HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
MENGIKHLASKAN VALLE


__ADS_3

Bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang, setelah di beri harapan lalu di hempaskan begitu saja, Tomi nampak mematung mendengar ucapan Valle. Ia membalikkan badan hendak menghampiri Valle kembali, namun Valle keburu mengangkat telepon dari seseorang membuat Tomi mengurungkan niatnya. Ia melanjutkan tujuan awal yaitu mengambil mainan ke kamar Raffa.


Benda pipih menempel pada telinga Valle, ia nampak serius mendengarkan seseorang yang berbicara di sebrang sana. Alex... Alex meneleponnya dan memintanya untuk segera pulang.


" Pulanglah sayang! Atau mau papa yang menjemputmu ke sana?" Ujar Alex.


Valle nampak memutar bola matanya malas. Ia merasa tidak suka kembali ke rumah itu.


" Aku akan pulang sendiri tapi nanti malam, aku masih mau bermain dengan Raffa. Papa tidak usah khawatir! Aku tidak akan kabur."


Klik...


Valle mematikan sambungan teleponnya dengan tidak sopan. Di sana Alex hanya bisa menghela nafasnya saja, ia tahu jika Valle membencinya. Ia akan berusaha untuk lebih memahami keinginan Valle agar hubungannya dengan putri tercinta tidak semakin jauh.


Tomi menghampiri Valle dengan membawa mainan di tangannya. Ia mengambil mobil mobilan dan beberapa boneka berbentuk hewan milik Raffa.


" Ini." Tomi meletakkannya di depan Raffa.


" Terima kasih Om." Ucap Valle.


Sebelum memberikan mainan itu kepada Raffa, Valle lebih dulu mengelapnya menggunakan tisu basah anti bacteria agar bakteri ataupun virus yang menempel mati seketika.


" Mainan ya sayang." Valle mengelus kepala Raffa setelah memberikan mainan kepada Raffa.


Tomi menatap wajah Valle yang nampak berubah sendu, tidak seceria tadi. Ia merasa Valle terganggu dengan jejak sialan di lehernya.


" Valle." Valle menatap Tomi.


" Aku tidak sedang dekat dengan wanita manapun, kalau kamu tidak percaya kamu bisa bertanya pada papamu. Semalam aku mabuk, seperti biasa kalau ada pria mabuk pasti wanita wanita penghibur selalu mendatanginya. Seorang wanita mencoba merayuku, namun aku menolaknya. Dan dengan kurang ajarnya dia malah menggigit leherku hingga meninggalkan jejak hitam ini." Terang Tomi. Entah mengapa ia merasa harus menjelaskannya kepada Valle. Sepertinya hatinya bena rbenar menginginkan Valle menjadi pasangannya.


Valle merasa terkejut dengan ucapan Tomi, untuk apa Tomi menjelaskan kepadanya? Apakah Tomi benar benar dengan perasaannya? Apakah Tomi benar benar mencintainya? Tomi sudah tua, sedangkan dirinya masih kecil. Tiba tiba Valle bergidik ngeri. Ia menjadi takut sendiri, ia tidak bisa membayangkan jika Tomi benar benar jadi jodohnya. Apa iya ia akan menjadi istri Om om? Valle jadi merutuki ucapannya yang seolah memberikan lampu hijau pada Tomi.


" Valle." Tomi menyentuh bahu Valle membuat Valle tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


" Ah maaf Om, aku harus masuk ke dalam." Ucap Valle.


" Ayo Raffa." Valle menggendong Raffa meninggalkan Tomi sendirian. Tomi merasa aneh dengan sikap Valle, ia menatap punggung Valle yang mulai menjauh darinya dengan perasaan tak menentu.


" Apa Valle marah padaku karena tanda ini? Kenapa tiba tiba dia seperti menghindariku? Apa dia berubah pikiran? Apa dia tiba tiba jijik pada pria tua sepertiku?Astaga... Apa yang harus aku lakukan pada gadis sekecil dia? Sepertinya aku benar benar tidak waras karena terus memikirkannya." Tomi menyugar kasar rambutnya. Ia pun memilih untuk pulang menata hatinya sebelum ia mengambil langkah lebih jauh lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini Argham memaksakan diri untuk mengantar Valle ke rumahnya bersama dengan Jia, padahal kondisinya masih belum benar benar pulih. Ia merasa harus berbicara dari hati ke hati dengan Alex tentang hak asuh Valle. Ia tidak mau menempatkan Valle dalam kesulitan, Valle sudah besar dan sudah bisa menentukan pilihannya sendiri mau tinggal bersama siapa.


Setelah mengemudi mobil selama tiga puluh menit, Argham menghentikan mobilnya di depan rumah Alex. Mereka bertiga turun dari mobil lalu masuk ke dalam, Alex beserta ibunya menyambut kedatangan mereka dengan sopan.


" Silahkan duduk!" Ucap Alex.


Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Alex menatap Valle yang saat ini menundukkan kepala.


" Valle, kamu tidak mau masuk ke kamarmu?" Tanya Alex membuat Valle mendongak menatapnya.


Valle membalasnya dengan gelengan kepala, hal ini membuat Alex tahu jika Valle memang tidak berkenan tinggal bersamanya.


" Apa kau pikir aku tidak bisa membuat putriku bahagia?" Alex menatap Argham dengan tatapan tajam.


