
Bagaikan terbebas dari lilitan seekor ular, kini Jia bisa bernafas dengan lega tanpa adanya gangguan dari ketiga pria yang kemarin membuat hidupnya berantakan. Alex sudah pulang ke kampung halamannya, Argham tidak lagi ke rumahnya dan Wahyu tidak lagi menghubunginya ataupun merepotkannya. Jia kembali bekerja dengan tenang hari ini. Di dalam ruangan kamar yang luasnya mirip lapangan sepak bola, saat ini Jia baru saja memandikan Raffa, ia merebahkan Raffa di atas ranjang lalu segera memakaikan baju ganti agar Raffa tidak kedinginan. Belum juga ia selesai memakaikan bajunya, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Siapa lagi kalau bukan dari Argham.
" Halo." Tanpa membuang waktu Jia segera mengangkatnya. Ia mengaktifkan loudspeaker lalu melanjutkan kegiatannya.
" Jia, aku mau meminta tolong padamu. Tolong temani aku nanti malam, mama mertuaku mengundangku makan malam di rumah. Aku harap kamu bersedia karena aku harus membawa Raffa juga." Ujar Argham.
Sekilas tentang mertua Argham, nyonya Nella adalah ibu tiri dari mendiang istri Argham. Setelah sekian lama mereka tidak berhubungan, tiba tiba ibu mertuanya mengundangnya untuk malam dengan alasan merindukan cucunya, padahal selama ini mereka tidak mau tahu menahu tentang keadaan Raffa sama sekali. Argham merasa ada yang sedang di rencanakan oleh ibu mertuanya itu, tapi untuk apa itu? Argham sendiri tidak tahu.
" Bagaimana Jia?" Tanya Argham saat tahu Jia bungkam.
" Baiklah." Sahut Jia menyetujuinya.
" Terima kasih Jia, dan ya... Kalau nanti di tanya, bilang saja kalau kamu calon istriku."
" Apa????" Pekik Jia saat itu juga.
" Jangan berteriak Jia! Suaramu memekakkan telingaku." Ujar Argham.
" Ah maaf! Aku hanya terkejut saja mendengar ucapan Mas. Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Jia.
" Memangnya apa yang kau dengar hmm?" Bukannya menjawab, Argham malah balik bertanya.
" Mas Argham memintaku untuk mengaku sebagai calon istri Mas Argham. Bukan begitu?" Tanya Jia memastikan.
" Memangnya aku bilang begitu? Kapan?" Tanya Argham menggoda Jia. Entah kenapa sejak mengenal Jia, ia menjadi pribadi yang usil. Padahal selama ini ia terkenal dengan sikap cuek dan juteknya. Jika ada yang melihatnya pasti mereka tidak akan percaya jika itu Argham.
Sedangkan di sebrang sana Jia nampak salah tingkah. Ia akan merasa malu kalau sampai yang ia dengar tidak sesuai dengan apa yang Argham katakan.
" Oh berarti aku salah dengar berarti, baiklah tenang saja! Aku akan memperkenalkan diriku sebagai babby sister dari baby Raffa." Ujar Jia.
" Eh jangan jangan! Kau tidak salah dengar, memang aku mengatakan seperti itu." Sahut Argham pada akhirnya. Jia tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
" Hmm sepertinya ada yang senyum penuh kemenangan nih." Ujar Argham membuat Jia terkejut. Bagaimana Argham bisa tahu? Pikir Jia. Tidak tahu saja Jia, kalau laptop Argham yang ia pandangi saat ini terhubung dengan CCTV yang ada di dalam kamarnya. Namun hanya Argham sendiri yang tahu dimana letak kamera CCTV itu.
" Terserah kamu saja Mas mau ngomong apa, yang jelas sekarang aku mau menidurkan Raffa. Sudah dulu ya Mas, aku tutup teleponnya." Ucap Jia mematikan sambungan teleponnya.
Argham tersenyum melihat Jia yang nampak ngelonin Raffa di ranjang big sizenya. Ranjang yang hanya ia tempati berdua bersama Raffa, namun kini ranjang itu bergantian pemiliknya. Jika siang, ranjang itu milik Jia sedangkan malam ranjang itu kembali menjadi miliknya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam tujuh malam Argham melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya yang lumayan jauh dari rumahnya. Mereka membutuhkan waktu tempuh selama satu jam lamanya. Jia mendekap Raffa agar duduk dengan nyaman dan tidak kedinginan di kursi samping kemudian. Sedangkan Argham fokus ada jalanan di depannya.
Ya... Jia meninggalkan Valle di rumah Argham, di sana Valle merasa lebih aman karena tidak sendirian. Ada bi Ijah yang menemaninya.
