
Pagi ini Jia, Valle dan Argham sedang makan bersama. Tidak lupa Jia menyuapi Raffa yang berada di pangkuan Argham.
" Ayo sayang habiskan makanannya!" Jia menyiapkan sesendok kecil makanan ke mulut Raffa.
" Mammam." Celoteh Raffa.
Jia tersenyum melihat tingkah menggemaskan putra kecilnya.
" Pa, nanti Valle ada acara kerja kelompok sama Deon sepulang sekolah di rumah Deon." Ucap Valle menatap Argham. Ya... Sejak menikah dengan Argham, Jia menyerahkan tanggung jawab kepada Argham. Semua ijin di pegang oleh Argham.
Namun tidak serta merta Argham memutuskan apa apa sendiri, ia selalu meminta pendapat Jia. Argham menatap sang istri tercinta. Jia menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak mengijinkan.
" Belajar di sini saja sayang, tidak baik anak perempuan berada di rumah teman laki lakinya. Papa khawatir kamu kenapa napa. Bagaimanapun kalian sudah beranjak remaja." Argham tahu apa yang di pikirkan oleh Jia.
" Baik Pa, nanti aku akan bilang sama Deon untuk belajar di sini." Ujar Valle.
" Anak pintar." Puji Argham sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan acara makan hingga bi Ijah memberitahu mereka jika di depan ada tamu.
" Siapa Bi?" Tanya Argham menatapnya.
" Anu Tuan.. Di.. Dia.. Dia.. " Bi Ijah nampak gugup untuk mengatakannya.
" Katakan saja Bi!" Ujar Jia.
" Anu Nyonya, di depan ada nyonya Lervia." Ucap bi Ijah lirih. Bi Ijah tidak kaget karena Argham dan Jia sudah memberitahunya tentang Lervia yang masih hidup.
Argham menatap Jia seolah meminta pendapatnya.
" Tidak apa apa temui saja Mas." Ucap Jia.
" Baiklah Ayo!" Sahut Argham.
" Valle, ajak adikmu dulu! Papa sama mama mau menemuinya." Sambung Argham.
" Baik Pa." Sahut Valle menggendong Raffa.
Argham menggandeng tangan Jia menuju ruang tamu. Nampak sosok wanita seumuran Jia terlihat masih berdiri di depan pintu. Tidak terlalu tinggi, kulit sawo matang dan rambut sebahu.
" Ehem.. " Dehem Argham membuat Lervia membalikkan badannya.
Deg...
Mata Lervia dan Argham bertemu, untuk sesaat mereka termangu di tempatnya. Entah perasaan apa yang menjalar di hati Lervia, sedangkan di hati Argham hanya perasaan iba. Iba melihat wanita yang pernah di cintainya terlihat begitu kurus dan tidak terawat.
" Ehm." Kali ini Jia yang berdehem membuyarkan lamunan mereka berdua.
__ADS_1
" ***.. Lervia." Argham menunjuk Lervia dengan jarinya.
" Kau masih mengenaliku rupanya." Lervia tersenyum menatap Argham.
" Kenalkan ini Jia, istriku." Argham merangkul pundak Jia seolah memamerkan betapa cintanya ia dengan istrinya.
" Hai, aku Lervia." Lervia mengulurkan tangannya ke depan Jia.
" Hai, aku Jia."
Lervia tidak menyangka Jia mau menyambut tangannya.
" Silahkan masuk!" Ucap Jia.
" Terima kasih." Sahut Lervia.
Jia dan Argham berjalan menuju sofa ruang tamu di ikuti Lervia dari belakang. Lervia duduk di sofa sebrang Argham dan Jia. Tak lama bi Ijah menyuguhkan segelas teh hangat dan tiga potong kue di atas meja.
" Terima kasih Bi." Ucap Lervia.
" Sama sama Nyonya." Sahut bi Ijah kembali ke dapur.
Lervia menatap Argham dan Jia bergantian.
" Aku ke sini untuk mengucapkan terima kasih padamu Gham. Tanpa bantuanmu aku tidak bisa kembali ke sini." Ucap Lervia.
" Bukan aku yang membantumu tapi teman priamu yang kau ceritakan tempo hari." Sahut Argham.
" Jangan bersedih Mbak! Sekarang sudah waktunya kamu bahagia." Ucap Jia.
Lervia mendongak menatap Jia.
