
Suasana gelap di sertai angin sepoi sepoi di lengkapi dengan gemerlap bintang serta lampu lampu kota yang menyala membuat suasana nampak indah menambah semangat niat Argham untuk mengajak Valle dan Jia keluar. Malam ini Argham mengajak mereka berdua menonton acara pasar malam yang ada di tengah alun alun kota. Sambil memangku Raffa, Jia duduk di samping kursi kemudi. Argham melajukan mobilnya membelah jalanan kota. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Jia sambil tersenyum senang, entah apa yang ia rasakan saat ini hanya dia
yang tahu.
Valle yang melihatnya dari kaca tengah pun ikut tersenyum. Ia teringat dengan ucapan Argham tadi siang.
Flash back On
Siang ini Argham sengaja menjemput Valle di sekolahnya. Ia mengajak Valle makan di restoran favoritenya tempat biasa ia meeting bersama para client nya. Di dalam ruangan VIP telah terhidang makanan lezat kesukaan Valle, dan minuman jus alpukat kesukaan Argham. Mereka makan dengan khidmat, setelah menghabiskan makanannya barulah Argham berbicara. Ia ingin membicarakan hal penting kepada Valle dari hati ke hati.
" Valle, Om mau mengakui sesuatu padamu. Apa kau mau mendengarkannya?" Argham menatap Valle begitupun sebaliknya.
" Iya Om, katakan saja!" Sahut Valle cuek.
" Om suka sama mama kamu." Ucapan Argham sama sekali tidak membuat Valle terkejut. Valle bukan anak kecil lagi yang tidak bisa membaca gelagat seseorang jika menyukai orang lain. Ia dapat melihat ketertarikan Argham kepada mamanya sejak pertama kali mereka bertemu. Namun ia bersikap masa bodo'.
" Lalu?" Tanya Valle.
Argham mengerutkan keningnya menatap Valle.
__ADS_1
" Apa kamu tidak marah?" Tanya Argham memastikan.
" Untuk apa aku marah Om? Aku tidak bisa kan mengatur perasaan seseorang untuk tidak menyukai mama. Aku justru senang kalau banyak orang yang menyukai mama daripada mereka membenci mama." Ujar Valle. Argham melebarkan senyuman di sudut bibirnya. Ini merupakan satu kode yang baik untuk memuluskan rencananya.
" Bagaimana menurutmu? Apa Om pantas menjadi suami mamamu dan menjadi ayah sambungmu?" Argham mencoba meminta pendapat dari Valle. Ia berharap Valle setuju dan mau menerimanya menjadi ayah tirinya. Jika Valle tidak mengijinkannya, ia tidak akan memaksakan kehendaknya. Ia menghargai pendapat Valle sebagai anak dari wanita yang ia sukai.
" Pantas tidaknya aku tidak tahu Om, yang jelas kalau Om mau menjadi ayahku, Om harus membuat mama bahagia. Om tidak boleh menyakiti hati mama sampai kapan pun. Dan Om harus memanjakan mama, Om tidak boleh bersikap dingin pada mama seperti sikap papa selama ini, selamanya." Ujar Valle.
" Tentu saja, Om akan membuat hidup kamu dan mamamu bahagia. Om akan menyayangi kalian berdua sama seperti om menyayangi Raffa dan diri Om sendiri. Tapi untuk itu, Om membutuhkan bantuanmu." Ucap Argham.
" Aku akan membantu Om." Sahut Valle penuh semangat.
" Pdkt." Sahut Valle memotong ucapan Argham. Keduanya saling menatap satu sama lain.
" Om harus melakukan pendekatan sama mama. Buat mama merasa nyaman berada di dekat Om, ambil hati mama perlahan. Berikan perhatian Om untuk mama, pokoknya buat mama terkesan dengan semua yang Om lakukan padanya. Dengan begitu hati mama pasti condong kepada Om. Dan aku yakin mama pasti mau menerima Om saat om melamarnya nanti." Ujar Valle.
