
Pagi ini Devita hendak ke rumah sakit, mendadak ada panggilan yang membutuhkan bantuannya. Ia berjalan menuju mobilnya, saat ia membuka pintu mobil ia melihat Ayu keluar dari rumah Erick sambil menggendong Mikayla, yang menjadi pusat perhatian Devita adalah koper besar yang di seret Ayu menggunakan tangan kirinya. Devita mengurungkan niatnya, ia berjalan menghampiri Ayu.
Ya.. Semalam Erick dan Ayu telah resmi berpisah. Erick menjatuhkan talak tiga kepada Ayu hingga gugurlah pernikahan mereka yang mereka lakukan secara siri. Walaupun Erick tidak memintanya untuk meninggalkan rumah itu, namun Ayu cukup tahu diri untuk pergi dari rumah itu, apalagi sudah tidak ada ikatan di antara mereka.
" Mbak Ayu mau kemana?" Devita menatap Ayu dan Mikayla bergantian.
" Aku mau pulang Devi." Sahut Ayu.
" Pulang? Kenapa tidak tinggal di sini saja? Aku ingin melihat Mikayla setiap hari." Ujar Devita.
" Tidak, aku sudah cukup menderita selama ini. Kini sudah saatnya aku bahagia, apalagi aku dan Erick sudah berpisah. Kau bisa main ke rumahku kalau kau merindukan Mikayla. Minta Erick untuk mengantarmu ke sana." Ujar Ayu.
" Aku minta maaf Mbak, tanpa aku sadari aku telah memisahkan kalian bertiga." Ucap Devita penuh rasa bersalah.
" Kau tidak bersalah, ini takdir Tuhan yang harus aku jalani." Sahut Ayu.
" Mbak, sebelum kau pergi aku ingin tahu tentang perasaanmu, apa kau masih mencintai kak Erick?" Tanya Devita menatap Ayu dengan tatapan menyelidik. Jika jawaban Ayu iya, maka Devita berniat untuk mundur. Walaupun ia mencintai Erick namun ia tidak sejahat itu hingga harus memisahkan anak sekecil Mikayla dari ayahnya.
" Dulu... " Sahut Ayu.
" Dulu aku sangat mencintai Erick hingga apapun aku lakukan demi Erick. Tapi setelah aku tahu perasaan Erick yang sesungguhnya padaku, perasaan itu perlahan memudar hilang Vi. Sampai pada Jia memaksanya untuk menikahiku, perasaanku semakin hambar. Apalagi sejak pernikahan kami dia sudah tidak mempedulikan aku lagi. Dia mendadak menganggapku sebagai orang asing. Rasanya tidak ada bedanya antara ada dia dan tiada. Mungkin perpisahan ini adalah yang terbaik untuk kami berdua." Jelas Ayu mengeluarkan isi hatinya.
" Jika kau masih ada rasa, kenapa kau tidak mempertahankan pernikahan ini? Aku akan mundur jika kau mau melakukan itu Mbak. Apalagi aku belum memberikan jawaban kepada kak Erick."
Ayu tersenyum kecut mendengar ucapan Devita.
" Sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir baik Vi, aku sudah pernah mengalami sebelumnya. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri, tentunya tidak di sini. Aku titip Erick padamu, dia terlihat sangat mencintaimu. Kalian pasti akan bahagia jika bersama." Ujar Ayu.
Devita menghembuskan nafasnya pelan, ia tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada Ayu.
" Baiklah aku bisa mengerti perasaanmu Mbak, tapi setelah ini apa kau akan membiarkan aku menemui Mikayla? Aku sudah terlanjur menyayanginya." Ucap Devira mengelus pipi Mikayla dengan lembut.
" Tentu saja, kau akan menikah dengan Erick itu berarti kau juga ibunya. Kau yang telah merawatnya saat aku tidak bersamanya. Kau bisa menemui putrimu kapan saja." Sahut Ayu sambil tersenyum.
Devita semakin tidak tega melukaimu hati Ayu dengan merebut Erick darinya.
__ADS_1
" Terima kasih Mbak, semoga kau mendapat kebahagiaan. Sejatinya kau adalah orang yang baik." Ucap Devita.
" Kau tidak tahu Devita, aku pernah bahagia di atas penderitaan orang lain. Mungkin ini hukuman yang telah Tuhan turunkan untukku. Maafkan aku Jia, aku berdosa padamu." Ujar Ayu dalam hati.
" Baiklah aku pergi dulu." Pamit Ayu.
" Hati hati Mbak." Devita menciumi pipi Mikayla berkali kali.
Mikayla menyentuh wajahnya membuat hati Devita trenyuh.
