
Mohon maaf kemarin author tidak up date karena lagi tidak enak badan. Author ucapkan Terima kasih untuk kalian semua yang telah mendukung karya author. Apalah artinya Author tanpa kalian semua.
Miss U All...
Happy Reading...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga...
" Lervia." Jia menyenggol bahu Lervia yang ia lihat sedari tadi melamun terus.
" Ah iya." Sahut Lervia gugup tersadar dari lamunannya.
Lervia menatap Raffa dalam gendongan Jia dengan mata berkaca kaca.
" Inikah bayi yang telah aku lahirkan satu tahun lalu? Inikah dia? Wajahnya begitu tampan seperti Argham. Aku tidak menyangka bayi yang aku bawa berbuat maksiat telah memancarkan cahaya syurga di wajahnya. Ya Tuhan... Aku sangat bersyukur telah melahirkannya. Tolong jaga dia karena aku tidak bisa menjaganya." Batin Lervia.
Tanpa sadar ia mengulurkan tangannya lalu mengusap lembut pipi Raffa.
Deg...
Ada ribuan kupu kupu beterbangan di dalam dadanya. Gelenyar aneh merambat di dalam hatinya. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
Tes....
Lervia segera mengusapnya lalu membekap mulutnya yang sudah siap mengeluarkan jeritan dan tangisan kepiluannya. Tak mau membuat hatinya semakin rapuh, ia segera berlari keluar meninggalkan rumah Argham. Jia menatap Argham begitupun sebaliknya, Argham menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya seolah memberi isyarat jika Lervia membutuhkan waktu.
Jia mendekati Argham.
" Anak Papa sayang." Argham mencium pipi Raffa.
" Pap.. pa." Raffa mengulurkan kedua tangannya ke arah Argham, Argham langsung menggendongnya.
" Ada apa sayang hmm? Papa mau mengantar kak Valle beli buku dulu ya sayang, nanti kita main lagi." Ucap Argham.
" Atau mau ikut sekalian kita jalan jalan?" Argham menatap Jia.
" Enggak lah Mas, aku di rumah saja pengin tidur lagi. Aku mulai mengantuk kalau jam jam segini." Ujar Jia.
" Ya sudah kamu istirahat saja, biar Raffa sama aku." Ujar Argham sambil mencium kening Jia.
" Iya Mas, kalian hati hati." Sahut Jia.
__ADS_1
" Aku ke kamar dulu Mas." Ucap Jia menuju kamarnya. Sedangkan Valle dan Argham segera pergi ke toko buku terbesar di kota itu.
Di tempat lain tepatnya di dalam rumah Lervia, Lervia terduduk lemas di sofa sambil tergugu. Ia mengeluarkan rasa sesak di dalam dadanya.
" Hiks... " Isak Lervia menundukkan kepala pada lengannya.
" Ya Tuhan.. Kenapa semua ini terjadi kepadaku? Apa salahku yang sebenarnya? Kenapa aku harus menanggung semua ini. Aku kehilangan segalanya, kehormatanku, suamiku dan putra kecilku. Hiks.. Bukan hanya itu, aku juga kehilangan hidupku. Kenapa aku tidak mati saja? Kenapa aku harus hidup seperti ini?" Lervia memukul mukul sandaran sofa dengan kesal.
Bu Nella yang baru keluar dari dapur segera menghampiri Lervia. Ia duduk di dekat Lervia lalu mengusap kepalanya. Rasanya begitu menyakitkan melihat putri kandungnya menderita karena ulah putri angkatnya. Ia tidak menyangka jika Lora tega menghancurkan keluarganya seperti ini.
Ya.. Lervia menceritakan semua kebencian Lora terhadapnya kepada ibunya. Ia sudah tidak tahan lagi memendam rahasia yang selama ini ia simpan sendiri. Ia merasa sudah saatnya ayah dan ibunya tahu siapa Lora sebenarnya.
" Yang sabar Nak! Maafkan ibu dan ayah yang tidak bisa melihat penderitaanmu selama ini. Ayah dan ibu telah di butakan oleh kata kata manis Lora. Ia benar benar lihai dalam mengarang dan memainkan perannya. Jika ibu tahu dari awal, ibu pasti akan membantumu Nak. Ibu tidak akan membencimu hingga ibu lebih memihak pada Lora. Hiks.. Ibu minta maaf Nak! Ibu benar benar minta maaf padamu, ibu menyesal Lervia hiks.. " Ucap bu Nella.
Mendengar ibunya terisak, Lervia mendongak. Ia memindahkan kepalanya ke pangkuan sangat ibunda tercinta.
" Ibu tidak salah, ini sudah takdir Tuhan yang harus aku jalani Bu. jangan pernah ibu menyalahkan diri ibu sendiri, aku tidak pernah menyalahkan ibu ataupun ayah." Ucap Lervia. Air mata terus mengalir deras dari mata cekungnya.
