HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
IMBALAN UNTUK ARGHAM


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang telah di nantikan oleh Jia selama satu minggu ini dimana ia bisa berkumpul bersama sang putri tercinta kembali. Ia merasa sangat senang hingga ia terus bersenandung ria di depan meja rias sambil memoles wajahnya dengan cream malam yang biasa ia pakai. Argham yang baru saja keluar dari kamar mandi segera berjalan menghampirinya.


" Kelihatannya istriku sedang bahagia." Argham membungkuk lalu mengalungkan tangannya ke leher Jia dari belakang. Jia menatapnya melalui pantulan kaca.


" Iya Mas, aku bahagia karena Valle telah kembali bersama kita. Terima kasih telah membawa Valle ke dalam kehidupan kita kembali Mas. Aku tidak menyangka Mas Alex akan dengan mudah mengembalikan Valle kepada kita, Mas Argham memang hebat. Dia tidak bisa berkutik karena Mas sudah membuatnya mati kutu dengan kata kata Mas." Sahut Jia.


" Kalau begitu, Mas harus di beri imbalan donk." Ujar Argham membuat Jia terkejut. Ia memutar tubuhnya menghadap Argham.


" Imbalan?" Jia menatap Argham sambil mengerutkan keningnya. Argham menganggukkan kepalanya.


" Memangnya Mas Argham mau apa dariku?" Tanya Jia.


" Mas menginginkanmu malam ini sayang, kau harus bekerja untuk Mas malam ini biar Mas cukup menikmati hasil kinerjamu saja. Bagaimana?" Argham menaik turunkan alisnya menatap Jia.


Jia tidak langsung menjawab, ia merasa bingung harus bagaimana. Ia tahu betul apa yang Argham inginkan saat ini, tapi untuk jadi pemandu Jia cukup malu. Ia khawatir akan membuat Argham kecewa jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi Argham saat ini.


" Kenapa hmm?" Argham menyelipkan rambut Jia ke telinga.


" A.. Aku tidak bisa Mas, lakukan saja sesuai yang Mas Argham inginkan aku akan mencoba mengimbanginya." Ujar Jia malu malu.


" Tidak mau, lakukan saja sesuai kemampuanmu. Mas ingin melihat seberapa pintar istriku melayaniku di atas ranjang." Ucap Argham mengerlingkan matanya.


Jantung Jia mendadak jadi deg deg an. Detakan jantungnya terdengar dua kali lebih cepat dari sebelumnya.


" Mulailah lakukan sekarang." Bisik Argham di telinga Jia.


Jia menatap Argham begitupun sebaliknya, Argham menarik tangan Jia lalu menuntunnya ke ranjang. Keduanya duduk di tepi ranjang berdampingan. Bukannya melakukan sesuatu, Jia justru hanya memainkan tangannya karena gugup.

__ADS_1


" Ayo sayang, jangan malu malu!" Ucap Argham.


Jia menghirup oksigen sebanyak banyaknya lalu menghembuskannya begitu saja untuk mengurangi rasa gugup di dalam hatinya. Argham tersenyum melihat semua itu, Jia sudah tidak muda lagi tapi tentang hal itu ia masih nampak malu malu. Argham diam saja, ia masih menunggu apa yang akan Jia lakukan padanya.


Tanpa Argham sangka, Jia mendorong tubuhnua hingga terlentang di atas kasur. Jia merangkak menindih tubuhnya lalu menyambar bibirnya dengan lembut. Argham membuka sedikit mulutnya membiarkan Jia mengekspos setiap inchinya. Jia ******* bibir Argham dengan lembut, namun sesaat kemudian ia menghentikan kegiatannya.


" Balas Mas." Bisik Jia ke telinga Argham. Argham tersenyum sambil menggelengkan kepala mencoba menggoda Jia.


" Malam ini kau pemainnya sayang, jadi Mas cukup diam saja." Sahut Argham.


" Baiklah kalau memang itu maunya Mas Argham."


