HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
GADIS KETUS


__ADS_3

Di bawah sinar matahari pagi yang di sertai angin sepoi sepoi, Wahyu melajukan mobilnya menuju kantornya dengan kecepatan sedang sambil menyetel musik favoritenya. Ia nampak menggeleng gelengkan kepala mengikuti alunan melodi. Sampai di pertigaan depan kantornya, ia membelokkan mobilnya ke kiri tanpa melihat ke depan lebih jauh, sampai satu kendaraan beroda dua yang di kendarai oleh seorang gadis cantik menabrak mobilnya.


Brak...


Refleks Wahyu langsung menginjak rem membuat mobilnya berhenti. Ia menatap seorang gadis yang jatuh tertimpa motornya, ia segera turun dari mobil lalu menghampirinya.


" Maaf, apa kamu baik baik saja?" Tanya Wahyu menyentuh bahu gadis itu hendak membantunya bangun.


" Maaf maaf! Kalau mengemudi lihat lihat donk! Kalau begini bisa membuat orang lain celaka kan." Omel gadis itu langsung mendongak menatap Wahyu.


Glek...


" Busyet tampan amat nih om om." Batinnya.


" Kamu baik baik saja?" Wahyu menggoyangkan telapak tangannya di depan wajahnya hingga membuatnya tersadar dari lamunannya.


" Baik gimana? Apa Om tidak lihat kalau aku jatuh begini? Lututku bahkan berdarah." Ketusnya sambil menunjuk lututnya yang lecet.


" Saya minta maaf, sini aku bantu obati." Wahyu membantu gadis itu berdiri, dapat ia lihat tag name yang menggantung di lehernya bertuliskan Claris.


Wahyu membantu Claris duduk di atas trotoar, ia berlari meminggirkan motor Claris. Setelah itu ia mengambil kotak p3k di dashboard mobilnya lalu kembali mendekati Claris.


Fiuhhhtttt..


Claris nampak meniup lutut kanannya yang berdarah. Wahyu berjongkok di depan Claris lalu membuka alkohol yang ia teteskan pada kapas, ia menempelkan kapas tersebut pada luka Claris.


" Aduh aduh... " Pekik Claris merasa sakit karena Wahyu terlalu menekannya.


" Ah maaf!" Ucap Wahyu.


" Sini biar aku sendiri." Claris merebut kapas di tangan Wahyu.


" Bukannya sembuh malah tambah perih, nggak niat banget bantuin orang. Tanggung jawab kok setengah setengah." Omel Claris.


" Bukannya begitu, aku sudah berniat baik lhoh mau mengobati luka kamu." Ujar Wahyu menatap Claris yang sedang menye menye. Gerakan bibirnya terlihat begitu indah di mata Wahyu. Tanpa Wahyu sadari senyuman tersungging di sudut bibirnya.


" Sudah." Claris memberikan kapas bekas membersihkan lukanya kepada Wahyu, Wahyu menerimanya begitu saja.


" Sekarang tetesi betadine biar nggak infeksi." Wahyu menyodorkan betadine kecil kepada Claris.


" Nggak mau, pasti perih banget." Ucap Claris.


" Perih sebentar, nanti juga enggak. Daripada lukamu infeksi, nanti bisa di amputasi kaki kamu."


" Benarkah?" Tanya Claris dengan mata membulat sempurna.


" Iya, buruan tetesin!" Sahut Wahyu menahan senyumnya.


" Bisa juga di bodohi, kelihatannya aja galak." Batin Wahyu.

__ADS_1


Claris segera membuka tutup betadine lalu meneteskan nya pada lukanya, tiba tiba..


" Awh.. Perih perih perih... " Claris berjingkrak jingkrak merasakan pedih pada lukanya.


" Aku tiupin." Wahyu berjongkok di depan lutut Claris lalu meniupnya. Claris terpana dengan perhatian yang Wahyu berikan padanya. Ia tidak menyangka masih ada pria seromantis Wahyu.


Wahyu mendongak menatap wajah Claris, manik mata mereka bertemu membuat Claris salah tingkah. Ia mengedarkan pandangan ke sembarang arah. Wahyu tersenyum melihat semua itu.


" Sudah tidak perih lagi?" Tanya Wahyu di balas anggukkan kepala oleh Claris.


Wahyu berdiri di depan Claris.


" Aku rasa lukamu tidak serius jadi kita tidak perlu ke rumah sakit, aku akan mengantarmu pulang. Motormu biar di bawa ke bengkel oleh orangku, setelah selesai di perbaiki orangku akan mengantarnya ke rumahmu." Ujar Wahyu.


" Aku harus bekerja, antar aku ke tempat kerja saja." Ujar Claris.


Wahyu baru menyadari seragam merah khas minimarket terkenal yang Claris pakai.


