HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
DI TINGGAL PAS TEGANG TEGANGNYA


__ADS_3

Jam dinding berputar ke kanan menunjukkan jam delapan malam. Argham, Jia, Valle dan Raffa baru saja selesai makan malam bersama. Valle membawa Raffa ke kamar lebih dulu, sedangkan Jia membereskan meja makan. Argham mendekatinya lalu berbisik di telinga Jia membuat Jia tercengang.


" Aku tunggu di ranjang, sayang. Jangan lama lama! Aku sudah tidak kuat menahannya lebih lama lagi."


Setelah mengatakan itu Argham berlalu meninggalkan Jia menuju kamarnya. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan lebih dulu sambil menunggu Jia. Jia menatap kepergiannya dengan jantung berdebar kencang.


" Ya Tuhan... Kenapa jantungku berdebar debar seperti ini? Rasanya seperti pengantin baru yang hendak unboxing untuk yang pertama kalinya." Gumam Jia.


Selesai mencuci piring, bukannya Jia masuk ke kamarnya malah ia masuk ke kamar yang di huni oleh Raffa dan Valle. Ia mendekati kedua anaknya yang sedang duduk sambil bermain di atas ranjang.


" Mama, kenapa Mama ke sini? Sana temani Papa aja!" Ujar Valle menatap Jia yang malah duduk di tepi ranjang samping Raffa.


" Malam ini Mama ingin tidur bersama kalian." Ucap Jia membuat Valle sedikit terkejut.


" Semoga Valle mengijinkannya, rasanya aku belum siap melakukan itu dengan mas Argham. Ada perasaan canggung di dalam hatiku, apalagi perasaanku masih abu abu. Tapi aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menghindarinya karena ini merupakan kewajibanku. Maafkan aku Mas." Ujar Jia dalam hati.


" Tidak bisa." Sahut Valle dengan cepat.


" Sayang Mama ingin tidur di tengah tengah kalian, masa' tidak boleh sih." Ujar Jia mencoba membujuk Valle.


" Mama harus tidur sama Papa, setelah kalian menikah kalian belum pernah tidur bersama." Ujar Valle.


" Lhah semalam Mama tidur sama Papa Argham. Dan sekarang Mama mau tidur di sini bersama kalian." Sahut Jia.


" Itu beda Ma.. Semalam kalian tidur bersama Raffa dan sekarang kalian harus tidur berdua. Kalau Mama mencoba menghindari Papa, terus kapan aku dan Raffa mau punya adik lagi Ma? Pokoknya aku mau tidur berdua saja sama Raffa. Nggak enak kalau ada Mama." Ujar Valle.


Jia nampak terkejut mendengar ucapan Valle. Pasalnya Valle tahu akal liciknya yang ingin terbebas dari Argham malam ini. Tanpa Jia tahu jika Argham telah memberi tahu Valle untuk menolak Jia jika Jia ingin tidur di kamarnya. Benar benar pria yang cerdas dan pandai mengambil jalan untuk mengantisipasi penolakan Jia.

__ADS_1


Jia menghela nafasnya pelan, ia tidak bisa mengelak lagi karena rencananya sudah tercium oleh putrinya.


" Baiklah Mama tidur di kamar Papa, jaga adikmu dengan baik. Mama ke kamar sekarang." Ucap Jia. Ia beranjak turun dari rnajang lalu membungkukkan badannya mencium pipi Raffa.


" Tidurlah sayang! Mama ke kamar dulu." Ucap Valle mengelus kepala Raffa dengan lembut. Raffa nampak asyik dengan mainannya sehingga ia tidak begitu memperhatikan Jia.


Jia keluar dari kamar Valle menuju kamarnya sendiri. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang seolah malam ini akan menjadi malam pertama baginya setelah menjadi seorang istri. Padahal ia sudah berpengalaman sebelumnya. Sampai di depan kamar, ia membuka pintunya dengan tangan gemetar.


Ceklek.....


Argham yang sedang duduk bersandar pada headboard ranjang sambil memangku laptopnya menoleh ke arah pintu, ia menyunggingkan senyumannya kepada Jia. Jia membalas senyumannya sekilas lalu menutup pintunya dari dalam. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya sebelum tidur.


