
Siang ini sekitar jam dua siang, di dalam rumah Argham, empat orang teman Argham datang menjenguk Argham. Mereka duduk di sofa ruang tamu mengobrol sambil menikmati makanan yang Jia hidangkan. Argham duduk di dampingi Jia, berhadapan dengan Eko, Tomi, Adnan dan Wahyu. Sering kali Wahyu mencuri curi pandang ke arah Jia membuat Jia merasa tidak nyaman.
Argham yang menyadari itu langsung menggenggam tangan kanan Jia dengan tangan kirinya. Hal itu membuat hati Wahyu terasa di sayat sembilu, ia memejamkan mata lalu membuang pandangannya ke segala arah. Menyadari hal itu, Jia melepas genggaman tangan Argham membuat Argham langsung menatapnya. Jia hanya menggelengkan kepalanya, ia yakin Argham tahu apa maksudnya. Yaitu menjaga perasaan Wahyu, bagaimanapun mereka adalah sahabat. Tidak tahu saja kalau sikap Jia membuat hati Argham dongkol.
" Kapan lo mulai bekerja lagi Gham?" Tanya Eko membuat Argham menatap ke arahnya.
" Kenapa? Aku tidak kerja satu bulan tidak akan membuatku jatuh miskin." Ketus Argham dongkol.
Jia terkejut mendengar jawaban dari Argham, begitupun dengan teman temannya. Jia tahu betul kenapa Argham berbicara ketus seperti itu, ia hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia menautkan tangannya kembali menggenggam tangan Argham, Argham menatap sekilas ke arahnya sambil tersenyum.
" Iya gue tahu lo seorang big bos tapi jangan sombong gitu lha, eneg gue dengernya." Ujar Adnan.
" Ha ha ha sorry bro." Ucap Argham sambil tertawa.
" Dih giliran sudah di sentuh baru bisa ketawa." Ucap Wahyu tersenyum kecut.
" Ngiri aja lo." Cebik Argham.
" Ngapain gue iri? Gue sudah merasakan yang lebih dengan Jia." Sahut Wahyu keceplosan membuat yang lain terkejut hingga mata mereka terbelalak sempurna. Sedangkan Jia merasa was was takut Argham berpikir macam macam dan marah lagi padanya, ingin rasanya ia menjitak kepala Wahyu sampai benjol.
" Apa maksud Lo Yu?" Selidik Adnan menatap Wahyu.
" Apa sebelumnya lo sama Jia punya hubungan?" Kali ini pertanyaan itu lolos dari bibir Eko.
" Apa lo merelakan wanita lo demi persahabatan?" Tomi yang punya kepribadian pendiam kini angkat bicara.
Wahyu menatap Jia membuat yang lainnya mengikuti arah pandangannya, termasuk Argham. Mereka semua menatap Jia seolah meminta penjelasan darinya. Jia yang di tatap para pria mendadak menjadi gugup. Jantungnya terasa berdetak lima kali lebih kencang dari biasanya, bisa bisanya Wahyu membuat ia dalam posisi sesulit ini.
Tiba tiba...
" Assalamu'alaikum."
Lagi lagi sang malaikat penolong datang menyelamatkannya membuat Jia bernafas lega. Valle berjalan masuk menghampiri mereka semua.
__ADS_1
" Papa." Valle mempercepat langkahnya mendekati Argham.
" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Argham merentangkan tangannya.
Tanpa menunggu lama, Valle duduk di sebelah kanan Argham lalu memeluk perut sang papa tercinta.
" Valle kangen Pa." Ucap Valle.
Argham mengelus punggung Valle dengan lembut.
" Kenapa Papa tidak menjemputku? Bahkan Papa tidak menghubungiku. Apa Papa sudah tidak menyayangi Valle lagi?" Pertanyaan Valle membuat hati Argham dan Jia mencelos.
" Bagaimana bisa Papa tidak menyayangi princess Papa hmm? Papa sangat menyayangi kamu sayang, maafkan Papa yang belum sempat menjemput kamu. Papa menunggu kondisi Papa pulih dulu, jadi kalau Papa kamu mengajak ribut, Papa sudah kuat. Papa bisa menonjok papa kamu sampai terkapar." Ujar Argham bercanda.
