
Malam ini sesuai janji, Wahyu menjemput Jia di rumahnya. Jia pergi bersama Valle karena ia tidak tenang meninggalkan Valle sendirian di rumah, apalagi malam hari seperti sekarang ini. Setelah mereka berdua masuk ke mobil, Wahyu segera melajukan mobilnya menuju rumah temannya.
Di dalam perjalanan mereka terlibat obrolan ringan, sampai di rumah mewah berlantai tiga, Wahyu menghentikan mobilnya.
" Apa ini rumah temanmu?" Tanya Jia menatap rumah yang lebih mirip istana ini.
" Iya, ayo turun! Dia sudah menunggu di dalam." Sahut Wahyu.
Mereka bertiga turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah megah itu. Di ruang tamu nampak seorang pria super tampan yang sedang duduk sambil memangku laptopnya. Sepertinya ia sedang mengerjakan sesuatu. Mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya, ia mendongak menatap Wahyu dan yang lainnya. Tatapannya terpaku pada sosok Jia, membuat Jia merasa nervous.
Wajah putih mulus, hidung mancung, alis sedikit tebal dan bibir yang beuh... seksi.. membuat wajahnya terlihat sempurna. Ia melempar senyuman kepada Jia membuat Jia semakin gugup saja.
" Kalian sudah datang, silahkan duduk." Ucapnya meletakkan laptopnya di atas meja.
Wahyu, Jia dan Valle duduk di sofa sebrang berhadapan dengan pria yang akan menjadi majikan Jia.
" Kenalkan Gham, ini Jia. Wanita yang kemarin aku ceritakan padamu." Ucap Wahyu.
" Hai, aku Argham." Ucapnya.
Jia hanya membalasnya dengan senyuman saja. Inilah sifat asli Jia, ia memang memiliki sifat pemalu sejak dulu.
" Ini anakmu?" Tanya Argham menunjuk Valle.
" Iya." Sahut Jia.
" Hai Om, kenalkan namaku Valle." Ucap Valle.
" Nama yang cantik secantik orangnya." Ucap Argham.
" Terima kasih Om." Ucap Valle.
" Apa benar kamu mau bekerja sebagai babby sister anakku?" Tanya Argham.
" Iya Pak, tapi aku tidak punya pengalaman bekerja sama sekali, karena sebelumnya aku hanya ibu rumah tangga biasa." Sahut Jia.
" Tidak masalah, sepertinya kalau aku lihat dari wajahmu kamu memiliki sikap penyayang. Selain jujur itulah yang aku pentingkan." Ujar Argham.
" Tidak juga, ada kalanya sisi burukku keluar saat aku sedang kesal." Ucap Jia.
" Semua orang juga begitu." Sahut Argham.
Argham menjelaskan apa saja yang boleh Jia lakukan dan tidak boleh Jia lakukan selama mengurus anaknya. Seperti Jia tidak boleh membiasakan anaknya tidur setelah makan, makan di dalam kamar, dan mandi terlalu pagi. Ia juga menyebutkan nominal gaji yang akan Argham berikan padanya, serta kebijakan yang Argham berikan kepada Jia seperti bebas makan, minum dan lain lain.
" Maaf Pak Argham, aku..
" Panggil Mas saja, jangan Pak! Aku tidak setua itu, lagian kita lebih terlihat seumuran. Biar lebih akrab saja, karena aku tidak membatasi hubungan antara aku dan babby sister anakku. Supaya kamu tidak sungkan untuk menceritakan perkembangan anakku kepadaku." Ujar Argham.
" Baiklah Mas Argham." Sahut Jia.
Walaupun sedikit sungkan namun benar kata Argham, dengan panggilan itu Jia tidak akan merasa sungkan. Ia bisa dengan bebas memberitahu perkembangan anaknya nanti seperti ia bercerita dengan temannya.
__ADS_1
Akhirnya Jia mengutarakan tentang kelonggaran waktu mengantar jemput Jia, karena Argham meminta Jia datang sebelum putranya bangun. Itu berarti Jia sampai sini sebelum jam enam pagi. Argham malah menawarkan sopir yang akan mengantar jemput Valle kepada Jia, awalnya Jia menolak namun pada akhirnya ia menerimanya karena Argham memaksa.