" Kau memang anak yang baik Nak, semoga Lora menuai apa yang telah dia tanam kepadamu. Dia pasti akan merasakan apa yang kamu rasakan selama ini Nak. Sekali lagi maafkan ibu!" Bu Nella mengelus elus kepala Lervia.
Nyaman.. Bahkan sangat nyaman. Entah sudah berapa tahun Lervia tidak merasakan kasih sayang ibunya lagi karena telah di curi oleh Lora.
" Tenang saja Bu! Karma pasti akan berlaku." Ucap Lervia.
Lervia mendongak menatap wajah sang ibunda tercinta yang nampak keriput.
" Aku tidak pantas untuknya Bu, dia juga sudah menikah. Aku tidak akan menghancurkan kebahagiaan mereka." Ucap Lervia.
" Apa di hatimu sudah tidak ada cinta untuk Argham?" Tanya Bu Nella ingin tahu perasaan putrinya.
" Sejak aku menjual diriku, rasa cinta sudah hilang dalam diriku Bu. Karena aku tidak di takdirkan untuk mencintai ataupun di cintai Bu." Sahut Lervia menusuk hati Bu Nella.
" Sudah lah Bu jangan di pikirkan! Aku sudah punya calon menantu untuk ibu." Sambung Lervia.
" Menantu? Siapa?" Tanya Bu Nella menatap Lervia.
" Dia akan datang melamarku tidak lama lagi, dan kami akan langsung menikah saat dia tiba di sini." Ucap Lervia.
" Katakan pada ibu Nak! Siapa dia." Ujar Bu Nella.
Akhirnya Lervia menceritakan sosok Wilson yang sudah sangat baik kepadanya. Meskipun usianya jauh di atas Lervia tapi Lervia akan mencoba menerimanya. Ia juga ingin memiliki keluarga yang utuh.
" Ibu sangat senang sayang, semoga kau bahagia bersamanya." Ucap Bu Nella tulus.
__ADS_1
...****************...
Byurrrr.....
" Awhhhh." Lora mengusap wajahnya dari siraman air yang di lakukan oleh mami Valen.
Lora baru sadar jika ternyata dia berada di dalam rumah yang lebih layak di sebut neraka. Kemarin anak buah mami Valen berhasil menangkapnya di kotanya saat ia sedang berbelanja.
" Ma.. Mami." Pekik Lora menatap sosok wanita parih baya yang masih sangat terlihat cantik. Lima gelang bertengger di pergelangan tangannya, cincin melingkar di sepuluh jarinya. Dan jangan lupakan kalung besar yang menggantung di lehernya.
" Kenapa? Apa kamu terkejut melihatku?" Tanyanya.
" Ke.. Kenapa aku di bawa kemari? Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Lora memberanikan diri padahal sebenarnya ia sangat takut.
" Dirimu." Sahut mami Valen singkat.
" Apa maksudmu hah? Aku tidak mau berada di tempat ini. Cukup saudaraku yang bodoh itu saja. Sekarang lepaskan aku!" Ucap Lora.
" Saudaramu yang kau anggap bodoh itu pada kenyataannya pintar, dia kabur dariku bodoh!!!" Mami Valen menunjuk kepala Lora dengan kasar.
" Apa!!!" Pekik Lora tidak percaya.
" Jangan berbohong Mami! Bagaimana dia bisa kabur dari pengawasanmu?" Tanya Lora.
" Terserah kau mau percaya apa tidak, yang jelas aku rugi ratusan juta karenanya dan kau yang harus melunasi semuanya." Ucap mami Valen membuat Lora terkejut.
" Tidak... Tidak.. Aku tidak sudi berada di tempat ini." Ucap Lora.
" Bersiaplah secantik mungkin, kau harus melayani lima tamu malam ini." Ucap mami Valen.
" Tidak aku tidak mau." Ucap Lora menggelengkan kepala.
" Aku tidak memberikan pilihan Lora, segera bersiap atau kau akan tahu apa yang akan aku lakukan padamu." Mami Valen meninggalkan kamar Lora begitu saja.
Lora berlari ke arahnya berharap bisa kabur dari sana, namun terlambat. Mami Valen telah menutup pintunya lebih dulu.
" Mami buka!!" Lora menggedor pintu dengan keras.
" Mami aku tidak mau di sini, lepaskan aku! Cepat buka!!" Teriak Lora ketakutan.
Namun harapannya hanya sia sia saja, pintu tetap tertutup rapat seperti masa depannya. Tubuh Lora luruh ke lantai, ia bersandar pada pintu memikirkan nasib yang akan ia alami ke depannya.
" Lerviaaaaa!!!!! Semua ini gara gara kamu, aku pasti akan membalasmu."
__ADS_1
TBC....