Valle melepas pelukannya, ia menatap Argham dengan lekat. Mereka bak anak dan ayah kandung, kasih sayang yang terjalin di antara mereka begitu dalam. Bahkan teman tan Argham sampai terharu melihatnya. Melihat hal itu, Wahyu menjadi mengerti ternyata Jia benar, mereka saling membutuhkannya. Ia merasa tidak akan bisa menjadi seperti Argham yang sangat menyayangi Valle seperti yang ia lihat saat ini.
" Tonjok saja Pa, aku juga kesal sama papa Alex. Papa Alex nyebelin." Ucap Valle mengerucutkan bibirnya.
" Tidak baik bicara seperti itu, dia papa kandungmu sayang. Di bandingkan dengan dia, Papa tidak ada apa apanya. Papa berhutang banyak padanya karena telah memberikan papa putri cantik sepertimu. Papa sangat beruntung sayang." Kali ini Argham mengelus pipi Valle.
" Aku lebih beruntung memiliki papa sepertimu." Sahut Valle menatap Argham.
Tanpa mereka sadari, Tomi menatap Valle dengan lekat. Ada desiran halus yang merambat ke dalam hatinya. Entah perasaan apa itu ia sendiri tidak tahu. Memang di antara mereka, Tomi lah yang paling muda. Ia berusia enam tahun lebih muda dari Argham dan yang lainnya.
" Ehm.. Kedip bro." Eko menyenggol lengan Tomi membuyarkan lamunannya.
" Gham, bolehkah putri lo buat gue?" Entah mengapa pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Tomi. Mereka semua menatap Tomi dengan tatapan bingung.
" Gue maulah jadi menantu lo." Sambung Tomi semakin membuat semua orang melongo.
" Gila apa lo, lo nggak inget sama umur lo yang udah tua?" Cibir Argham.
" Gue baru dua puluh enam tahun bro, masih pantas jadi menantu lo." Ujar Tomi.
__ADS_1
" Lo dua puluh enam, lhah anak gue baru dua belas tahun. Selisih empat belas tahun bro... Jangan aneh aneh deh." Ujar Argham.
" Lagian gue tidak akan membiarkan putri gue jatuh ke tangan laki laki seperti lo, pemabuk handal. Yang ada nanti bukannya putri gue bahagia malah menderita." Cibir Argham tersenyum sinis.
" Nggak lah, sama seperti lo menjaganya. Gua akan menjaganya sepenuh jiwa dan raga yang gue punya." Sahut Tomi menatap Valle tanpa berkedip.
" Om akan menunggumu Valle, Om tidak akan menikah jika tidak menikahimu. Itu janji Om padamu." Ucap Tomi mengerlingkan sebelah matanya.
Glek...
Valle menelan kasar salivanya, jujur.. Tomi memang tampan, walaupun usianya sudah terbilang matang namun ia punya wajah babby face hingga wajah dan umurnya sangat jauh berbeda. Ia lebih terlihat seperti baru berusia lima belas tahun.
" Jodoh tidak ada yang tahu Om, jadi aku mohon jangan pernah menjanjikan apapun yang belum tentu bisa Om penuhi. Jika suatu hari nanti kita berjodoh, aku harus apa? Yang jelas saat ini aku mau fokus belajar dengan baik agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang baik nantinya." Sahut Valle sambil tersenyum.
" Baiklah, Om akan tunggu sampai umurmu siap menikah." Sahut Tomi.
Tomi menyembunyikan senyumannya, ia merasa senang setidaknya Valle tidak langsung menolaknya tapi pasrah pada takdir Tuhan.
" Emang bener lo mau nungguin anak gue sampai dia dewasa?" Tanya Argham memastikan.
" Kenapa gue harus bercanda? Lo nggak boleh ya nglarang nglarang gue deketin anak lo, dia udah kasih gue lampu hijau lhoh. Awas aja kalau lo buat dia nolak gue, gue nggak bakalan bantuin lo cari pelanggan lagi." Ancam Tomi sambil mengacungkan jarinya ke arah Argham.
" Gue do'ain lo nggak bakal jodoh sama anak gue." Ucap Argham.
TBC...
Argham : Thor jangan sampai anak gue berjodoh sama pria tuir macam Tomi
Tomi: Lo udah dukung Argham, giliran lo dukung gue Thor
Author: ???
Kira kira jodoh nggak nih?
__ADS_1