Argham bahkan menyarankan agar Jia dan Valle tinggal bersamanya, namun Jia menolak dengan tegas tawaran Argham. Ia merasa tidak sopan dan tidak akan nyaman jika mereka tinggal satu atap bersama majikannya. Apalagi Jia memiliki putri yang sedang beranjak dewasa, itu tidak akan aman baginya. Argham pun bisa menerima alasan Jia.
" Baiklah tidak masalah, kau datang sebelum jam enam pagi bersama Valle, jam setengah tujuh biarkan sopir yang mengantar Valle ke sekolah jadi kau bisa fokus mengurus putraku. Jam dua sopir akan kembali menjemput Valle, Valle bisa bersamamu di sini sekalian menemani putraku bermain sampai aku pulang dari kantor. Soal makan siang dan yang lainnya, Valle bisa makan di sini tanpa sungkan. Jam lima sore kalian boleh kembali ke rumah." Ucap Argham membacakan jadwal Jia selama menjadi babby sister di sini.
" Baik Mas, sebelumnya aku ucapkan terima kasih sebanyak banyaknya karena kebaikanmu dengan menerimaku bekerja di sini." Ucap Jia.
" Sama sama." Sahut Argham.
Tap.. Tap...
Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka sambil menggendong babby mungil nan tampan.
" Maaf Tuan, den Raffa rewel dari tadi. Sepertinya dia belum mau tidur." Ujarnya.
" Tidak apa apa, berikan padaku Bi." Ucap Argham.
Bi Ijah memberikan babby bernama Raffa kepada Argham, namun anehnya Raffa justru mengangkat kedua tangannya ke arah Jia yang saat ini sedang menatapnya.
" Mam... Ma." Tiba tiba Raffa memanggil mama pada Jia.
Mereka semua nampak terkejut, begitupun dengan Argham. Ini adalah kata pertama yang putranya ucapkan. Ia nampak sangat bahagia.
" Jia, sepertinya kau membawa keberuntungan untuk kami. Ini kata pertama yang putraku ucapkan Jia, putraku bisa berbicara. Akhirnya kecemasanku selama ini hilang sudah, aku khawatir putraku tidak bisa berbicara seperti anak pada umumnya karena selama ini ia hanya merengek tanpa mengucapkan satu kata pun. Tapi hari ini putraku bisa memanggil Mama padamu." Ucap Argham senang.
" Benarkah?" Tanya Jia.
" Iya Argham benar." Sahut Wahyu.
Jia menatap Raffa sambil tersenyum.
" Sini Bi, biar aku gendong!" Ucap Jia mendekati bi Ijah.
Bi Ijah memberikan Raffa kepada Jia. Jia menggendong Raffa sambil menimangnya.
" Duh anak tampan, siapa namamu? Gemesin deh." Ucap Jia mencium pipi Raffa.
" Namanya Raffael, tapi aku panggil Raffa." Sahut Argham.
" Raffa, anak yang manis." Ucap Jia menggendong Raffa dengan penuh kasih sayang seperti ia menggendong anaknya sendiri.
" Mam.. Ma." Babby Raffa mengelus pipi Jia.
" Eh bukan sayang, tapi...
" Tidak apa apa Jia, kalau kamu tidak keberatan biarkan Raffa memanggilmu mama, dia pasti menganggapmu mamanya." Ucap Argham.
" Kalau Mas Argham tidak keberatan, aku juga tidak keberatan." Ujar Jia di balas anggukkan kepala oleh Argham.
Wahyu melirik Argham sekilas, ia merasa Argham menyimpan rasa untuk Jia. Tapi siapa yang tidak akan tertarik dengan wanita seperti Jia. Lemah lembut, memiliki sikap penyayang pada sesama, meskipun malu tapi ia humble pada semua orang. Tidak pernah ia berpikir buruk pada orang lain.
__ADS_1
Tak lama bi Ijah menyajikan beberapa cangkir teh dan cemilan di atas meja. Wahyu dan Argham terlibat obrolan ringan sedangkan Jia lebih memilih bermain dengan babby Raffa, begitupun dengan Valle. Valle nampak gemas melihat pipi chubby babby Raffa.
" Ma kayaknya seneng deh punya adek selucu Raffa." Ujar Valle.