" Kau wanita yang sangat baik Jia, Argham dan putranya pasti sangat bahagia hidup bersamamu." Ucap Lervia.
" Ah iya Raffa, sebentar aku akan membawanya ke sini." Ujar Jia beranjak dari kursinya.
" Tidak usah." Jawaban Lervia menghentikan Jia.
" Kenapa?" Jia menatap Lervia.
" Apa kau tidak mau menemui putramu?" Tanya Jia.
" Sejak aku memberikannya pada Argham, dia bukan putraku lagi. Dan sekarang dia menjadi putra kalian." Sahut Lervia membuat Jia tidak mengerti.
Jia duduk kembali sambil terus menatap Lervia.
" Apa maksudmu mbak?" Tanya Jia.
__ADS_1
" Jangan beritahu Raffa siapa aku, aku takut dia tidak bisa menerimaku. Apalagi dunia ini, mereka tidak akan mengijinkan aku memiliki putra sepertinya. Aku wanita hina Jia, dia pasti akan malu jika tahu siapa aku sebenarnya. Akan lebih baik jika dia tidak tahu asal usulnya sama sekali." Ucap Lervia.
Pedih.. Tentu saja. Ibu mana yang tidak ingin memeluk putra yang telah ia lahirkan, ibu mana yang tidak ingin di panggil ibu oleh putranya? Begitupun dengan Lervia, ia sangat menginginkan hal itu. Namun ia tidak bisa egois ataupun gegabah, atau kehormatan putranya akan menjadi taruhannya.
" Mbak Lervia, siapapun kau, apapun keadaanmu, kau tetap ibunya. Kau yang telah mengandung dan melahirkannya. Kau berhak mendapatkan hakmu sebagai seorang ibu." Ujar Jia terdengar begitu bijak.
" Jangan Jia! Lebih baik kami tidak saling mengenal atau aku tidak akan bisa mengendalikan diriku untuk membawanya bersamaku jika aku terlanjur dekat dengannya." Ucap Lervia tegas.
Jia menjadi takut dengan ucapan Lervia, ia takut jika semuanya akan Lervia lakukan padanya. Jujur, ia tidak mau kehilangan Raffa. Putra yang selama ini sangat ia sayangi.
" Baiklah kalau begitu, aku sudah berusaha memberikan hakmu tapi kau yang menolaknya. Jangan harap suatu hari nanti kau dapat kesempatan ini." Ujar Jia.
" Aku tahu dimana posisiku Jia. Kalau begitu aku permisi, doakan aku dan Wilson bisa segera bertemu. Jika waktu itu tiba, siap siap mendapat undangan dariku." Ucap Lervia.
" Benarkah? Kau akan menikah dengan teman priamu itu?" Tanya Jia menaik turunkan alisnya.
" Tentu saja, kalian harus datang." Sahut Lervia.
" Tentu." Sahut Jia.
" Jia." Lervia menatap Jia dengan seksama.
" Ya." Sahut Jia.
" Apakah kau mau berteman denganku?" Tanya Lervia.
" Maksudku aku tidak punya siapa siapa di sini selain orang tuaku, aku juga ingin punya teman seperti yang lain. Itupun kalau kamu mau, kalau tidak juga tidak apa apa. Aku sadar jika aku tidak pantas mendapat teman sebaik dirimu." Sambung Lervia insecure.
" Kenapa bilang seperti itu? Semua orang punya masa lalu. Aku juga bukan orang baik, mari berteman." Ucap Jia mengulurkan tangannya.
" Benarkah?" Mata Lervia berbinar mendengarnya.
" Tentu saja, kenapa tidak?" Tanya Lervia memastikan.
" Iya." Sahut Jia.
Lervia beranjak dari tempatnya lalu mendekati Jia.
" Bolehkah aku memelukmu sebagai teman?" Tanya Lervia.
Jia berdiri lalu menganggukkan kepala. Keduanya saling berpelukan layaknya dua orang yang sudah bersahabat lama. Apapun status Lervia pada dasarnya Jia orang yang baik, dia akan menerimanya. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, semua pasti punya dosa masing masing. Argham begitu terharu melihat kebaikan hati Jia yang bak malaikat.
" Aku tidak salah memilihmu sayang." Batin Argham.
" Baiklah aku pulang dulu, lain kali aku akan ke sini untuk bercerita padamu." Ucap Lervia.
" Baiklah hati hati." Sahut Jia.
__ADS_1
Lervia berjalan menuju pintu sampai..
TBC...