
Pagi yang cerah di sinari matahari yang bersinar terang, di hiasi awan putih yang terbentang di langit biru di atas sana membuat semua orang bersemangat untuk melakukan aktifitas kesehariannya. Namun tidak dengan gadis beranjak remaja yang saat ini duduk lesu di meja makan, padahal ia berada di tengah tengah keluarga yang bisa di bilang menyayanginya. Papa, nenek dan tante yang selalu bersikap baik padanya, siapa lagi gadis itu kalau bukan Valle?
Selama satu minggu tinggal bersama Alex, Alex berusaha mengubah sikapnya kepada Valle dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang begitu besar kepada Valle. Semua itu nampak dengan jelas di mata orang orang sekitar, berangkat ke sekolah selalu di antar oleh Alex, mau apa selalu di turuti oleh Alex, bahkan Alex sering menawarkan ini, itu dan bagaimanapun caranya Alex akan memenuhinya dengan harapan Valle akan betah tinggal bersamanya. Namun hal itu tidak membuat hati Valle bahagia, ia merasa apapun yang di lakukan oleh Alex hanya kepura puraan saja. Tidak setulus Argham yang menyayanginya.
Sekilas tentang Alex, karena Valle tinggal bersamanya, Jia meminta mereka tinggal di rumah Jia yang dulu pernah mereka tempati bersama. Alex membuka usaha bengkel motor dengan mengontrak tempat di seberang jalan depan rumahnya. Walaupun belum ramai pelanggan, namun ia bersyukur setidaknya setiap harinya ada tiga sampai empat pelanggan yang menservise motor mereka di tempatnya. Ia berharap usaha barunya akan mendapat keberkahan dari yang Kuasa hingga ia akan menjadi orang yang sukses suatu hari nanti.
" Sayang, kenapa belum menyentuh makananmu hmm? Kamu bisa terlambat lhoh kalau tidak segera sarapan, ini sudah jam setengah tujuh. Apa makanannya tidak enak? Atau kamu mau makan yang lainnya? Biar Papa belikan." Alex menatap Valle yang melamun tanpa menyentuh makanan yang ada di depannya sedikit pun.
" Aku mau menjenguk papa Argham." Ucap Valle tanpa menatap papanya.
Alex menghembuskan kasar nafasnya, jujur.. Ia tidak suka Valle menyebut nama orang lain sebagai papa di depannya.
" Sayang, Papa tidak menginginkanmu menemui mereka kecuali mereka yang menemuimu ke sini. Papa tidak mau kamu kembali kepada mereka, sekarang kamu milik Papa. Papa berharap kamu bisa melupakan papa tiri kamu itu." Bukannya mewujudkan keinginan putrinya, Alex malah mengajukan permintaan kepada Valle.
Bukan tanpa alasan Alex melarang Valle menemui Argham dan Jia, ia tidak mau Valle kembali kepada kedua orang tuanya setelah dengan susah payah ia mengambil Valle dari mereka.
" Aku tidak akan melupakannya Pa, bagaimanapun papa Argham adalah papaku. Dia sangat menyayangiku, dia.. "
" Kalau dia benar benar menyayangimu, seharusnya dia sudah datang menjemputmu." Sahut Alex memotong ucapan Valle.
" Tapi buktinya sampai sekarang apa? Dia tidak ke sini, padahal dia sudah pulang dari rumah sakit dia hari lalu. Papa yakin dia pasti merasa senang karena tidak ada kamu di antara mereka, dia merasa bahagia bisa memiliki mama kamu sendirian bersama putranya. Dia tidak akan memikirkan kamu lagi, jadi berhenti memikirkannya!" Ujar Alex mencoba meracuni pikiran Valle agar Valle tidak berharap kembali pada Jia dan Argham.
__ADS_1
" Papa Argham bukan orang seperti itu, dia pria yang baik dan pria yang bertanggung jawab. Dia sangat menyayangiku, dan aku yakin papa Argham sedang menyiapkan dirinya untuk menjemputku kemari." Alex mengepalkan erat tangannya menahan emosi yang siap meledak di dadanya. Ia tidak rela jika Valle lebih menyayangi Argham daripada dirinya.
" Pokoknya aku mau ke rumah papa Argham sepulang sekolah nanti, dan Papa tidak bisa mencegahku." Ucap Valle yang begitu rindu kepada Papa tirinya. Apalagi dengan Raffa, ingin sekali ia menggendong dan mencium pipi gembul nya. Tinggal satu minggu di sini bagaikan satu tahun bagi Valle.
" Kamu berani menentang Papa, Valleria? Apa ini yang di ajarkan oleh mama kamu selama ini hah?" Alex benar benar terpancing emosi. Bu Lastri mengelus lengan Alex mencoba menenangkan putranya.