Sepuluh menit kemudian Jia keluar dari kamar mandi, ia mengerutkan keningnya saat kamarnya mendadak menjadi gelap. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar mencari cari Argham yang sudah tidak berada di tempat semula, tiba tiba...


Grep...


" Maaf mengangetkanmu." Bisik Argham. Hembusan hangat nafasnya menyapu leher Jia membuat bulu kuduk Jia meremang. Jia menganggukkan kepalanya. Tubuhnya mematung seolah tidak bisa di gerakkan karena merasa gugup.


" Apa kau sudah siap?" Tanya Argham.


" A.. Aku.. Aku... " Jia nampak gugup menjawabnya.


" Jangan gugup seperti ini! Relax saja! Kita ikuti sesuai naluri dan alur yang mengalir. Ini tidak sesulit saat pertama." Ujar Argham.


Walaupun Argham terkesan sedikit memaksa, namun Jia tidak mempermasalahkannya. Toh memang sudah menjadi kewajibannya untuk melayani suaminya. Ia juga sudah mencoba mengindarinya namun tidak berhasil, mungkin memang sudah menjadi takdir Tuhan jika malam ini ia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.


Argham membawa Jia ke tepi ranjang, ia menangkup wajah Jia dengan kedua tangannya. Seperti sebelumnya, ia mencium bibir Jia dengan lembut. Suara decapan terdengar memenuhi ruangan kamar mereka. Tangan kanan Argham mulai mengukir lekuk tubuh Jia, hingga tangannya berhenti pada salah satu gundukan kembar milik Jia. Ia meremasnya dengan gemas membuat Jia mendesis pelan mengeluarkan suara seksinya. Tidak tahu saja jika hal itu mampu membuat jiwa kelakian Argham semakin tertantang.

__ADS_1


Tanpa melepas pagutannya, Argham mendorong tubuh Jia dengan pelan ke atas ranjang hingga terlentang, ia mengukung tubuh Jia dengan menjadikan kedua tangan sebagai tumpuannya. Ciuman yang semula lembut kini semakin menuntut. Bahkan sekarang ciuman Argham turun ke leher Jia. Ia menyesap leher Jia dengan lembut membuat stempel kepemilikan, sesekali ia memainkan lidahnya di sana membuat tubuh Jia menggelinjang seperti cacing kepanasan.


Singkat cerita, entah apa yang Argham lakukan pada Jia sehingga ia tidak menyadari jika saat ini tubuh keduanya sama sama polos. Argham menyentuh setiap lekuk tubuh Jia yang masih terlihat sangat indah dan menggairahkan meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Dua gundukan kembar yang masih terasa kenyal membuat Argham ingin menikmati dan menghabiskannya. Argham benar benar melakukan foreplay dengan lihai membuat tubuh Jia menginginkan hal lebih.


" Aku datang sayang." Bisik Argham dengan suara serak. Jia membalasnya dengan anggukkan kepala.


Argham siap siaga menuntun senjatanya yang sudah lama tidak terpakai menuju goa sempit yang lama tidak berpengunjung. Sampai di depan mulut goa, Argham mulai mendorongnya dengan pelan sampai...


Tok tok tok...


" Hua... "


" Ma, Raffa rewel tidak mau tidur."


Sontak suara Valle dan tangisan Raffa membuat Argham menjadi lemas. Ia menatap Jia begitupun sebaliknya.


" Maaf Mas." Ucap Jia merasa bersalah.


Tanpa menjawab ucapan Jia, Argham segera turun dari tubuh Jia, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang sedangkan Jia segera memakai pakaiannya kembali. Setelah pakaiannya menempel sempurna di tubuhnya, Jia segera kelaur dari kamarnya mendekati Valle yang sedang berdiri di depan pintu sambil menggendong Raffa.


" Maaf Ma mengganggu." Ucap Valle menahan senyuman di bibirnya. Ia tahu apa yang di lakukan kedua orang tuanya setelah melihat jejak merah di leher Jia.


" Tidak mengganggu sayang, ayo kita tidur di kamarmu." Jia dan Valle masuk ke kamar Valle sedangkan Argham mengacak rambutnya di dalam sana.


" Beginilah rasanya di tinggal pas lagi tegang tegangnya." Gumam Argham.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2