HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
PERHATIAN SEORANG AYAH


__ADS_3

Pagi nan cerah secerah wajah Argham yang selalu di hiasi dengan senyuman di bibirnya. Ia nampak sedang asyik memandangi wajah lelah Jia yang masih terlelap di balik selimutnya. Bagaimana tidak kelelahan jika Argham menggempurnya sampai pagi? Ia hanya memberikan waktu lima belas menit saja untuk Jia beristirahat di setiap rondenya. Benar benar di luar dugaan Jia, ia mengira Argham tidak jauh dari Alex yang hanya melakukannya satu kali saja, namun Argham sangat jauh lebih buas seperti tidak pernah menemukan kepuasan.


Argham kembali menyungging senyumannya saat mengingat bagaimana perkasanya dan rakusnya ia menggagahi tubuh Jia. Nafsunya melebihi nafsu pengantin baru yang sama sekali belum pernah merasakannya. Ia sendiri tidak menyangka jika dengan Jia juniornya cepat bereaksi.


Argham beranjak lalu menyandarkan punggungnya pada headboard dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Jia. Ia merapikan anak rambut yang menutupi wajah Jia.


Cup...


Argham mengecup pipi Jia membuat Jia melenguh.


" Engh mas... Jangan ganggu aku lagi! Aku masih ngantuk banget. Bangunkan aku jika sudah jam lima pagi ya." Ujar Jia masih dengan keadaan memejamkan mata.


" Iya sayang maaf, tidurlah lagi." Argham mengelus kepala Jia membuat Jia kembali tidur dengan nyenyak. Argham terkekeh saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi, ternyata jam lima pagi sudah lewat satu jam lalu. Argham segera turun dari ranjang, ia harus bersiap mengurus Raffa dan Valle pagi ini, ia tidak mau mengganggu waktu Jia dengan membangunkannya.


Argham segera mandi, selesai mandi ia turun ke bawah meminta bi Ijah untuk menyiapkan sarapan. Ia juga meminta bi Ijah membuatkan secangkir kopi untuknya agar rasa kantuk yang masih menempel pada matanya bisa pergi menghilang, setelah mendapat apa yang ia mau, ia kembali ke atas menuju kamar Raffa dan Valle sambil membawa kopinya. Sebelum mengetuk pintu kamar Valle, ia meletakkan secangkir kopi di meja yang ada di depan ruang kerjanya. Atau lebih tepatnya meja yang biasa ia gunakan untuk meeting bersama para pegawainya.


Tok tok...


" Valle, apa kamu sudah bangun sayang?" Tanya Argham mengetuk pintu kamar Valle dengan pelan takut mengagetkan Valle dan Raffa.


Tidak ada sahutan dari dalam namun terdengar suara pintu di buka. Rupanya Valle takut mengganggu tidur Raffa jika ia menyahut Argham dengan berteriak.


" Sudah Pa, aku akan segera turun ke bawah untuk sarapan." Sahut Valle berdiri di depan pintu.

__ADS_1


" Baiklah Papa tunggu." Sahut Argham tersenyum lebar.


" Tapi kenapa Papa yang memanggilku? Mama kemana Pa?" Tanya Valle sambil mengerutkan keninganya. Ia heran kenapa Argham yang memanggilnya, karena membangunkan Valle atau memanggilnya untuk sarapan adalah tugas Jia bukan Argham.


" Mamamu sedang tidur, dia sedang tidak enak badan." Sahut Argham.


" Mama sakit?" Jia nampak sangat mengkhawatirkan mamanya.


" Tidak sakit, hanya tidak enak badan. Kamu tidak perlu khawatir! Mama kamu akan pulih jika beristirahat cukup. Sekarang turunlah! Ayo kita makan! Dan jangan lupa pasang pembatas ranjang agar Raffa tidak jatuh." Ujar Argham sudah seperti papa kandung bagi Valle.


" Iya Pa." Sahut Valle kembali masuk ke dalam.