" Bagaimana anak ini bisa hidup tanpa ayahnya. Sepertinya aku harus bicara pada kak Erick." Batin Devita.
Devita masuk ke dalam rumah Erick, ia merasa harus membicarakan hal ini padanya.
" Kak Erick." Panggil Devita setengah teriak.
" Apa sayang."
Cesss...
" Ya Tuhan... Bagaimana aku tidak terpesona dengan kak Erick? Dia terlihat tampan dan menawan." Batin Devita.
" Ada apa sayang hmm?" Tanya Erick tersenyum manis menatap Devita membuyarkan lamunan Devita.
" Kak, kenapa kamu tidak mencegah kepergian mbak Ayu?" Tanya Devita menghampiri Erick.
" Dia sendiri yang ingin pergi dari sini." Sahut Erick santai.
" Dia membawa Mikayla Kak." Ujar Devita.
" Dia ibunya, sudah semestinya dia membawa putrinya kan." Erick meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menatap Devita yang berdiri di depannya.
" Aku tahu, tapi alangkah baiknya jika kalian membesarkannya bersama sama kan? Kejar dan minta Mbak Ayu untuk tetap tinggal di sini Kak!" Titah Devita.
" Apa jika aku mengejar Ayu kau mau menikah denganku?" Erick nampak tersenyum smirk menatap Devita.
__ADS_1
Devita bungkam, ia mencoba berpikir bagaimana baiknya.
" Kalau tidak, biarkan Ayu dan Mikayla pergi. Ayu sudah lama menderita bersamaku, mungkin sudah saatnya dia mencari kebahagiannya sendiri." Ujar Erick.
" Iya iya aku mau, aku mau menikah denganmu yang penting jangan buat mbak Ayu dan Mikayla pergi dari sini." Ujar Devita.
" Baiklah, tepati janjimu. Aku akan meminta Ayu untuk tetap tinggal. Tapi jika dia tidak mau, jangan paksa dia. Kita harus menghargai keputusannya." Ujar Erick.
" Setidaknya kita sudah mencoba Kak." Sahut Devita.
" Baiklah, setelah ini persiapkan dirimu! Aku akan melamarmu malam ini juga. Lebih cepat akan lebih baik, aku tidak mau sampai kamu berubah pikiran." Erick beranjak dari sofa menuju pintu depan.
Erick berlari menuju gerbang rumahnya dimana Ayu masih berdiri di sana menunggu taksi yang akan mengantarnya ke rumah.
" Ayu."
Ayu menoleh ke belakang, ia menatap Erick yang setengah berlari menghampirinya. Sampai di depan Ayu bukannya mengatakan sesuatu, Erick malah menatap Devita yang berdiri di depan pintu rumahnya. Devita tersenyum menganggukkan kepala.
" Ayu, jangan pergi! Tinggallah bersama kami. Kita akan merawat Mikay bersama sama." Ujar Erick.
" Apa kau tega melihat aku menderita melihatmu dan Devita bahagia?" Ayu ingin tahu reaksi Erick tentang ucapannya.
" Maaf! Sebenarnya ini permintaan Devita."
Ayu tersenyum kecut, ia sudah menduga sebelumnya. Hatinya semakin perih melihat pria yang ia cintai mau melakukan apapun demi wanita yang dia cintai. Ayu semakin mantap dengan keputusannya.
" Bilang padanya kalau aku tidak mau. Berikan aku kebebasan untuk mencari kebahagiaanku. Aku menunggu undangan pernikahan kalian, aku pasti akan datang memberikan restuku. Aku pergi, taksiku sudah datang." Ucap Ayu bersamaan dengan sebuah taksi berhenti di depannya.
" Baiklah, hati hati. Terima kasih telah memberikan Devita untukku." Ucap Erick di balas anggukkan kepala oleh Ayu.
Ayu masuk ke dalam taksi dengan perasaan hancur. Ia menatap Erick dengan tatapan sendu, taksi mulai melaju menjauh dari rumah Erick. Erick masih berdiri di pinggir jalan seolah sedang melepas kepergiannya dengan bahagia. Ayu semakin yakin jika dirinya dan Mikayla tidak ada artinya sama sekali dalam hidup Erick. Buktinya Erick sama sekali tidak menyapa atau memberikan ciuman perpisahan pada darah dagingnya.
Ayu merasa bodoh jika masih mau mempertahankan pria seperti Erick. Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipi Ayu. Pergi sulit bertahan pun sakit. Itulah yang Ayu rasakan saat ini. Ia berharap semoga suatu hari nanti ia bisa mendapatkan kebahagiaan.
TBC....
__ADS_1