HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
KABAR BAHAGIA


__ADS_3

Bagaikan kertas di terpa oleh angin kencang, Argham langsung membawa Jia ke rumah sakit terdekat menggunakan mobilnya. Ia melaju dengan pesat, slip slip slip. Kendaraan di depannya ia dahului begitu saja, hingga sepuluh menit kemudian Argham sampai di rumah sakit xx. Mobilnya berhenti tepat di depan pintu unit gawat darurat.


Argham turun dari mobil, dua suster mendorong brankar ke arahnya. Argham memindahkan Jia dari mobil ke brankar tersebut. Tanpa membuang waktu Jia segera di geledek menuju ruang UGD. Argham menunggu di luar karena tidak di perbolehkan masuk, ia duduk di kursi sambil menunggu pemeriksaan dokter.


" Ya Tuhan lindungi istriku! Semoga dia baik baik saja." Argham menyugar kasar rambutnya. Hati Argham tidak tenang, ia begitu mengkhawatirkan kondisi Jia saat ini.


Tiga puluh menit kemudian dokter yang menangani Jia keluar dari ruangan, Argham segera menghampirinya dan bertanya tentang keadaan Jia.


" Istri anda baik baik saja Tuan, pasien hanya sedikit kelelahan dan itu wajar di alami oleh wanita yang sedang hamil muda."


Deg....


Argham menatap dokter wanita itu dengan jantung yang berdetak kencang. Apa? Hamil? Apakah ia tidak salah dengar? Pikir Argham.


" Dokter bilang apa tadi? Hamil?" Tanya Argham memastikan.


" Berdasarkan hasil pemeriksaan kami, kami menyatakan bahwa nyonya Jia sedang hamil Tuan. Dan kebetulan tadi beliau di periksa oleh dokter kandungan langsung, untuk memastikan kondisi janinnya di sarankan untuk langsung periksa ke poli kandungan setelah beliau sadar. Kalau anda setuju, suster akan membantu mengurus pendaftarannya." Ujar dokter.


" Saya setuju Dok, lakukan yang terbaik untuk istri dan calon anak saya. Bolehkah saya menemui istri saya sekarang?" Tanya Argham.


" Silahkan Tuan!"


Argham masuk ke dalam menghampiri Jia yang terbaring lemah di atas ranjang. Argham duduk di kursi samping ranjang lalu menggenggam tangan Jia. Ia tersenyum bahagia mengingat kabar kehamilan Jia.


" Terima kasih sayang." Argham mencium tangan Jia.


" Terima kasih telah menjadikan mas seorang ayah untuk yang ketiga kalinya sayang, mas sangat bahagia dengan kabar ini. Jaga calon anak kita dengan baik. Mas menyayangi kalian berempat." Ucap Argham mengelus perut Jia yang masih terlihat rata.


Mendapat sentuhan lembut dari Argham membuat Jia mengerjapkan matanya.


" Engh." Jia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, tirai serba putih dan aroma obat menyeruak ke dalam hidung Jia membuatnya mengerti jika saat ini ia sedang berada di rumah sakit.


" Aku kenapa Mas?" Argham yang semula fokus pada perut Jia langsung menatap Jia.


" Kamu sudah sadar sayang?" Mata Argham berbinar melihat istri tercinta sudah sadar.


" Aku kenapa?" Tanya Jia lagi. Bukanlah tadi ia masih di acara pernikahan Erick? Lalu kenapa sekarang ia bisa berada di sana? Pikir Jia.

__ADS_1


" Kamu tadi pingsan setelah muntah muntah sayang, tapi sekarang kamu sudah baik baik saja." Ujar Argham.


" Syukurlah Mas, aku tidak mau sampai sakit atau kedua anakku tidak terurus dengan baik."


Argham tersenyum, ia semakin kagum dengan sosok Jia yang begitu peduli pada keluarga kecilnya.


" Kamu baik baik saja, hanya saja..." Argham menjeda ucapannya, ia berdiri lalu membungkukkan badannya. Ia menempelkan telinganya ke perut Jia membuat Jia merasa bingung dengan apa yang Argham lakukan.


" Aku kenapa Mas?" Jantung Jia berdetak sangat kencang, ia takut sesuatu yang buruk telah menimpanya.


" Ada buah cinta kita di dalam sini sayang." Argham mengelus perut Jia. Jia melongo membulatkan matanya dengan mulut menganga. Ia tidak percaya dengan ucapan Argham.


" Benarkah Mas? Maksud Mas aku hamil?" Tanya Jia memastikan.


