
Tiga bulan telah berlalu, kondisi Ayu masih dalam keadaan koma. Devita yang mengurus Mikayla setiap harinya menjadikannya semakin dekat dengan Erick. Tidak seperti sebelumnya yang menampakkan perasaannya, kini Devita lebih pintar menyimpan perasaannya dengan rapi. Pagi ini ia membawa Mikayla ke kamar Ayu, kamar yang tidak pernah di pijak oleh sang pemilik rumah. Ia duduk di kursi samping ranjang sambil memangku Mikayla. Matanya menatap tubuh kurus Ayu yang terbaring lemah di atas ranjang.
" Kapan kau akan sadar Mbak? Aku sudah tidak sanggup berada di sini lagi. Aku takut semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku untuk kak Erick. Selama ini aku berusaha mati matian untuk menghilangkan perasaan ini mbak, tapi aku tidak bisa. Semakin aku mencoba untuk melupakannya maka semakin besar perasaan itu tumbuh di dalam hatiku. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi mbak, rasanya sakit. Sangat sakit... Setiap hari aku hanya bisa melihat pria yang aku cintai tanpa bisa menyentuhnya apalagi memilikinya. Aku mohon bantu aku keluar dari sini mbak, sadarlah! Bangunlah dari tidur panjangmu! Mikayla dan Erick membutuhkanmu." Ucap Devita sendu.
Tanpa ia sadari, Erick mendengar semuanya di depan pintu. Erick kembali ke ruang kerjanya lalu menguncinya dengan rapat. Ia duduk di sofa sambil menutupi wajahnya dengan lengannya. Pikirannya melayang ke masa ia jatuh hati pada seorang Devita.
Kelembutan Devita, perhatian Devita, dan senyuman Devita telah berhasil mengalahkan dunianya. Bahkan sejak kehadiran Devita, ia tidak pernah mengingat Jia lagi. Nama Jia seolah tergantikan dengan Devita. Erick tidak tahu kenapa ini bisa terjadi, padahal Ayu yang selama ini mendampinginya saja tidak bisa merebut hatinya. Dalam keadaan koma sekalipun, ia tidak bisa membuat hati Erick iba padanya.
Ingin sekali Erick mengutarakan perasaannya pada Devita sekarang juga, tapi lagi lagi ia sadar diri akan siapa dirinya. Ia yakin dokter Rayhan tidak akan membiarkan putri semata wayangnya jatuh ke tangan pria brengsek sepertinya. Erick benar benar di landa gundah gulana.
Di dalam kamar Ayu, nampak jari jemari Ayu bergerak dengan pelan. Melihat itu, sontak membuat Devita berteriak memanggil nama Erick. Mendengar teriakan Devita, Erick segera berlari menghampirinya.
" Ada apa? Kenapa kau berteriak Devi?" Erick nampak begitu cemas takut terjadi hal buruk pada wanita yang sekarang menjadi penghuni hatinya.
" Lihat Kak! Tangan mbak Ayu bergerak." Devita menunjuk tangan kanan Ayu, dan benar saja jarinya bergerak.
Erick segera mendekati Ayu, ia berdiri di samping ranjang di susul Devita yang berdiri di sampingnya. Tidak ada reaksi berlebih layaknya seorang suami bahagia pada umumnya, Erick hanya menatap Ayu dengan tatapan biasa.
" Mbak Ayu bangun mbak! Kak Erick dan Mikayla menunggumu di sini."
Erick menatap Devita sekilas saat lalu ia menatap Ayu kembali. Perlahan Ayu membuka matanya, semakin lebar hingga mata Ayu terbuka dengan sempurna. Devita tersenyum melihatnya.
" Alhamdulillah mbak Ayu sadar." Ucap Devita senang.
" Ha... Haus." Ucap Ayu lirih sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar.
Erick segera mengambil segelas air di atas nakas lalu memberikannya kepada Ayu menggunakan sedotan. Ayu meminumnya sambil terus menatap Erick. Selesai minum Erick mengembalikan gelasnya di atas nakas, tiba tiba Ayu beranjak lalu memeluknya.
" Aku merindukanmu Rick." Ucap Ayu memeluk Erick dengan erat.
" Aku juga." Entah mengapa malah jawaban itu yang lolos dari bibir Erick, mungkin ia tidak mau sampai Ayu drop lagi. Ia membalas pelukannya sambil mengusap punggung Ayu.
Deg...
__ADS_1
Hati Devita mencelos melihat pemandangan lazim yang di lakukan sepasang suami istri itu, namun sayangnya begitu menyakitkan hatinya.
