
Tanpa Argham dan Jia sadari, Wahyu berlari masuk ke dalam menghampiri Argham lalu....
Bugh....
Satu pukulan telak mengenai rahang bawah Argham, darah segar menghiasi sudut bibirnya. Melihat itu sontak membuat Jia berteriak.
" Mas Argham!!!" Jia mendekati Argham namun di tahan oleh Alex. Entah kapan Alex masuk Jia tidak tahu.
" Lepaskan aku!" Jia berusaha memberontak namun tenaganya kalah besar dengan Alex.
Bugh... Bugh...
Wahyu memukul wajah Argham hingga babak belur. Mendapat serangan mendadak membuat Argham tidak bisa berkutik, tidak ada kesempatan untuk ia membalas pukulan Wahyu.
" Wahyu hentikan!!!" Teriak Jia tidak kuasa melihat suaminya di hajar oleh mantan selingkuhannya namun Wahyu tidak menghiraukan teriakan Jia. Ia terlanjur emosi mendengar aduan Alex kepadanya jika Argham telah mengkhianati Jia di malam pernikahannya. Wahyu merasa tidak terima dengan luka yang Argham torehkan di hati wanita yang sampai saat ini menjadi penghuni hatinya.
Wahyu mencengkeram kerah leher Argham dengan kuat, ia menatap manik mata Argham dengan tatapan nyalang. Tidak peduli darah mengalir dari pelipis dan sudut bibir Argham.
" Ini sebagai balasan karena kau telah menyakiti hati Jia. Aku sudah bilang padamu untuk menjaga Jia dengan baik dan jangan sampai kau menyakitinya tapi rupanya kau tidak menghiraukannya. Lain kali berpikir dua kali jika mau bertindak, kalau sampai kau menyakiti Jia lagi akan aku pastikan kalau kau akan kehilangan Jia saat itu juga. Camkan itu!"
Brak....
Wahyu mendorong tubuh Argham hingga terjatuh, punggungnya menabrak tembok membuatnya meringis kesakitan. Tidak kuasa melihat suaminya terluka, Jia menepis tangan Alex lalu mendekati Wahyu. Tiba tiba...
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi mulus Wahyu. Ia mengelus pipinya yang terasa panas.
" Memangnya siapa kau berani menghakimi suamiku hah?" Teriak Jia meluapkan emosi hingga ia tidak menyadari jika Raffa dalam gendongannya. Beruntung Raffa tidak menangis.
" Jia aku... Aku sahabatmu." Sahut Wahyu hampir keceplosan.
" Aku tidak akan diam saja jika sahabatku tersakiti, aku akan membuat perhitungan dengan orang yang telah menyakitimu termasuk Argham." Sambung Wahyu menunjuk Argham di bawah sana.
" Ada batasan untuk hal hal tertentu Wahyu, dan kali ini kau telah melewati batasan itu." Ucap Jia membuat Wahyu terkejut. Ia tidak rela Jia lebih membela Argham daripada dia. Apa yang ia lakukan demi untuk membela Jia namun Jia justru menyalahkannya.
" Sudah menjadi kebiasaanku melewati setiap batasan itu Jia, aku harap kau tidak melupakan itu." Jia langsung bungkam mendengar sindiran yang Wahyu ucapkan.
" Lain kali jangan membela pecundang sepertinya, tanpa kau sadari kau telah melukai hatiku." Ucap Wahyu segera berlalu dari sana membawa rasa sakit dan kesal di dalam hatinya. Begitupun dengan Alex, ia berlalu begitu saja meninggalkan Jia yang masih berdiri mematung karena ucapan Wahyu.
__ADS_1
" Sa.. Sayang." Lirih Argham membuat Jia tersadar dari lamunannya.
Jia segera mendekati Argham, ia membantu Argham berdiri lalu duduk kembali di kursinya. Jia memanggil bi Ijah untuk mengajak Raffa, sedangkan ia mengobati luka Argham. Dengan telaten Jia mengobati bibir Argham yang sedikit sobek dengan betadine setelah di bersihkan dengan alkohol. Argham menatap wajah Jia yang berada sangat dekat dengan wajahnya.
" Shhhh." Desis Argham saat cairan betadine menempel pada lukanya membuatnya terasa perih.
" Tahan dulu Mas, biar cepat kering lukanya." Ujar Jia.
Setelah itu Jia mengobati pelipis Argham lalu menempelkan hansaplast agar darahnya berhenti. Sedangkan sebagian wajah Argham yang lebam, Jia kompres dengan air hangat.