Argham duduk di meja sambil menikmati kopinya. Pikirannya melayang kepada kejadian semalam, tiba tiba terbesit pikiran untuk melakukan hal itu lagi dengan Jia hari ini. Entah mengapa setelah merasakan indahnya tubuh Jia, Argham mendadak berubah menjadi pria mesum. Baginya tubuh Jia merupakan candu untuknya.


" Pa." Valle mengguncang lengan Argham membuyarkan lamunannya.


" Ah iya sayang." Ucap Argham gugup.


" Ayo kita sarapan! Kenapa malah Papa bengong di sini? Nanti kerasukan setan lhoh." Ujar Valle.


" Kamu bisa saja." Argham mengacak rambut Valle.


" Ish Papa... Jadi berantakan gini kan." Valle mengerucutkan bibirnya sambil menyisir rambutnya dengan jarinya.

__ADS_1


" Anak Papa jangan cemberut gitu donk! Nanti cantiknya hilang. Sini Papa sisir rambutmu biar rapi." Argham mengeluarkan sisir kecil dari saku belakang celananya yang biasa ia gunakan untuk menata rambutnya setiap kali di butuhkan. Dengan lembut ia menyisir rambut Valle.


Deg...


Perasaan Valle tersentuh dengan perhatian Argham. Entah kapan terakhir kali Alex menyisir rambutnya Valle sudah lupa. Valle merasa terharu dan sangat bahagia memiliki papa tiri seperti Argham. Selain perhatian, Argham juga sangat menyayangi Valle seperti anak kandungnya sendiri. Ia tidak membedakan Valle dengan Raffa, baginya keduanya adalah anak anaknya.


" Sudah rapi, sekarang waktunya kita sarapan. Selesai sarapan pak Lukman akan mengantarmu ke sekolah, atau mau di antar sama Papa?" Tanya Argham menawarkan diri.


" Tidak usah Pa, aku berangkat sama pak Lukman saja. Takutnya nanti kalau Raffa bangun tidak ada yang jaga." Ujar Valle.


" Baiklah."


Argham menggandeng tangan Valle menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Sampai di sana mereka langsung menuju meja makan untuk sarapan. Lebih tepatnya Argham menemani Valle sarapan karena ia tidak ikut makan. Ia akan sarapan bersama Jia nanti setelah Jia bangun, Valle tidak mempermasalahkan itu. Ia tahu bagaimana Argham menyayangi mamanya.


Selesai sarapan Valle segera berangkat ke sekolah sedangkan Argham menuju kamar Raffa. Ia tersenyum menghampiri Raffa yang rupanya sudah terbangun, ia duduk di atas ranjang sambil asyik bermain dengan boneka harimaunya. Beruntung ranjang Raffa tidak terlalu tinggi dan ada pembatasnya juga jadi tidak khawatir Raffa jatuh ke lantai.


" Jagoan Papa rupanya sudah bangun, princes Papa baru saja berangkat sekolah. Sekarang kita bermain sebentar ya sayang, setelah itu kamu harus saparan pagi dan mandi. Baru wangi deh anak Papa." Argham menurunkan pembatas ranjangnya lalu duduk di tepi ranjang menemani Raffa bermain.


Raffa bermain sambil berceloteh ria. Argham tersenyum bahagia melihat pertimbangan Raffa yang berkembang pesat sejak kedatangan Jia. Argham menemani Raffa bermain sambil mendengarkan celotehan nya yang nampak terdengar indah di telinganya.


Setelah di rasa cukup bermainnya, Argham menggendong Raffa menuju kamar mandi, ia membasuh wajah Raffa lalu membawanya ke bawah untuk menyuapinya. Argham menyuapi Raffa dengan nasi tik buatan bi Ijah. Raffa nampak makan dengan lahap. Selesai makan, Argham memandikan Raffa lalu memakaikan pakaian barunya sambil bermain main. Tanpa Argham sadari, Jia melihat semua yang Argham lakukan. Senyuman mengembang di sudut bibirnya melihat perhatian yang Argham berikan kepada kedua anak anaknya.


" Aku semakin yakin dengan perasaanku kepada mas Argham, terima kasih Tuhan Kau telah memberikan yang terbaik untukku. Semoga kami bahagia selamanya." Batin Jia.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2