Brak...
Tidak di sangka Valle justru menggebrak meja tanpa rasa takut. Ia menatap Alex dengan tatapan tajam.
" Jangan bawa bawa mama atas sikapku ini Pa! Mama selalu mengajariku untuk bersikap hormat kepada Papa, tapi bagi Valle Papa tidak pantas mendapatkan rasa hormat itu atas sikap Papa kepada kami selama ini. Sebelum Papa meminta orang lain untuk menghormati Papa, akan lebih baik jika Papa hargai dulu orang lain." Mata Alex terbelalak mendengar cacian yang Valle lontarkan kepadanya. Bagaimana ia bisa kehilangan rasa hormat dari putri tercintanya? Alex baru menyadari jika hubungannya dengan Valle sudah sejauh ini.
" Valle, Papa tidak mengharapkan ini darimu. Kamu berani berkata kasar kepada Papa, bahkan kamu berani menggebrak meja di depan Papa? Ini sudah keterlaluan Valle."Ucap Alex penuh penekanan.
" Dulu Papa menghancurkan kebahagiaanku dan mama saat kita bersama. Papa tidak pernah menghargai kami, Papa selalu bersikap cuek dan acuh kepada kami. Papa tidak mempedulikan apapun yang kami rasakan, dan sekarang setelah aku dan mama mendapatkan apa yang kamu inginkan, papa kembali mneghancurkannya. Aku benci Papa.. Aku benci Papa." Teriak Valle histeris.
Alex memejamkan matanya menahan perih yang menusuk di dalam hatinya. Orang tua mana yang sanggup menerima kebencian dari anaknya.
" Aku berangkat, dan Papa tidak perlu mengantarku! Aku bisa berangkat sendiri." Valle mengambil tas dari kursi lalu pergi meninggalkan Alex bersama ibu dan adiknya.
Alex terduduk lesu di meja makan, ia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Pikirannya kosong entah menguap kemana.
__ADS_1
" Sabar Nak! Maafkan Valle! Valle masih kecil jadi ia tidak..." Bu Lastri mengelus bahu Alex.
" Itukah putriku Bu?" Tanya Alex memotong ucapan ibunya.
" Putri yang saat masih bayi aku timang timang, putri yang saat kecil selalu mengantar kepergianku sampai depan pintu, putri yang selalu sakit saat aku tinggal bepergian keluar kota. Putri yang begitu dekat denganku. Putri kecil yang tidak mau makan tanpa aku suapi, putri yang selalu menempel saat aku pulang kerja dan selalu minta di peluk saat dia tertidur." Alex menatap kosong ke depan seolah kembali ke masa Valle masih kecil dulu.
" Sekarang dia sudah besar Bu, dia sudah bisa memaki ayahnya sendiri. Dia sudah bisa membedakan mana kebahagiaan dan mana penderitaan Bu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan diriku sendiri hingga tanpa sadar aku kehilangan waktu kebersamaan dengannya Bu. Tanpa aku sadari aku sendiri yang telah menjauhkan putriku dariku, dia bahkan dengan terang terangan membandingkan aku dengan ayah tirinya, pria yang baru menjadi ayahnya selama beberapa bulan ini. Hiks... " Tanpa terasa air mata penyesalan menetes begitu saja membasahi pipi Alex.
" Aku menyesal telah menelantarkan mereka berdua Bu, aku menyesal telah bersikap acuh padanya. Aku pikir dengan membawa Valle ke dalam kehidupanku dan memberikannya perhatian, dia bisa melupakan Argham dan akan hidup bahagia bersamaku. Tapi ternyata aku salah, dia tidak bahagia bersamaku Hiks.. Dia tidak bahagia bersama ayahnya sendiri. Aku membenci diriku sendiri Bu. Aku harus bagaimana? Aku harus apa agar Valle bahagia Bu? Aku tidak mau kehilangan putriku satu satunya, tapi dia juga tidak ingin bersamaku. Hiks... Aku harus bagaimana Bu?"
Author : Tinggal kembalikan aja ke Jia, gitu aja ngapain repot Lex?
Alex: Tidak semudah itu Thor, walaupun aku tidak bisa hidup bersama Jia setidaknya aku ingin hidup bersama putriku.
Author : Nyesel kan sekarang udah sia siain anak ma istri lo, syukurin.
Alex: Bukannya cari solusi malah nyukurin lo Thor jahat banget.
Author: Gimana nih emak2? Kira2 apa solusinya? Barang kali ada yang pernah ngalamin he he...
Alex: Gaje banget nih othor satu ha ha
__ADS_1
Author: Biarin 😜
TBC....