Ayu melepas pelukannya lalu menatap putri kecil dalam gendongan Devita.
" Anak mama sayang." Ayu mengambil Mikayla dari gendongan Devita lalu ia kembali memeluk Erick meluapkan kerinduan yang telah lama ia pendam. Mereka nampak seperti keluarga harmonis yang baru di pertemukan.
Melihat hal itu Devita melangkah keluar meninggalkan keluarga bahagia yang baru kembali bersatu itu.
Tes...
Air mata menetes di pipinya, ia segera mengusapnya sebelum ada yang melihatnya. Harapan untuk bersama Erick pupus lah sudah karena pemeran utama telah kembali. Bukankah ini yang ia inginkan? Tapi mengapa rasanya lebih sakit dari memendam perasaan yang selama ini ia lakukan? Ia meninggalkan rumah Erick dengan perasaan hancur.
" Aku harus bisa melupakannya, aku tidak boleh seperti ini." Tekad Devita dalam hati.
Di dalam kamar, Erick menatap kepergian Devita dengan perasaan sedih.
" Maafkan aku Dev, mungkin ini yang terbaik untuk kita." Batin Erick.
" Hampir lima bulan." Sahut Erick.
" Maafkan aku yang telah mengabaikan kalian selama itu."
Erick tidak menggubris ucapan Ayu. Ayu terus bertanya dan ia hanya menjawab seperlunya saja. Ayu nampak begitu bahagia melihat Erick yang tidak mengabaikannya, ia merasa Erick mulai menerimanya sebagai istri sepenuhnya.
Dua hari berlalu, sejak saat itu Devita tidak lagi berkunjung ke rumah Erick atau sekedar menanyakan kabar Mikayla. Ia benar benar seperti di telan bumi. Hal ini membuat Erick nampak uring uringan. Ayu yang sedari tadi melihatnya pun menjadi bertanya tanya.
" Kamu kenapa Rick?" Tanya Ayu yang saat ini sedang duduk memangku Mikayla di atas ranjang.
" Tidak apa apa." Sahut Erick.
Erick berjalan menuju balkon kamarnya, ia merasa membutuhkan udara segar setelah dua hari full merawat Ayu dan Mikayla. Beruntung Mikayla anak yang pendiam, ia tidak rewel selama berada di dekat Ayu. Mungkin ia tahu jika itu ibu kandungnya.
Deg...
__ADS_1
Jantung Erick berpacu dengan kencang saat melihat di bawah sana Devita sedang memasukkan dua koper besar ke dalam bagasi mobil. Nampak Devita cipika cipiki dengan dokter Rayhan.
" Mau kemana dia? Kenapa sepertinya dia mau pergi jauh? Apa benar dia akan meninggalkanku?" Tanya Erick pada dirinya sendiri.
Tidak mau kehilangan sosok wanita yang ia cintai, Erick segera berlari keluar mengabaikan panggilan Ayu yang merasa heran dengan tingkahnya. Erick berharap mobil yang hendak Devita naiki belum pergi, namun ternyata nasib baik sedang tidak berpihak padanya. Sampai di depan rumah Devita, mobil Devita telah melesat jauh ke jalan raya.
" Dokter Rayhan." Panggilan Erick menghentikan dokter Rayhan yang hendak menutup pintu.
" Ya, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Rayhan menatap Erick yang berhenti di depannya.
" Saya melihat Devita pergi dengan dua koper besarnya, mau kemana dia?" Tanya Erick.
" Apa dia tidak pamit padamu?" Erick menggelengkan kepalanya.
" Dia pindah ke luar negeri."
Jeduarrrrr.....
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Erick terasa kaku dan tidak bisa di gerakkan.
" Pi.. Pindah?" Tanya Erick memastikan.
" Iya, dia ingin mewujudkan mimpinya menjadi dokter di negeri orang. Saya juga tidak tahu kenapa dia tiba tiba berubah pikiran seperti ini, padahal beberapa bulan lalu dia membatalkannya." Ujar dokter Rayhan. Memang Devita tidak memberi tahu ayahnya tentang perasaannya kepada Erick. Bagi Devita hal itu merupakan aib yang harus ia simpan rapat rapat.
Erick mengepalkan erat tangannya, ia yakin Devita sengaja menjauh darinya untuk melupakannya. Mendadak hati Erick tidak rela di lupakan Devita begitu saja, namun ia bingung harus berbuat apa. Mengejar Devita? Atau merelakannya?
Coba readers bantu jawab deh biar Erick tidak bingung.
Terima kasih atas dukungan yang telah kalian berikan...
Love U Full...
TBC...
__ADS_1