HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
JIA MUNTAH MUNTAH


__ADS_3

Di sebuah ballroom hotel mewah yang berada di pusat kota telah di laksanakan pernikahan antara Erick dan Devita. Erick menjadikan moment ini sebagai moment paling bahagia dengan membuat pesta yang sangat meriah, dekorasi bak kerajaan dan pihak MUA terkenal yang menyulap Devita sebagai ratu tercantik di dunia. Tidak segan segan Erick mengundang semua kolega bisnisnya untuk menyaksikan hari bahagianya.


" Saya terima nikah dan kawinnya Devita Maharani dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Setelah mendengar kata sah dari kedua saksi, Erick nampak sangat bahagia. Ia sampai memeluk Devita lalu mengecup kening Devita dalam waktu yang lama tanpa sadar. Semua tamu tersenyum bahagia melihat kebahagiaan dari kedua mempelai, namun tidak dengan seorang wanita yang sedang duduk sambil memangku putri kecilnya. Siapa lagi kalau bukan Ayu? Hatinya seperti di sayat sembilu, sakit.. Sangat sakit melihat seseorang yang kita sayang telah menjadi milik orang lain.


" Inilah yang Jia rasakan dulu saat aku merebut suaminya, sekarang aku telah mendapat karmanya. Maafkan aku Jia!" Batin Ayu memejamkan matanya menahan air mata yang siap tumpah membasahi pipinya.


Jia yang duduk di sampingnya menggenggam tangan Ayu, sontak Ayu langsung menatap ke arahnya.


" Jika kau melepasnya dengan ikhlas, maka kau akan mudah melupakannya." Ucap Jia.


" Terima kasih." Ucap Ayu sambil menganggukkan kepalanya. Ayu tidak menyangka jika Jia memiliki hati yang begitu besar hingga ia tidak membencinya.


Setelah melangsungkan acara ijab qobul, kini tibalah acara resepsi dimana pasangan pengantin baru di pajang di depan pelaminan. Argham menggandeng tangan Jia menghampiri pasangan pengantin baru, tak beda jauh dari tamu lainnya mereka mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik untuk kehidupan keduanya kelak.


" Terima kasih, aku senang kalian mau datang dan mendoakan kami." Ucap Erick.


Setelah itu mereka menuju meja prasmanan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh pihak catering.


Ayu melangkah dengan kaki gemetar menghampiri Erick dan Devita yang sedang duduk. Keduanya beranjak, Ayu menatap tangan Erick yang sedari tadi menggenggam tangan Devita. Devita dapat menangkap kesedihan dari mata Ayu, ia langsung melepaskan genggaman tangan Erick. Ia harus menjaga perasaan mantan istri suaminya ini.


" Selamat Rick, semoga kau bahagia dan Devita segera di beri momongan oleh yang Maha Kuasa." Ucap Ayu menatap Erick dengan tatapan sendu.


" Tentu, terima kasih telah meluangkan waktumu." Ucap Erick.


Ayu tersenyum kecut saat Erick sama sekali tidak menghiraukan putri kecil yang berada di depannya. Ia malah kembali menatap Devita sambil tersenyum manis. Seolah olah Devita adalah objek yang sangat indah. Ayu mendekat ke arah Devita, Devita langsung memeluknya.


" Maafkan aku Mbak!" Ucap Devita.


Air mata yang semula bisa Ayu tahan, kini tidak lagi. Air mata itu menetes membanjiri dada Devita.


" Hiks... " Devita mengelus punggung Ayu.


" Jangan menangis Mbak! Kau akan mempermalukan dirimu sendiri di depanku dan mas Erick. Buktikan pada mas Erick kalau kau bisa hidup bahagia tanpa dia. Kau akan di hargai saat kau berada di tangan yang tepat. Kau tidak perlu menangisi pria seperti suamiku yang tidak bisa menghargaimu Mbak." Bukan mengejek Ayu, namun Devita ingin memberikan support pada Ayu. Sebagai wanita ia bisa merasakan kesakitan Ayu, namun ia tidak bisa berbuat apa apa karena dirinya dan Erick saling mencintai.

__ADS_1


Setelah mengucapkan itu, Ayu segera pergi dari sana membawa luka di dalam hatinya. Devita duduk di kursinya di ikuti oleh Erick.


" Mas aku merasa kamu terlalu cuek pada Mikayla, bagaimanapun dia adalah putrimu Mas, darah daging mulai. Tidak seharusnya kamu seperti itu. Seharusnya kamu bisa menyayanginya ataupun sekedar mempedulikannya sedikit saja." Ujar Devita tidak suka dengan sikap Erick terhadap Mikayla.


