HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
TITIK TERENDAH


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, suara kicauan burung yang indah, di sertai angin sepoi sepoi membuat suasana di pagi menjelang siang ini menjadi sejuk. Banyak orang bersemangat untuk menjalankan aktifitas namun tidak dengan Jia. Ia merasa hidup segan mati tak mau dengan apa yang ia alami saat ini.


Di dalam ruang vvip yang terlihat begitu luas dengan lantai keramik yang bersih mengkilat hanya terdengar suara detak jarum jam yang terus berputar mengejar waktu. Dua orang yang berada di dalamnya hanya bisa diam tanpa bersuara, Argham hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang dengan alat alat medis menempel pada tubuhnya dalam keadaan koma sedangkan Jia diam karena ia merasa kesepian dan tidak tahu harus berbuat apa. Di saat saat seperti ini ia benar benar merasa sendiri, sang malaikat yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya telah meninggalkannya.


Ya.. Setelah Alex selesai mendonorkan darahnya kepada Argham, ia langsung membawa Valle bersamanya tanpa memikirkan keadaan Jia sama sekali, ia justru ingin mengambil keuntungan dari keadaan ini. Jia yang di tinggal sendiri dalam keadaan sedang membutihkan dukungan merasa sangat sedih, mau mengadu nakun pada siapa? Ia bahkan tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini. Sang mantan mertua dan adik ipar pun tidak ada yang menunjukkan kepeduliannya kepada Jia. Jangankan berkunjung menjenguk Argham, sekedar bertanya tentang kondisi Jia saja tidak mereka lakukan. Padahal selama ini apapun yang terjadi kepada mereka, Jia lah yang mengurusnya. Namun Jia tidak memikirkan hal itu, ia hanya bisa pasrah kepada Tuhan.


Belum lagi kondisi Argham saat itu yang sempat drop dan harus menjalani operasi karena ada pembekuan darah di dalam otaknya. Hidup Jia merasa hancur saat itu, ia berharap setelah menjalankan operasi kondisi Argham akan pulih seperti sedia kala. Namun rupanya ujian Jia belum selesai sampai di sini, setelah menjalani operasi bukannya pulih keadaan Argham justru semakin kritis, bahkan dokter hampir menyerah melihat kondisi Argham saat itu.


Lagi lagi Jia di tempatkan pada posisi yang sulit, ia tidak hilang harapan. Ia meminta dokter untuk tetap berusaha menyelamatkan suaminya, tidak hanya diam saja, Jia tidak henti hentinya melafalkan doa kepada Tuhan berharap ada keajaiban Tuhan yang datang. Bagaikan mendapat angin segar di tengah tengah serangan asap mematikan, Jia telah mendapatkan jawaban atas doa doanya. Argham berhasil melewati masa kritisnya, namun lagi lagi Jia harus di uji dengan keadaan Argham yang mengalami koma setelahnya, hingga tiga hari ini Argham belum juga sadar. Bagaikan jatuh tertimpa tangga pula, Jia benar benar di uji kesabarannya dari titik nol paling bawah.


 Di saat ia terpontang panting dengan kondisi seperti ini, pikirannya melayang karena ia masih harus memikirkan Raffa di rumah. Raffa terus menangis mencari Jia hingga membuat bi Ijah kewalahan. Ia sering kali menelepon Jia, tidak punya pilihan lain selain bolak balik dari rumah ke rumah sakit begitupun sebaliknya. Jiwa, pikiran dan hati Jia benar benar merasa lelah namun ia tidak patah semangat. Ia menjalani semua ini dengan ikhlas, ia berharap lelahnya akan menjadi alhamdulillah suatu hari nanti.


Jia menatap wajah pucat Argham sambil menggenggam tangannya.


" Bangunlah Mas! Apa mas Argham tidak merindukan aku? Apa mas Argham tidak merindukan anak anak kita? Valle sudah mengorbankan dirinya demi mas Argham, aku mohon jangan sia siakan pengorbanan Valle mas! Bangunlah! Kita jemput Valle agar kita bisa bersama sama lagi." Jia mencium punggung tangan suaminya.


