HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
UJIAN DARI TUHAN


__ADS_3

Jantung Jia berdetak sangat kencang, ia tidak bisa bergerak sama sekali karena jika ia menggerakkan kepalanya sedikit saja makan hidungnya akan menempel di wajah Erick dan ia tidak mau sampai itu terjadi. Tidak mau melihat wajah Erick, ia memilih untuk memejamkan matanya. Suara deru nafas Erick yang terasa hangat menyapu wajah Jia. Erick semakin memajukan wajahnya membuat hidungnya menyentuh hidung Jia.


Argham yang melihatnya dari kejauhan langsung terbakar amarah, ia berlari mendekati keduanya lalu menarik kasar baju bagian belakang Erick dan...


Bugh...


Erick jatuh tersungkur dengan sudut bibir berdarah akibat pukulan Argham. Tidak sampai di situ, Argham bahkan memukul Erick membabi buta sampai Erick terbatuk dan mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Melihat itu Jia menjadi panik, ia takut sampai Erick menuntut suaminya.


" Mas sudah." Jia menarik tangan Argham menjauh dari sana meninggalkan Erick sendirian.


" Brengsek!!!" Umpat Erick dengan keras.


Tanpa sadar Jia terus menarik tangan Argham menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan Wahyu, namun sebelum sampai di depan ruangan Wahyu, Jia kaget dan langsung menghentikan langkahnya saat Argham menepis tangannya.


" Kenapa Mas?" Tanya Jia menatap Argham.


" Kamu tanya kenapa?" Jia menganggukkan kepala.


" Kenapa kau diam saja saat pria itu mau menciummu? Siapa dia? Apa dia salah satu pria masa lalumu?" Selidik Argham dengan perasaan kesal. Ia merasa marah karena miliknya di sentuh orang lain.


" Aku tidak bisa bergerak Mas, kalau aku bergerak sedikit saja itu sama saja aku menciumnya." Ujar Jia memberikan alasan, namun Argham tidak menerima alasan yang tidak masuk akal itu. Apalagi Jia tidak mau mengatakan siapa pria itu.


" Lalu kau akan diam saja saat dia menciummu begitu?" Jia merutuki ucapannya sendiri yang salah bicara.


" Bukan begitu maksudku Mas, aku juga sedang memikirkan cara untuk bisa kabur darinya. Tapi sebelum aku berhasil mendapatkannya Mas Argham sudah ambil tindakan. Tapi aku bersyukur Mas Argham datang tepat waktu, terima kasih sudah menolongku." Ujar Jia.


Mungkin jika Argham sedang tidak dalam keadaan emosi, ia akan senang menerima ucapan terima kasih dari Jia, namun sekarang ia terlanjur marah hingga membuatnya tidak menghiraukan ucapan Jia. Ia merasa kecewa karena menurutnya Jia tidak melakukan perlawanan.


" Aku rasa itu hanya alasanmu saja." Jia terbengong mendengar ucapan Argham.

__ADS_1


" Ini tasmu, aku pergi dulu." Argham memberikan tas Jia yang tertinggal di mobil pada tangan Jia. Ia segera berlalu dari sana membawa rasa kecewa yang menjalar di dalam hatinya. Niat hati ingin memberikan tas Jia malah ia melihat kejadian yang sangat mengganggu mata dan hatinya. Ternyata bukan hanya Wahyu pria yang mencintai Jia, namun pria lain juga. Pria yang baru pertama ia lihat dan ia beri hadiah bogeman pada pipinya.


Jia mematung menatap kepergian Argham, tanpa membuang waktu ia segera berlari mengejar Argham. Baginya suaminya lebih penting dari segalanya.


" Mas tunggu!" Teriak Jia tanpa mempedulikan orang orang sekitar termasuk Erick yang duduk di tempat semula sambil mengobati lukanya.


Argham menuju mobilnya yang ia parkir di seberang jalan. Ia tidak memperdulikan teriakan Jia, baginya ia harus segera pergi dari sana sebelum ia kehilangan kendali. Ia paling tidak suka jika apa yang telah menjadi miliknya di sentuh oleh orang lain.


" Mas tunggu!" Jia kembali memanggil Argham saat Argham membuka pintu mobilnya, ia harus menjelaskan semuanya kepada Argham. Sampai ia tidak melihat ke kanan dan ke kiri hingga ia tidak menyadari sebuah mobil melaju kencang dari sisi kanan.