" Aku yakin tidak ada seorang ayah yang tidak bisa membuat putrinya bahagia, tapi kembali lagi pada putri itu sendiri, jika kebahagiaannya tidak pada ayahnya, lalu kita bisa apa?" Pertanyaan Argham membuat Alex bungkam.


" Valle sudah besar, dia sudah bisa menentukan hidupnya sendiri. Aku tidak memaksa, jika Valle ingin tinggal bersamamu aku tidak akan mencegahnya, tapi jika dia ingin tinggal bersamaku maka kau juga tidak boleh mencegahnya." Sambung Argham.


" Jika darah yang kau sumbangkan padaku harus mendapat imbalan, aku akan memberikan sebesar apapun yang kau inginkan, tapi tolong jangan hancurkan kebahagiaan putriku. Jangan menekannya untuk tetap tinggal bersamamu jika dia tidak menginginkannya. Biarkan putriku bahagia dengan pilihannya sendiri." Ucap Argham mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.


Alex dan ibunya benar benar terkejut melihat sikap Argham. Mereka dapat melihat besarnya kasih sayang yang Argham tunjukkan untuk Valle kepada mereka. Alex merasa dalam posisi yang sulit, di sisi lain ia ingin tinggal bersama putrinya dan memberikan kebahagiaan untuk Valle. Namun di sisi lain, ia tidak tega melihat Valle yang merasa tidak bahagia hidup bersamanya. Mungkin hidup bersama Jia dan Argham jalan terbaik untuk Valle.


" Sejujurnya aku ingin Valle tinggal bersamaku, aku merasa kesepian setelah kehilangan Jia. Aku ingin Valle menjadi obat untuk mengusir rasa kesepianku, tapi sepertinya aku memang di takdirkan untuk sendiri. Aku tahu semua ini terjadi karena kesalahanku, jadi aku harus menanggung semuanya sendiri." Ucap Alex sedih. Ia menatap Valle begitupun sebaliknya.


" Pergilah bersama mereka jika itu bisa membuatmu bahagia. Maafkan Papa." Alex beranjak dari kursinya, ia meninggalkan mereka semua dengan perasaan hancur menuju kamarnya.

__ADS_1


Ceklek ceklek..


Alex mengunci pintu kamarnya dari dalam. Argham dan yang lainnya saling melempar pandangan, sejujurnya mereka tidak tega melihat Alex yang terpuruk setelah kehilangan anak dan istrinya. Namun mereka tidak bisa berbuat apa apa. Tidak mungkin mereka memaksakan kehendak mereka pada anak seumuran Valle atau bisa menyebabkan psikis Valle tertekan.


" Maafkan aku Bu, ini di luar kendaliku." Ucap Jia menatap mantan ibu mertuanya.


" Ibu tidak tahu harus berkata apa Jia, sesungguhnya ibu juga tidak menginginkan ini dari kalian berdua. Tapi apalah daya ibu, semua sudah berakhir. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian semua." Sahut Bu Lastri.


" Valle." Valle menatap nenek yang selama ini terlihat begitu menyayanginya.


" Walaupun kamu tidak mau tinggal bersama papamu, tapi jangan pernah lupakan jika dia papa kandungmu. Suatu hari nanti kau membutuhkannya sebagai wali nikahmu. Maafkanlah segala kesalahan dan sikap papamu yang telah menyakitimu selama ini. Jangan pernah benci papamu atau papamu akan hancur. Jangan memutus ikatan yang terjalin di antara hubungan kalian, kau mengerti kan apa yang nenek maksud?"


" Aku mengerti Nek, aku tidak akan melupakan Papa. Maafkan aku, aku tidak bisa tinggal bersama kalian karena aku tidak mau jauh dari mama. Mama adalah segalanya bagiku, jika aku jauh dari mama maka sama saja jiwaku ada tapi ragaku yang tiada." Ucap Valle.


" Berbahagialah sayang, nenek akan mendoakan untuk setiap langkahku menggapai kebahagiaan." Ucap Bu Lastri.


" Terima kasih Nek." Ucap Valle.


" Sekarang berkemaslah! Biarkan mama dan papamu menunggumu di sini. Nenek mau ngobrol sama mereka." Ujar bu Lastri.


" Baik Nek." Sahut Valle menuju kamarnya.


Bu Lastri menatap Jia dan Argham bergantian. Argham yang melihatnya langsung menggenggam tangan Jia. Ia khawatir bu Lastri akan menyudutkan Jia dengan situasi sekarang ini.


" Apa hidupmu lebih bahagia dari sebelumnya Jia?"


" Iya Bu." Sahut Jia.


" Ibu dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari matamu, semoga hubungan kalian langgeng selamanya. Semoga Argham jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untukmu dan semoga Argham bisa membuatmu bahagia selamanya." Ujar bu Lastri.


" Amin." Sahut Jia.


" Aku berjanji akan membuat hidup Jia dan Valle bahagia Bu, ibu tidak perlu khawatir." Ucap Argham di balas anggukkan kepala oleh Bu Lastri.

__ADS_1


Setelah Valle bersiap, mereka bertiga pamit pulang. Mobil Argham mulai menjauh meninggalkan pelataran rumah Alex, Alex yang mengintipnya dari jendela mengusap air mata kesedihan yang menetes di pipinya.


TBC.....


__ADS_2