" Baiklah aku akan menuruti apa katamu, aku akan mulai menyayangi Mikay sebagai putriku."


Begitulah cinta, ia akan mengikuti apa yang di katakan oleh pemiliknya karena ada rasa takut kehilangan di dalamnya. Devita tersenyum mendengar jawaban suaminya.


Di meja VVIP nomer dua, nampak Jia makan es krim rujak dengan lahap.Tak lupa beberapa hidangan seafood tersaji di depannya. Raffa mereka tinggalkan bersama bi Ijah. Argham menatap Jia sambil geleng geleng melihat Jia yang tidak seperti biasanya.


" Sayang sudah makan esnya, kamu belum makan apa apa dari pagi. Nanti perut kamu sakit lhoh." Ujar Argham.


" Tapi ini enak Mas, aku jadi mau makan terus." Sahut Jia. Dan hal ini membuat Argham semakin heran, tidak biasanya Jia suka makan makanan asam seperti sekarang, es krim dengan rujak serut mangga muda di campur jadi satu, melihatnya saja rasanya ngilu.


Tidak mau Jia sakit perut, Argham menarik mangkok es yang sedang di lahap Jia.


" Mas siniin! Aku belum selesai makannya." Ujar Jia menarik mangkoknya lagi.


" Stop sayang! Kamu udah habis tiga porsi lhoh. Sekarang waktunya makan nasi, kalau nanti belum kenyang kamu bisa makan ini lagi." Ujar Argham.


" Jangan manyun gitu donk sayang! Nanti kalau mas khilaf gimana? Mau mas cium di sini?" Ucap Argham.


Jia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, bisa malu sampai ubun ubun kalau sampai Argham benar benar menciumnya sekarang. Argham terkekeh melihat tingkah Jia.


" Sekarang makanlah! Ini udang pedas kesukaanmu, mas mengambilkan khusus untukmu." Argham mendorong piring berisi udang ijo di depan Jia.


" Terima kasih." Ucap Jia.


Mata Jia berbinar melihat makanan kesukaannya berada di depan mata. Ia pun mengambilnya menggunakan sendok lalu memakannya. Jia mengunyahnya dengan pelan, entah mengapa perutnya rasanya bergejolak. Namun ia tetap menelannya, saat ia hendak menyuapkannya lagi tiba tiba...


" Empt." Jia membekap mulutnya dengan tangannya. Melihat hal itu Argham nampak panik.


" Sayang kau kenapa?" Tanya Argham cemas.


Jia hanya menunjuk nunjuk mulutnya sendiri tanpa membuka tangannya. Argham tahu apa yang terjadi pada Jia, ia segera membawa Jia ke toilet yang ada di sana. Sampai di wastafel Jia langsung memuntahkan isi dalam mulutnya.

__ADS_1


Huek... Huek...


Tidak hanya yang ada di dalam mulut, Jia bahkan memuntahkan semua isi perutnya. Argham memijat tengkui Jia dengan pelan.


" Asam lambung kamu pasti naik sayang, kamu sih di bilang nggak nurut, di suruh nggak usah makan rujak banyak banyak juga. Begini nih hasilnya kalau ngeyel sama suami." Baru kali ini Argham mengeluarkan omelannya.


Jia membasuh mulutnya dengan air bersih lalu membersihkannya menggunakan tisu setelah merasa mendingan.


" Kita pulang saja, sebelum itu kita mampir ke klinik dulu. Kamu harus di periksa dokter, mas tidak mau sampai kamu kenapa napa." Ujar Argham memegang kedua bahu Jia.


Jia hanya menganggukkan kepala karena rasanya lemas setelah muntah muntah.


" Kamu lemes banget, mas gendong yah." Ujar Argham.


" Nggak usah Mas, aku bisa jalan kok. Malu juga di lihat banyak orang." Sahut Jia.


" Baiklah." Sahut Argham.


Mereka berjalan berdampingan, Argham menjajari langkah Jia dengan tangan tetap di pundak Jia. Ia tidak mau sampai Jia ambruk.


Satu langkah... Dua langkah... Tiba tiba pandangan Jia terasa kabur, ia seperti orang rabun yang tidak bisa melihat sesuatu di depannya dengan jelas.


" Mas aku... "


Belum selesai Jia berbicara tiba tiba...


Brugh...


" Jia!!!"


Nah loh kenapa nih Jia? Ada yang bisa menebaknya? Terima kasih atas dukungan kalian semua... Tanpa kalian novel author bukan apa apa...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2