Tinnnnn


Suara klakson mobil terdengar memekakkan telinga, Argham yang menyadarinya segera berlari menghampiri Jia yang berada di tengah jalan.


" Jia Awasssss!!!!" Teriak Argham.


Brak.....


Tubuh Argham terpental karena tertabrak kuda besi yang tidak sempat mengerem. Melihat itu Jia refleks berteriak histeris.


" Mas Argham!!!!!"


Tubuh Jia terasa lemas bersamaan dengan tubuh Argham yang mendarat sempurna di atas aspal. Darah segar mengalir dari kepala bagian belakang membuatnya tak sadarkan diri. Pengemudi mobil yang menabraknya merasa ketakutan hingga ia melarikan diri dengan membawa barang bukti kejahatannya berupa kuda besi.


Jia berlari mendekati tubuh Argham yang tergeletak, ia membawa kepala Argham ke dalam pangkuannya. Orang orang mulai mengerumi mereka berdua.


" Mas bangun! Bangun Mas Jangan tinggalkan aku! Bangun Mas!" Jia menepuk pipi Argham berharap Argham mau membuka mata. Namun Argham tidak bergerak sama sekali membuat Jia semakin panik.


" Tolong!!!!! Tolong bawa suami saya ke UGD. Tolong cepat!!!" Jia nampak panik hingga tak sadar berteriak meminta tolong begitu saja.

__ADS_1


Entah siapa yang melapor, dari kejauhan nampak seorang suster dan security mendorong brankar yang biasa di gunakan untuk menggeledek pasien menghampiri mereka. Tanpa membuang waktu, sang security mengangkat tubuh Argham ke atas brankar. Suster segera mendorong brankar tersebut menuju instalansi gawat darurat di ikuti Jia dari belakang.


" Ya Tuhan.... Apa yang sedang Kau rencanakan pada suamiku? Kenapa hal buruk ini sampai menimpa Mas Argham? Ya Tuhan apapun yang Engkau rencanakan aku berharap semua akan berakhir baik. Aku mohon ya Rob, selamatkanlah suamiku. Kembalikan dia padaku dalam keadaan sempurna seperti sebelumnya ya Tuhan. Dan berilah ketabahan untukku menjalani semua ini. Aku mohon bertahanlah Mas, demi aku dan anak anak kita." Doa Jia dalam hati.


Argham masuk ke ruang UGD sedangkan Jia tidak di perbolehkan masuk. Ia hanya bisa menunggu di depan ruangan sambil berjalan mondar mandir tak tentu arah. Pikirannya kalut, hatinya merasa cemas dengan keadaan ini. Ingin rasanya ia berteriak mengeluarkan segala kegundahan hatinya. Namun sebisa mungkin ia tetap mengendalikan diri dengan memikirkan kedua anak anaknya.


Setengah jam lamanya Jia menunggu, ia terus menatap pintu ruangan namun sampai sekarang tidak ada satu pun yang keluar dari sana. Hal ini membuat Jia semakin khawatir.


Ceklek....


Dokter keluar dari ruang UGD, Jia segera menghampirinya.


" Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Jia menatap dokter yang menjawabnya dengan gekengan kepala. Apa maksud kode yang dokter berikan padanya? Apakah Argham tidak bisa di selamatkan? Atau terjadi sesuatu hal buruk kepada Argham? Berbagai pikiran buruk bersarang di kepala Jia.


" Pasien telah kehilangan banyak darah, dan saat ini membutuhkan transfusi darah dengan segera Nyonya. Dan kebetulan stock darah di rumah sakit kami sedang kosong begitupun dengan kantor palang merah karena pasien memiliki golongan darah yang langka." Rasanya begitu lemas mendengar perkataan dokter namun Jia tidak patah semangat, ia akan berusaha semaximal mungkin untuk menyelamatkan suaminya.


" Memangnya apa golongan darah suami saya Dok?" Jia bertanya lagi agar ia bisa mencari pendonor darah yang cocok untuk Argham.


" O positif."


Deg....


Jantung Jia terasa berhenti berdetak, entah apa yang sedang Tuhan rencanakan untuknya hingga Argham memiliki darah yang sama dengan Alex.


Akankah Alex mau membantu Jia dengan mendonorkan darahnya untuk menolong Argham dengan suka rela? Atau Alex akan mengambil keuntungan agar Jia kembali padanya?


Tunggu di bab selanjutnya...


TBC..

__ADS_1


__ADS_2