" Sepertinya keinginanmu tidak akan terwujud Valle, Mama tidak berpikir untuk menikah lagi apalagi memberikanmu adek seperti yang kau inginkan. Mama sudah tua, terlalu malas untuk memiliki babby sendiri." Ujar Jia.
" Apapun bisa terjadi jika Tuhan sudah berkehendak Ma, dulu Mama punya pendirian akan selalu setia kepada papa, tapi Tuhan berkata lain. Tuhan mencondongkan hati Mama kepada om Wahyu. Begitupun dengan keinginanku. Siapa tahu Tuhan memberikan jodoh yang baik kepada Mama, terus Valle dapat deh adek seperti yang Valle mau." Ujar Valle.
Jia tersenyum menatap Valle.
" Ternyata anak Mama sudah sedewasa ini. Jadilah anak yang baik sayang, doa Mama selalu menyertaimu." Ucap Jia mengelus pipi Valle.
" Tentu Ma, aku tidak akan selalu berusaha untuk tidak membuat Mama kecewa. Aku menyayangi Mama." Ucap Valle.
" Mama lebih menyayangimu sayang." Sahut Jia.
Jia kembali menggendong Raffa hingga Raffa tertidur dalam gendongannya. Argham tersenyum melihat semua itu, ia tidak menyangka jika putranya bisa sedekat ini dengan Jia padahal selama ini putranya selalu takut pada orang asing.
" Mas Argham, dimana aku bisa menidurkan Raffa?" Tanya Jia menatap Argham.
" Di kamarku." Ucap Argham membuat Jia terkejut. Rasanya tidak sopan jika ia masuk ke dalam kamar majikannya.
" Jangan sungkan! Aku tidak menjadikan kamarku sebagai privasi. Kecuali kalau aku sudah menikah nanti. Hanya istriku yang boleh masuk ke kamarku." Ucap Argham di balas anggukkan kepala oleh Jia.
" Ayo aku tunjukkan dimana kamarku!" Ucap Argham.
Jia mengikuti Argham dari belakang, mereka menaiki anak tangga menuju kamar Argham yang berada di lantai dua. Setelah sampai di depan kamar berpintu berwarna hitam, Argham mempersilahkan Jia masuk ke dalam. Jia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, kamar dengan luas sekitar lima kali lima meter ini nampak seperti lapangan bola karena hanya ranjang di tengah dan beberapa almari di pinggir mepet dengan tembok.
" Aku sengaja mengosongkan bagian tengah untuk menghindari hal buruk yang akan terjadi pada Raffa karena Raffa mulai bisa berdiri sendiri, sebentar lagi pasti dia belajar jalan." Ucap Argham.
Jia mengangguk anggukkan kepalanya mengerti maksud Argham.
" Tidurkan di sana saja!" Argham menunjuk ranjang big sizenya.
Jia menurunkan Raffa di atas ranjang, tidak langsung terlelap Raffa sempat merengek beberapa saat hingga Jia harus menepuk pelan dadanya sampai Raffa kembali tenang. Setelah itu ia turun dari ranjang.
" Aku harap kamu betah bekerja denganku, aku akan sering merepotkanmu ke depannya." Ucap Argham menatap Jia begitupun sebaliknya.
" InsyaAllah aku pasti betah Mas, apalagi mengurus babby seimut Raffa." Sahut Jia menatap Raffa yang sedang tertidur pulas.
" Apa kamu tahu? Kamu orang pertama yang aku biarkan masuk ke kamarku. Entah mengapa aku merasa kamulah yang terbaik untuk Raffa." Ucapan Argham membuat Jia terkejut, entah apa maksud ucapan Argham, ia tidak tahu.
" Jangan menaruh harapan padaku Mas Argham, aku takut kamu kecewa jika aku tidak sesuai dengan yang kau pikirkan. Aku permisi dulu." Ucap Jia keluar dari kamar Argham.
Argham tersenyum melihat kepergian Jia. Entah apa yang ia pikirkan dan ia rasakan saat ini hanya dia yang tahu.
Biasanya readers juga lebih tahu Argham...
Jangan lupa tekan like koment vote dan mawar yang banyak biar Jia tambah semangat nih...
Terima kasih..
__ADS_1
TBC...