Argham membenarkan posisinya menjadi berdiri, ia menggenggam tangan Jia sambil menatapnya dengan rona kebahagiaan.


" Iya sayang, kamu hamil anak kita. Adik dari Valle dan Raffa." Sahut Argham.


" Alhamdulillah." Ucap Jia penuh rasa syukur.


" Aku juga mencintai mas Argham." Sahut Jia.


Mereka nampak sangat bahagia dengan kabar yang Tuhan sampaikan kepadanya. Setelah itu, Jia di bawa ke poli kandungan untuk memeriksakan calon janinnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Jia hamil lima minggu dan janinnya sehat. Mereka di minta kembali satu bulan lagi untuk mengetahui perkembangan janinnya, tidak lupa dokter meresepkan obat dan vitamin untuk Jia.


Pulang dari rumah sakit, Jia dan Argham telah di sambut oleh Valle dan Raffa.


" Mama." Valle yang sedang menggendong Raffa langsung memeluk Jia, ia sangat bahagia begitu Argham meneleponnya dan memberitahunya tentang kehamilan Jia.


" Selamat Mama... Jaga adek kami dengan baik ya. Mulai sekarang Mama tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, biar Valle dan bi Ijah saja yang melakukannya. Aku akan mengerjakan tugas semua Mama." Ujar Valle mencium pipi Jia.


" Kamu bahagia mempunyai adek lagi sayang? Itu tandanya pekerjaan kamu akan semakin bertambah." Ujar Argham menatap Valle.


" Aku bahagia lah Pa, bahkan aku ingin punya adek yang banyak. Udah bosen dua belas tahun aku lalui sendirian tanpa temen. Kalau aku punya adek banyak kan rumah ini jadi rame." Ucap Valle antusias.


" Tapi Raffa bukan adek kandung kamu." Tiba tiba kata kata itu keluar dari bibir Argham. Entah mengapa ada kekhawatiran tersendiri di hati Argham.


Valle mendekati Argham, ia menatap Argham dengan intens.

__ADS_1


" Apa Papa menginginkan aku beranggapan begitu? Apa aku tidak boleh menganggap Raffa sebagai adek kandungku?" Pertanyaan Valle membuat Argham bungkam.


" Aku tahu kekhawatiran Papa, tidak usah takut Pa. Sejak Mama menikah dengan Papa, itu berarti Raffa adekku, adek kandungku. Dan kasih sayangku tidak akan pernah membedakan keduanya. Aku tidak akan pilih pilih dalam membagi kasih sayangku, bukankah Papa juga akan melakukan hal itu pada aku, Raffa dan calon adek bayi di dalam. kandungan mama?" Tanya Valle dengan tatapan menyelidik.


Argham tersenyum merutuki kebodohannya, bagaimana ia bisa punya pemikiran seperti itu. Padahal anak anaknya adalah anak yang sangat baik.


" Maafkan Papa sayang! Papa telah salah menilaimu, bisa bisanya Papa memiliki pemikiran seperti itu. Harusnya Papa percaya pada princess Papa satu ini." Ucap Argham mencubit pelan hidung Valle.


" Harusnya memang begitu Pa." Sahut Valle merangkul pinggang Argham.


" Ya sudah sekarang kita antar mama ke kamar, biar mama istirahat." Ujar Argham.


" Baik Pa." Sahut Valle.


Argham menuntun Jia menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya di ikuti Valle dari belakang.


" Oh ya sayang, bagaimana huhunganmu dengan Deon?" Tanya Argham sambil berjalan.


" Biasa saja Pa, sejak kejadian itu kami malah semakin dekat." Sahut Valle.


" Walaupun dekat tapi kamu tahu batasannya kan?"


" Tentu donk Pa, anak Papa gitu loh." Sahut Valle membanggakan diri.


" Anak pinter." Ucap Argham terkekeh.


Setelah sampai di kamarnya, Jia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Valle naik ke atas ranjang menurunkan Raffa di samping Jia.


" Mam.. Mam.. ma.. " Celoteh Raffa merangkak ke atas tubuh Jia.


" Sayangnya Mama." Jia menciumi pipi gembul Raffa. Sesekali Valle mencubit pelan pipi Raffa.


Argham menatap ketiganya dengan perasaan bahagia yang membuncah di dalam hatinya.


" Terima kasih Tuhan atas nikmat yang telah Kau limpahkan dalam kehidupan kami. Semoga anak ketiga kami membawa keberkahan untuk kami semua. Amiin." Batin Argham.


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2