotel tempat Argham dan Lora menginap.
Jalanan terlihat sangat ramai karena waktu menunjukkan jam enam pagi, waktunya anak anak berangkat ke sekolah dan orang orang berangkat bekerja menambah padatnya jalanan. Jia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, banyak kendaraan roda empat yang ia dahului. Hingga lima belas kemudian, Jia sampai di parkiran hotel xx.
Setelah memarkirkan motornya, Jia langsung masuk ke dalam menemui receptionist hotel tersebut, dengan berbagai alasan ia memaksa sang receptionist untuk memberitahu kamar atas pesanan Argham ataupun Lora. Ia juga memaksa petugas hotel untuk memberikan kunci cadangan kepadanya. Dengan kelihaian yang Jia miliki, akhirnya ia mendapatkan apa yang ia mau.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, jantung berdetak kencang, Jia menuju kamar nomer satu kosong satu. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi dengan kedua orang berbeda lawan jenis di kamar itu. Sampai di depan kamar, Jia membuka kunci dengan tangan gemetar. Bahkan berkali kali kunci itu jatuh ke lantai. Ia tak kuasa melihat apa yang akan terjadi di depan mata.
Ceklek....
Deg....
Jantung Jia terasa berhenti berdetak saat melihat kedua pria dan wanita itu bergelung dalam satu selimut. Pakaian keduanya berserakan di lantai, Jia dapat menangkap dengan jelas apa yang terjadi di sana semalam. Ingin rasanya Jia menjerit sekeras kerasnya saat ini, namun sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tidak terbawa emosi. Ia membutuhkan penjelasan Argham lebih dulu.
Perlahan Jia berjalan mendekati ranjang, hatinya kembali terasa sakit bagaikan di iris belati tajam. Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya. b
" Mas Argham, bangun Mas!" Jia mengguncang tubuh Argham sambil mengusap air matanya.
Merasa tidurnya terganggu, Argham membuka matanya tepat bertatapan dengan manik mata milik Jia.
Deg...
" Apa yang Mas Argham lakukan dengan Lora?" Pertanyaan Jia membuat Argham bingung, ia mengerutkan keningnya. Di samping Argham, Lora pun terbangun karena mendengar suara berisik.
Deg..
Jantung Argham berdetak sangat kencang, ia langsung turun dari ranjang dan betapa terkejutnya ia saat ia tidak berpakaian. Ia hanya mengenakan celana boxernya saja. Jia memejamkan mata menahan rasa sakit di dalam hatinya.
" Jia, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak melakukan apapun. Aku juga tidak tahu kenapa aku bersamanya. Tolong percayalah padaku sayang." Ucap Argham mencoba memberi penjelasan. Ia segera memakai pakaiannya kembali. Berbeda dengan Lora, ia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Kau saja tidak ingat bagaimana kita bisa berada di sini Kak, apalagi mengingat tentang apa yang telah kau lakukan padaku semalam. Lalu dengan percaya dirinya kau mengatakan kalau kau tidak melakukan apapun." Ucap Lora.
Argham menatap Lora dengan tajam.
__ADS_1
" Aku yakin tidak terjadi sesuatu dengan kita semalam. Kau sengaja memanfaatkan keadaanku yang sedang mabuk, aku melihat Jia dalam dirimu, Lora." Ujar Argham.
" Jika kita tidak melakukan apapun, lalu kenapa kita dalam keadaan seperti ini Kak? Kau memaksaku untuk melayanimu, jika kau menganggapku sebagai Jia itu bukan salahku. Yang jelas kau telah menyentuhku dan aku mau menuntut tanggung jawab darimu Kak." Ucap Lora membuat Argham terkejut.
" Aku tidak akan pernah melakukan apa yang kamu mau. Jangan berpikir aku tidak tahu kelicikanmu Lora." Ucap Argham.
" Ternyata begini peringaimu yang sebenarnya Kak, pantas saja dulu kakakku meninggalkanmu. Dia tidak salah meninggalkan pria yang tidak bertanggung jawab sepertimu." Ucap Lora tersenyum remeh.
" Mas Argham akan bertanggung jawab jika kau bisa membuktikan kalau mas Argham benar benar menyentuhmu malam tadi Lora." Ucapan Jia membuat Argham terkejut. Bagaimana Jia bisa mengatakan hal seperti itu dengan mudahnya.
Argham menatap mendekati Jia lalu menangkap wajahnya dengan kedua tangannya.
" Sayang bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti ini? Bagaimana bisa kau meminta aku untuk bertanggung jawab kepadanya? Aku tidak melakukan apa apa sayang, dia bohong. Percayalah padaku." Ujar Argham.
" Mas Argham juga harus bisa membuktikan kalau mas Argham tidak menyentuhnya, kalau mas Argham tidak bisa membuktikan, aku tidak akan mempercayai mas Argham lagi." Ucapan Jia bagaikan pukulan telak bagi Argham. Ia tidak menyangka jika Jia tidak mempercayainya.
" Sayang dengarkan aku!" Ucap Argham.
Jia menepis tangan Argham, ia segera berlari keluar dari kamar laknat itu dengan pipi berurai air mata. Di dalam sana Argham menatap tajam ke arah Lora.
" Akan aku pastikan kau menyesali perbuatanmu seumur hidupmu, jika tidak jangan panggil aku Argham."
Argham segera berlalu dari sana dengan perasaan entah. Masalah ucapannya kemarin belum selesai di tambah masalah besar seperti ini.
" Jia.. Semoga kau percaya padaku. Maafkan aku! Aku telah menyakitimu di hari pernikahan kita. Aku minta maaf... Semoga kau mau memaafkan aku."
TBC.....
__ADS_1