Tidak kuasa menahan sedih di dalam hatinya, air mata menetes begitu saja di pipi Jia.

__ADS_1


" Hiks... Aku membutuhkanmu mas, aku tidak bisa hidup tanpa mas Argham begitupun dengan Valle dan Raffa. Mereka sangat merindukan mas selama tiga hari ini, berjuanglah demi kami mas! Kami sangat menyayangimu."


Di saat Jia sedang berinteraksi dengan suaminya, tiba tiba pintu ruangan terbuka. Jia tidak menoleh, ia berpikir suster lah yang masuk, tidak mungkin kan dokter karena ini bukan jam kunjungan.


" Jangan menangis Jia!"


Deg...


Jia langsung menoleh ke belakang, ia menatap tajam manik mata Erick yang berdiri di belakangnya. Tangannya mengepal erat menahan sesuatu yang menyesakkan dadanya. Ia beranjak berdiri di hadapan Erick tanpa mengalihkan pandangannya.


Erick mengerutkan keningnya seolah tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Jia.


" Gara gara kamu keadaan mas Argham jadi seperti ini. Jika saja aku tidak menuruti mas Argham untuk menjenguk Wahyu, kita pasti tidak akan bertemu. Mas Argham pasti tidak akan salah paham dengan kita, dan dia tidak akan marah padaku. Dan hal ini pasti tidak terjadi." Ucap Jia penuh penekanan.


Ikhlas... Jia berkata ikhlas di bibirnya menerima semua ini tapi pada kenyataannya ia menyesali apa yang terjadi hingga rasa penyesalan itu berubah menjadi keluhan.


" Tidak perlu di sesali Jia, mungkin ini takdir Tuhan yang harus kita terima. Jika Argham pergi meninggalkanmu maka menikahlah denganku. Aku akan menerima kedua anakmu menjadi anakku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia."

__ADS_1


Gila... Kata kata yang keluar dari bibir Erick benar benar gila menurut Jia. Bagaimana Erick bisa dengan santainya mengatakan itu di depannya dan Argham? Walaupun Argham dalam keadaan koma, tapi Jia yakin ia bisa mengerti dan mendengar apa yang terjadi di depannya saat ini.


" Apa kau sudah tidak waras? Kau menawarkan pernikahan di depan suamiku sendiri?" Jia merasa kesal dengan ucapan Erick.


" Sampai matipun aku tidak akan pernah mau menikahi pria yang tidak punya hati sepertimu Erick. Aku jadi merasa kasihan dengan Ayu yang memiliki suami gila sepertimu." Ucap Jia.


" Aku gila karenamu Jia, jika saja kau tidak meninggalkan cinta sedalam ini, aku tidak akan menjadi pria yang tidak punya hati. Jadi jangan salahkan diriku tapi salahkan dirimu sendiri. Salah kamu karena bisa melihat hatiku selama ini." Ucap Erick.


Jia menggelengkan kepala, Erick terus menatap Jia hingga tanpa sadar kakinya melangkah mendekat ke arah Jia. Menyadari hal itu, Jia memundurkan tubuhnya. Ia tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi.


" Berhenti di situ atau aku akan teriak." Ancam Jia.


Entah pria waras atau tidak, bukannya takut Erick justru semakin tertarik dengan sikap Jia. Ia semakin maju, maju dan maju membuat tubuh Jia terpentok ranjang. Jia yang semula menunjukkan keberaniannya kini berubah menunjukkan ketakutannya. Erick benar benar tidak bisa di remehkan, ia berhenti setelah tubuhnya tidak berjarak lagi dengan Jia. Sapuan nafas hangat Jia begitu terasa di dadanya. Erick tersenyum smirk, ia memajukan wajahnya dan...


Lanjut next part ya..


TBC....

__ADS_1


__ADS_2