
Sampai pada Jia kembali menguasai titik kesadarannya, ia melepas pagutannya lalu menatap Wahyu dengan sayu. Wahyu menatapnya dengan heran.
" Kenapa? Apa kau menyesalinya?" Tanya Wahyu menangkup wajah Jia.
" Hiks... " Jia kembali memeluk Wahyu sambil menangis. Hal itu membuat Wahyu kelimpungan.
" Jia, kenapa? Kenapa kamu menangis? Aku minta maaf, aku minta maaf jika aku telah menyakitimu. Aku mohon jangan menangis please! Aku tidak kuat melihat air matamu Jia. Aku mohon jangan menangis." Ucap Wahyu memeluk Jia dengan erat.
" Hiks... " Jia semakin terisak. Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya.
Sakit.... Mencintai namun tidak bisa memiliki rasanya memang sangat sakit. Perasaan Jia semakin besar terhadap Wahyu, ia semakin berat melepaskan Wahyu untuk istrinya. Ia merasa bingung harus bagaimana yang jelas saat ini ia merasa menjadi wanita paling hina di dunia ini karena rela di sentuh oleh pria yang bukan suaminya.
" Jia... Berhentilah menangis! Maafkan aku karena aku telah melukai hatimu." Ucap Wahyu meneteskan air matanya. Dari dulu ia paling tidak bisa melihat Jia menangis. Saat sekolah dulu jika Wahyu melihat Jia menangis, ia pun akan ikut menangis. Alhasil mereka menangis bersama. Tidak hanya itu, jika Jia sakit Wahyu juga pasti sakit. Entah itu batuk pilek, atau hanya dalam biasa. Entah ikatan apa yang terjalin di antara mereka, namun begitulah kehidupan mereka sebelum berpisah.
" Jia... " Ucap Wahyu.
Jia melepas pelukannya, ia mengusap air matanya.
" Aku merasa bimbang dengan perasaanku sendiri Yu. Aku pikir aku hanya menginginkanmu karena rasa nyaman yang kau berikan saja. Tapi ternyata tidak Yu. Aku.. Aku mencintaimu. Hatiku telah berpindah kepadamu, a.. aku merasa menajdi wanita paling hina karena telah mengkhianati cinta suamiku sendiri hiks..." Jia kembali terisak.
Wahyu menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya mendnegar ungkapan Jia. Ia menarik Jia ke dalam pelukannya.
" Aku bahagia Jia, aku bahagia karena akhirnya kau membalas perasaan yang bertepuk sebelah tangan selama ini. Aku bahagia Jia, walaupun kita tidak mungkin bersama tapi aku bahagia bisa seperti ini. Jangan pernah merasa rendah karena cinta itu hadir atas izinNya. Bukan hati dan cinta kita salah tapi hanya keadaannya yang tidak tepat Jia." Ujar Wahyu mencium kening Jia.
__ADS_1
" Kenapa aku baru membalas perasaanmu sekarang setelah kita punya pasangan masing masing? Kenapa tidak dari dulu aku membalas dan menyadari perasaanku padamu. Hiks... Aku merasa tersiksa dengan perasaan ini Wahyu. Aku harus bagaimana?" Ujar Jia meminta solusi terbaik kepada Wahyu.
" Tidak perlu di sesali Jia, semua sudah terjadi. Jalani saja dengan santai. Aku bahagia jika melihatmu bahagia. Apalagi kita bisa terus seperti ini." Ujar Wahyu.
Jia mendongak menatap Wahyu.
" Apa itu artinya kita akan menjalani hubungan seperti ini selamanya?" Tanya Jia.
" Ya." Sahut Wahyu.
" Sampai kapan?" Jia bertanya lagi.
" Sampai kita sudah tidak merasa nyaman satu sampai lain, sampai kita bisa melupakan perasaan satu sama lain." Sahut Wahyu.
" Bagaimana kalau tidak bisa? Bagaimana kalau semakin ke sini kita semakin terikat satu sama lain? Bagaimana jika kita tidak ataupun aku tidak bisa melupakan mu?" Banyak pertanyaan yang Jia ajukan kepada Wahyu. Wahyu tersenyum, ia mengecup bibir Jia dengan lembut.