Sampai di depan rumah sederhana milik kedua orang tua mendiang istrinya, Argham menghentikan mobilnya. Ia meminta Jia untuk turun. Jia turun sambil menggendong Raffa, Argham menggandeng tangannya masuk ke dalam rumah yang sudah dua tahun ini tidak ia kunjungi.
" Silahkan masuk Argham." Ucap wanita paruh baya yang bernama bu Nella. Bu Nella menatap sinis ke arah Jia, tak lama ia mengambil Raffa dari gendongan Jia.
" Cucu nenek sudah besar rupanya, sudah bisa merindukan kasih sayang mama pastinya ya."
" Oh ya kenalkan Ma, ini Jia." Ucap Argham.
Jia menyodorkan tangannya namun hanya mendapat tatapan dan senyuman sinis dari ibu mertua Argham. Jia menarik kembali tangannya.
Bu Nella mengajak mereka berdua ke meja makan, lebih tepatnya mengajak Argham namun Argham menarik tangan Jia untuk selalu mengikutinya. Di meja makan nampak seorang pria paruh baya yang Jianyakini sebagai ayah mertua dari Argham bersama seorang wanita seumuran dengannya.
" Malam Pa." Sapa Argham.
" Malam Gham, silahkan duduk!" Ucapnya yang bernama pak Ari.
Jia dan Argham duduk berdampingan.
" Argham, apa kamu masih mengingat Lora?" Tanya bu Nella membuat Argham menatap sekilas wanita yang duduk di sebelah ibu mertuanya.
__ADS_1
" Aku sudah lupa." Sahut Argham.
" Bagaimana kamu bisa melupakan adik dari mendiang istrimu? Dia sekarang sudah besar. Sudah siap menikah dan menjadi ibu yang baik. Menikahlah dengannya agar Raffa punya sosok seorang ibu."
Deg...
Entah mengapa jantung Jia terasa berdetak kencang. Ia merasa akan kehilangan Raffa jika sampai Argham menikahi adik iparnya. Ada perasaan tidak rela yang merambat dari hati Jia.
" Aku sudah membawa calon sendiri, Jia adalah calon istriku." Ucap Argham.
" Mama tidak rela jika cucu Mama yang tampan ini di asuh oleh orang lain, Mama tidak akan mengijinkanmu menikah dengan orang lain, kalau kau tidak mau menikahi Lora maka jangan bawa Raffa bersamamu."
Brak...
Argham menggebrak meja membuat semua orang terkejut termasuk Raffa, Jia segera mengambil Raffa saat ia thu Raffa hendak menangis. Inilah yang Argham tidak suka dari ibu mertuanya. Ibu mertuanya selalu bersikap seenaknya sendiri kepadanya dan kepada mendiang istrinya dulu. Ia selalu memaksakan kehendaknya hingga membuat istri Argham merasa tertekan dan berakhir dengan sakit sakit an.
" Argham kau... " Bu Nella menatap Argham dengan tajam.
" Jika kau mengundangku ke sini untuk masalah ini maka jangan pernah mengundangku lagi. Aku akan segera menikahi Jia untuk menjadi pengganti putrimu. Jia siap membesarkan Raffa seperti dia membesarkan putranya sendiri. Jia siap memberikan kasih sayangnya seperti ia memberikan kasih sayang ibu kandung kepada putranya sendiri. Jia siap menjadi yang terbaik untuk putraku, tidak seperti putrimu yang bisanya hanya menghabiskan uang saja tanpa mau bekerja. Bahkan dengan tidak tahu malunya dia menghabiskan semua yang tabungan milik kakaknya yang tak lain adalah istriku. Sampai istriku meninggal itu karena kalian semua yang selalu menekannya. Aku ke sini untuk menghormatimu sebagai nenek dari putraku, tapi tidak untuk lain kali. Jika kalian berani mengancam dengan menggunakan putraku, maka kalian akan menanggung akibatnya." Ucap Argham penuh penekanan.
Pak Ari tidak bisa berkata apa apa karena memang benar semua yang Argham ucapkan. Sedangkan Lora nampak kesal, ia menatap Jia dengan nyakang namun Jia tidak peduli akan hal itu.
" Ayo Jia kita pergi!" Argham menggandeng tangan Jia meninggalkan rumah itu dengan perut kosong. Sampai kapan pun ia tidak akan menuruti keinginan ibu mertuanya itu.
" Argham... Argham tunggu!" Ucap bu Nella mengejar Argham.
Argham tidak menggubris nya, ia masuk ke mobil begitupun dengan Jia. Argham melajukan mobilnya meninggalkan rumah mertuanya menuju rumahnya kembali. Lora yang melihat itu mengepalkan erat tangannya.
" Kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan kak Argham."
TBC.......
__ADS_1