" Kamu bekerja di bagian apa?" Tanya Wahyu memastikan.


" Kasir. Kenapa?" Claris menatap Wahyu.


" Apa kamu kuat berdiri lama? Biasanya kan kasir akan banyak. berdiri daripada duduk." Ucap Wahyu.


" Benar juga.. " Batin Claris. Kakinya sebenarnya terasa sakit, namun ia tidak bisa meminta ijin begitu saja.


" Tidak perlu, aku sendiri yang akan menelepon bosku nanti. Kalau begitu antar aku pulang saja." Ujar Claris.


" Baiklah." Sahut Wahyu.


Wahyu membantu Claris masuk ke dalam mobil. Lalu ia memutari mobil masuk ke kursi kemudi. Ia segera melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah Claris sebutkan. Kawasan perumahan di jalan xx. Di dalam perjalanan hanya ada keheningan, sesekali Wahyu mencuri pandang ke arah Claris sedangkan Claris sedang berusaha menetralkan detak jantungnya. Semobil berdua dengan lawan jenis membuat jantungnya deg deg an.


" Aku Wahyu, ini kartu namaku. Kalau ada apa apa ke depannya kamu bisa menghubungi nomer yang ada di kartu itu." Wahyu mengambil kartu nama yang ada di dashboard lalu memberikannya pada Claris.


" Terima kasih." Ucap Claris.


" Kau tidak mau memberitahu namamu?" Tanya Wahyu tanpa menoleh.


" Aku rasa om sudah tahu namaku dari tagename yang aku pakai." Sahut Claris.


Wahyu terkekeh mendengarnya. Ia semakin tertarik dengan gadis kecil di sampingnya. Sampai di perumahan xx mobil Wahyu berhenti pada rumah bercat abu abu. Rumah paling besar di antara rumah rumah sebelahnya.


" Ini rumahmu?" Tanya Wahyu memastikan.


" Bukan, tapi rumah majikanku." Sahut Claris.


" Adakah pembantu berwajah cantik dan memiliki nama bagus sepertinya?" Gumam Wahyu.


" Ada, buktinya aku." Ternyata Claris mendengarnya.

__ADS_1


" Ya sudah ayo turun! Apa perlu aku menggendongmu sampai dalam?" Tawar Wahyu.


" Tidak perlu, aku bukan orang cacat." Sahut Claris.


Mereka turun dari mobil, Wahyu menuntun Claris masuk ke dalam rumah yang terkesan mewah itu.


" Ya Tuhan Claris... Kamu kenapa sayang?" Seorang wanita paruh baya menghampiri keduanya dari dalam. Mungkin itu majikan perempuan Claris, pikir Wahyu.


" Maaf Tante, tadi Claris kecelakaan. Dia menabrak mobil saya." Sahut Wahyu.


" Pintar memutar balikkan fakta, om yang nabrak aku bukan aku yang nabrak om." Sahut Claris tidak terima.


" Itu maksud saya Tante, tapi Tante tenang saja! Saya akan bertanggung jawab Tante." Ucap Wahyu menatap wanita paruh baya berwajah molek.


" Kamu mau bertanggung jawab?" Wahyu menganggukkan kepalanya.


" Bagaimana kalau sekalian kamu nikahi Claris."


" Big no!!" Bukan Wahyu yang menjawab melainkan Claris.


" Tidak apa sayang, jadi kamu tidak perlu capek capek bekerja lagi."


Claris berjalan tertarih mendekati sofa, ia duduk sambil menatap wanita itu.


" Apa Mama sengaja mau mengusirku dari sini?"


Wahyu terkejut mendengar panggilan Mama dari mulut Claris, ia pikir itu majikannya. Itu berarti wanita di depannya ini juga pembantu di rumah itu, kenapa pembantu di rumah itu cantik cantik? Wahyu menggaruk keoalanya yang tidak gatal.


" Silahkan duduk Nak!" Ucapnya.


" Terima kasih Tante." Sahut Wahyu duduk di sofa sebrang berhadapan dengan Claris dan mamanya.


" Kenalkan Nak, saya Melodi. Mamanya Claris." Ucapnya memperkenalkan diri.


" Saya Wahyu Tante, saya minta maaf karena telah membuat putri anda terluka." Ucap Wahyu.


" Tidak apa apa, ini musibah." Sahut nyonya Melodi.


Mereka mengobrol seputar perkenalan.


" Oh ya Claris, kau tadi belum menelepon bosmu untuk meminta ijin." Ujar Wahyu.


Nyonya Melodi tersenyum menatap Wahyu.


" Dia tidak perlu menelepon nak Wahyu, karena dia sendiri bosnya."


"????"


TBC....

__ADS_1


__ADS_2