Wahyu kembali mencium Jia dengan lembut, ia menyusupkan lidahnya ke mulut Jia mengekspos setiap inchinya. Jia merasa terhanyut dengan kelembutan yang Wahyu berikan padanya. Kelembutan yang tidak pernah Jia dapatkan dari Leon selama ini. Jangankan mencium bibir Jia dengan mesra, untuk menuntaskan hasratnya saja Alex selalu cepat selesai. Terkadang membuat Jia merasa kesal, jika Jia mengajukan protes alasannya selalu karena capek bekerja. Menurut Jia, Alex selalu bersikap egois kepadanya.
Setelah merasa kehabisan oksigen, Wahyu melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Jia dengan jempolnya. Ia masih menghargai Jia dengan tidak melakukan hal lebih jauh lagi. Ia tidak mau Jia merasa di rendahkan olehnya, ia ingin Jia merasa di muliakan oleh Wahyu sehingga membuat Jia nyaman bersamanya.
Wahyu menempelkan dahinya pada dahi Jia, keduanya saling menatap mata satu sama lain.
" Aku akan menjadikan ini sebagai kenangan terindah dalam hidupku Jia. Aku berharap kamu tidak akan pernah melupakan aku. Melupakan cintaku padamu yang benar benar tulus dari dalam hatiku." Ucap Wahyu.
__ADS_1
" Maafkan aku yang terlambat membalas perasaanmu. Terima kasih telah menjadi penyemangat dalam hidupku. Terima kasih telah menjadi inspirasi terbesarku Wahyu. Aku tidak akan melupakanmu, aku juga akan menjadikan moment ini sebagai kenangan terindah kita berdua." Ucap Jia.
" Mulai sekarang mari kita ukir kenangan indah lainnya." Ucap Wahyu di balas anggukkan kepala oleh Jia.
" Aku rasa cukup sampai di sini, kau tidurlah dengan nyenyak. Jangan memikirkan apapun yang akan membebani pikiranmu hmm." Wahyu menempelkam hidungnya pada hidung Jia.
" Hmm." Gumam Jia menganggukkan kepalanya.
" Aku pulang dulu." Ucap Wahyu.
" Hati hati." Sahut Jia di balas anggukkan kepala oleh Wahyu.
Wahyu keluar dari rumah Jia, Jia menutup pintunya lalu kembali ke kamarnya. Sampai di kamar ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menyentuh bibirnya yang terasa kebas, ciuman Wahyu masih terasa di bibirnya. Jia tersenyum bahagia mengingat ciuman Wahyu tadi.
" Ya Tuhan biarkan aku bahagia, walaupun aku tahu ini sebuah dosa tapi dosa ini terasa begitu indah untukku." Batin Jia.
Sedetik kemudian ia teringat dengan Alex. Bayangan senyuman Alex melintas di kepalanya, bayangan perhatian yang Alex berikan saat ia sakit. Bayangan sikap posesif Alex jika berada jauh di luar kota menari nari di pikiran Jia. Seharusnya Jia merasa bersalah karena telah mengkhianati suaminya, namun ia tidak sama sekali tidak merasakan hal seperti itu.
" Maafkan aku Mas, semua ini terjadi karena sikap dinginmu padaku. Seandainya kamu bisa bersikap sedikit hangat kepadaku, aku tidak akan melakukannya. Aku sudah menjaga kesetiaanku selama ini, maafkan aku jika kali ini aku egois. Aku juga ingin merasakan betapa bahagianya di manjakan oleh orang yang aku cintai. Dan sayangnya orang itu bukan kamu lagi, melainkan wahyu. Sahabat yang telah mencintaiku lebih dulu daripada kamu." Monolog Jia menatap langit langit kamarnya.
Salah...
Ya... Jia tahu jika yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan, namun saat ini ia tidak peduli akan hal itu. Entah setan apa yang kini merasuk ke dalam jiwanya yang suci, mungkin benar kata pepatah. Akan ada fase dimana sabar menjadi muak. Peduli menjadi cuek, setia menjadi goyah jika sabar, peduli, dan setianya tidak di hargai.
__ADS_1
Sepertinya Alex sedang menuai semua itu.
TBC....