Setelah mengatakan itu Jia melakukan hal di luar dugaan Argham. Ia memainkan lidahnya di telinga Argham, sesekali ia pun menggigitnya membuat birahi Argham memuncak. Rupanya Jia tahu benar dimana titik kelemahan Argham, padahal mereka baru melakukannya sekali. Argham yang merasa geli geli nikmat memejamkan matanya menikmati sensasi luar biasa dari permainan Jia. Tubuhnya menggelinjang saat Jia bermain main di lehernya. Bahkan tanpa ragu, Jia menyesap leher Argham hingga meninggalkan beberapa jejak kemerahan di sana.


Malam ini Jia berperilaku layaknya seorang wanita j@l@ng di luar saja yang sedang memuaskan pelanggannya. Ia benar benar memandu permainan dengan sangat baik membuat Argham terlena dengan setiap pergerakannya. Ia tidak menyangka jika Jia mampu melakukan hal di luar pemikirannya. Malam ini Argham mendapatkan pelepasan dengan cara istimewa membuatnya ingin lagi, lagi dan lagi. Seolah ia tidak ingin berhenti menikmati sentuhan memabukkan dari Jia.


" Ya Tuhan, benar benar menguras tenaga Mas. Bahkan rasanya tenaga ku habis tak tersisa." Ucap Jia tersengal.


Argham berbaring miring lalu memeluk Jia dari belakang.


" Terima kasih sayang, Mas sangat senang malam ini. Permainanmu benar benar membuat Mas puas." Ucap Argham.


" Mas jangan bilang seperti itu! Aku malu." Ucap Jia.


" Mas suamimu sayang, jadi tidak perlu malu. Besok kita ulangi lagi ya, kau benar benar...


" Mas stop!" Jia langsung berbalik badan membungkam mulut Argham dengan tangannya.

__ADS_1


" Baiklah baiklah mas diam." Ucap Argham.


Jia melepaskan tangannya, keduanya saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat sampai Argham mencium bibir Jia dengan lembut. Malam ini mereka habiskan dengan bercinta sampai pagi. Kali ini Argham yang jadi pemimpinnya. Mereka berharap akan ada Argham junior yang segera hadir di rahim Jia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi yang cerah di iringi suara kicauan burung yang terdengar sangat merdu membuat hati Erick merasa tenang. Selama hampir satu bulan ini ia merasa begitu damai, tidak ada suara tangisan Mikayla yang sering kali memekakkan gendang telinganya.


Devita merawat Mikayla dengan baik, ia berperan sebagai seorang ibu yang mengurus anaknya dengan baik. Walaupun ia tahu hal ini salah, tapi apalah dayanya yang hanya sebagai orang biasa. Niatnya ingin menolong Mikayla berubah menjadi keinginan untuk memilikinya dan ayahnya.


Perasaan yang menjalar di hati Devita semakin tumbuh besar setiap harinya. Namun sebisa mungkin ia tetap menjaga kewarasannya agar tidak merebut Erick dari Ayu. Ia harus sadar diri jika Erick milik orang lain, itu sebabnya beberapa hari ini ia mencoba menjauh dari Erick. Ia akan membawa Mikayla ke rumahnya saat Erick berangkat kerja dan akan mengembalikan Mikayla saat Erick pulang. Devita benar benar seperti seorang babby sister yang tidak punya pekerjaan saja. Saking sayangnya Devita terhadap Mikayla, ia sampai membawa Mikayla ke tempat kerja saat ia sedang bertugas.


Seperti biasa, pagi ini Devita menjemput Mikayla di rumah Erick, Erick yang sedang sarapan meminta Devita untuk sarapan bersama. Akhirnya mau tidak mau, Devita duduk di depan Erick sambil menikmati makanannya.


" Devi, aku merasa beberapa hari ini kamu mencoba menjauh dariku. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Erick menatap Devita. Inilah pertanyaan yang sangat di hindari oleh Devita.


" Biasa saja, itu hanya perasaan kak Erick saja." Sahut Devita mencoba menutupi kenyataan.


" Tidak, memang begitu faktanya. Apa alasanku sebenarnya? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" Tanya Erick menyudutkan Devita.


" Ya, hatiku."


Erick nampak terkejut mendengar ucapan Devita. Sontak ia langsung menatap Devita dengan tatapan menyelidik.


" Kenapa dengan hatimu?" Erick kembali bertanya.


" Aku.. Aku... "

__ADS_1


TBC....


__ADS_2