" Apa ini sakit?" Tanya Jia menekan washlap pada lebam di pipi kanan Argham.
" Lebih sakit kamu abaikan di banding luka ini." Sahut Argham.
Jia menatap manik mata milik Argham begitupun sebaliknya, untuk beberapa saat keduanya saling mengagumi kesempurnaan pasangannya, Jia cantik dan Argham tampan meskipun luka lebam menghiasi wajahnya namun tidak mengurangi ketampanannya.
Jia memutus pandangannya lalu kembali mengompres luka Argham.
" Aku lihat Wahyu begitu marah padaku karena masalah ini, entah mengapa aku merasa sikap yang Wahyu tunjukkan padaku bukanlah sikap sebagai seorang sahabat. Tapi lebih ke seorang pasangan."
Deg...
Jantung Jia berdetak dua kali lebih kencang. Lagi lagi sikap Wahyu membuat Argham curiga padanya. Malas memperdebatkan masalah ini, Jia meletakkan washlap di atas meja lalu meninggalkan Argham sendiri.
Jia menghentikan langkahnya saat sampai depan pintu, ia menengok ke belakang menatap Argham.
" Aku juga meras kau memiliki perasaan padanya." Ucap Argham mulai curiga. Pasalnya setiap Argham mengutarakan hal itu Jia terlihat semakin menghindar. Seolah olah ia memang sedang menyimpan sesuatu.
" Kau yang terbukti bersama wanita lain, kenapa kau malah mencurigai ku seperti itu? Apa kau sedang ingin melempar kesalahan dengan mencari cari kesalahanku?" Pertanyaan Jia membuat Argham mati kutu.
" Lain kali pikirkan kembali jika ingin mencurigai seseorang, aku saja yang punya bukti masih bisa mempertahankan kepercayaanku padamu Mas." Jia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Argham mengacak acak rambutnya karena kesal. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menghubungi seseorang yang ia tugaskan untuk membantunya. Membantu mencari bukti kelicikan Lora padanya. Setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk membujuk Jia supaya luluh dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam gudang tua yang nampak sangat gelap, tubuh Lora terikat di atas kursi reot serta lakban hitam menutup mulutnya membuatnya sulit untuk berbicara.
" Empt... Empt... " Lora menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri berharap lakban yang menempel di mulutnya bisa terlepas, namun usahanya sia sia.
__ADS_1
Tap... Tap.. Tap...
Suara gesekan sepatu dan lantai terdengar di telinga Lora. Ia menajamkan penglihatannya menatap seorang pria yang sedang berjalan mendekatinya. Sosok tinggi dan berpakaian serba hitam membuat Lora berpikir, siapa dia?
" Empt... Empt... "
Srek...
" Awh... " Teriak Lora saat pria itu menarik lakban dari mulutnya. Bibirnya terasa pedas dan panas.
" Siapa kau?" Tanya Lora. Karena gelap membuatnya tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
Pria itu tidak mau mengeluarkan suara emasnya untuk sekedar menjawab pertanyaan Lora membuat Lora semakin penasaran. Pria itu membungkukkan badannya, aroma maskulin yang di keluarkan dari tubuh pria itu membuat Lora merasa familiar. Ia seperti mengenal pria ini, tapi siapa? Dan dimana? Pikir Lora.
Lora mencoba mengamati pahatan wajah pria itu dengan seksama. Hidung mancung, bibir tipis, rambut sedikit gondrong membuat Lora perlahan mulai mengingat sosok itu.
" Kau.... " Lora menjeda ucapannya memastikan apakah dugaannya benar atau salah.
Pria itu mengelus pipi Lora, Lora memejamkan matanya menikmati sentuhan dari pria yang selama ini menjadi incarannya. Tiba tiba...
Plak.....
" Awh!!!!"
Jeritan terdengar dari mulut Lora saat tangan pria itu mendarat sempurna di pipinya. Panas, perih dan pegal bercampur menjadi satu.
" Aku minta maaf." Ucap Lora.
Lagi lagi pria itu membungkam mulutnya. Lora jadi sedikit ragu tentang pria ini.
" Coba berbicaralah! Aku ingin tahu siapa kau sebenarnya." Ujar Lora.
" Aku..... "
Siapa ya.... Penasaran? Tunggu di bab selanjutnya....
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya ya...
Terima kasih...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....