" Kalau cara itu tidak berhasil, gunakan Raffa untuk menekan mama. Mama sangat menyayangi Raffa, aku yakin mama tidak akan mau jauh dari Raffa. Jadi mau tidak mau mama pasti mau menerima Om sebagai suaminya. Bagaimana ideku cerdas bukan?" Tanya Valle sambil menaik turunkan alisnya.
Argham nampak memikirkan setiap kata kata yang Valle ucapkan. Memang benar apa yang di katakan oleh Valle, ia harus melakukan pendekatan pada Jia untuk memulai hubungan dengannya. Ia tidak menyangka jika Valle mampu berpikir cerdas tentang masalah asmara.
__ADS_1
" Idemu benar juga. Kau benar benar cerdas, Om akan mulai melakukannya malam ini." Ucap Argham.
Flash back off.
Mobil terus melaju menuju alun alun kota. Selama perjalanan Raffa tidak rewel, ia nampak anteng berada di dalam dekapan Jia. Ia benar benar menemukan kehangatan dekapan seorang ibu.
Lima belas menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan, setelah memarkirkan mobilnya mereka semua turun. Argham mengajak mereka semua menuju pintu masuk untuk membeli tiket. Jia nampak menjajari langkah Valle namun Valle malah mundur, Argham segera menggantikan posisi Valle. Jia menatapnya sekilas sebelum membuang pandangannya karena Argham melempar senyuman kepadanya.
Sampai di pintu masuk ternyata banyak para pengunjung yang sedang mengantri tiket, mereka bahkan berdesakan untuk bisa masuk ke dalam. Maklumlah mereka semua ingin melihat konser band papan atas yang di adakan di dalam sana. Argham menatap Jia yang menggendong Raffa, saat ia melihat seorang pria yang mendesak Jia, ia segera menggunakan tubuhnya untuk membentenginya agar Jia tidak tersenggol. Jia menatap Argham begitupun sebaliknya, jantung keduanya berdetak dua kali lebih kencang berada dengan jarak sedekat ini.
Bagaimana tidak? Saat ini Argham menarik Jia ke dalam pelukannya, Argham melindunginya dari senggolan orang lain. Argham menarik Jia ke tempat sepi, ia meminta Jia dan Valle menunggunya di sana. Argham mengantri tiket bersama yang lain. Hingga lika belas menit menunggu, batulah ia mendapatkan tiga tiket masuk untuk mereka semua.
Argham dan yang lain kembali bergabung dengan para pengunjung lain untuk masuk ke dalam, Argham kembali membetengi Jia dengan tubuhnya, mereka mulai berjalan masuk dengan perlahan di ikuti Valle dari belakang. Kenapa Argham tidak menyeterilkan pintu masuk untuk menghindari berdesakan seperti ini? Ia memang sengaja mengambil kesempatan agar ia dan Jia dekat sesuai ide yang di berikan oleh Valle.
Sampai di dalam, Argham berjalan di tengah tengah Jia dan Valle. Ia menggenggam tangan keduanya seolah takut kehilangan mereka berdua. Jia yang merasa canggung hanya bisa diam saja. Ia mencoba acuh dengan perhatian dan sikap Argham saat ini. Ia tidak mau hatinya terpaut dengan yang namanya sosok pria lagi. Ia sedang ingin menikmati hidup berdua dengan Valle saat ini.
Wahana yang mereka tuju pertama kali adalah kereta api. Mereka berempat duduk di deretan bangku yang sama layaknya sebuah keluarga lengkap nan bahagia. Raffa nampak senang saat kereta mulai berjalan mengitari alun alun lewat pinggiran pagar. Ia menggejolkan kakinya sambil berceloteh ria. Argham nampak bahagia, ia akan menjadikan moment ini sebagai moment paling bahagia yang pernah ia lewati bersama Jia dan Valle. Kalaupun seandainya ia tidak berjodoh dengan Jia, ia pun akan menerimanya dengan lapang dada yang penting ia sudah berusaha.
TBC....
__ADS_1