
Di pagi yang cerah, suara burung berkicau ria di iringi angin sejuk sepoi sepoi membuat semua orang bersemangat menjalankan aktivitasnya. Jia yang sedang bersiap di depan cermin berjingkrak kaget saat Argham memeluknya dari belakang.
" Astaga!! Mas Argham ngagetin saja." Ucap Jia.
" Maaf sayang, Mas merindukanmu. Sudah cukup lama Mas tidak menjenguk anak kita. Mas khawatir dia akan lupa sama ayahnya." Ucap Argham menyandarkan dagunya pada pundak Jia. Tangannya mengusap perut Jia yang mulai terlihat buncit.
" Hmmm kode nih, mana mungkin anak kita lupa sama ayahnya Mas, mas Argham ada ada saja. InsyaAllah nanti malam aku kasih deh. Sekarang biarkan aku bersiap, ini sudah jam delapan Mas. Acara pernikahan Lervia tinggal setengah jam lagi. Nanti kita terlambat lhoh." Ucap Jia melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya.
Ya setelah lamaran Wilson di Terima oleh keluarga Lervia, ia segera mengurus pernikahannya. Hanya butuh dua hari ia mampu menyelesaikan berkas berkas dan menyelenggarakan pernikahan di rumahnya. Wilson tidak mau membuang waktu karena baginya lebih cepat akan lebih baik.
" Nggak usah cantik cantik dandannya, nanti malah kamu yang di kira jadi pengantinnya." Ucap Argham membuat Jia terkekeh mendengarnya.
" Mereka juga pasti bisa membedakan mana tamu mana pengantinnya Mas, aku udah siap kok tinggal memakai krim doank ini. Terus kita berangkat." Ucap Jia.
Argham memutari tubuh Jia, ia berjongkok tepat di depan Jia. Ia memeluk Jia lalu menempelkan telinganya di perut Jia.
" Pagi sayang... Sayangnya Papa lagi apa nih? Lagi bobok ya karena kedinginan. Nanti malam kita ketemu ya sayang, tunggu Papa." Ucap Argham.
" Apaan sih Mas, nggak malu apa Mas Argham ngomong seperti itu." Ujar Jia.
" Kenapa malu? Dia anak kita." Sahut Argham.
" Udah ah buruan bersiap! Aku tidak mau ketinggalan acara ijab qobulnya." Ucap Jia menyelesaikan kegiatannya.
" Baiklah sayang." Sahut Argham beranjak dari posisinya.
Selesai bersiap Argham menggandeng tangan Jia menuju mobil, sedangkan Raffa mereka tinggal bersama bi Ijah di rumah. Argham melajukan mobilnya menuju kediaman Wilson yang berada di jalan xx yang tak jauh dari rumahnya dengan kecepatan sedang. Cukup dua puluh menit Argham sampai di kediaman Wilson yang akan ia tempati bersama Lervia nanti.
" Ayo sayang turun." Ucap Argham.
Mereka berdua turun dari mobil lalu masuk ke dalam sambil bergandengan tangan. Keduanya di sambut salah satu pelayan yang bekerja di sana.
" Tuan Argham dan Nyonya Jia." Ucap pelayan itu memastikan.
" Iya benar." Sahut Argham.
" Mari Tuan, Nyonya! Nyonya Lervia sudah menunggu." Ucap pelayan.
Argham dan Jia berjalan di belakang pelayan itu menuju meja ijab dimana Wilson dan Lervia sudah berada di sana. Rupanya mereka hanya menunggu kedatangan Argham dan Jia saja.
" Silahkan duduk Gham!" Ucap Lervia.
" Terima kasih." Sahut Argham duduk di kursi paling depan.
__ADS_1
Wilson menatap Argham dari atas sampai bawah. Satu kesimpulan tentang Argham yaitu tampan. Mereka memang belum sempat bertemu karena waktu yang sempit.
" Bisa segera di mulai?" Tanya pak penghulu menatap kedua mempelai di balas anggukkan oleh keduanya.
Acara ijab qobul pun segera di mulai, dengan satu kali tarikan nafas Wilson berhasil meminang Lervia menjadi istri sahnya yang di walikan oleh ayah Lervia. Keduanya nampak bahagia, apalagi saat Lervia mencium punggung tangan Wilson nampak rona bahagia terpancar di wajahnya.
Selesai acara ijab qobul di lanjut acara resepsi. Argham dan Jia menyalami mereka sekaligus memberikan doa restu kepada keduanya.
" Terima kasih Jia, semoga aku bisa hidup bahagia sepertimu." Ucap Lervia menyentuh bahu Jia.
" Amin... Aku yakin kau pasti bahagia karena kau berada di tangan orang yang tepat." Ucap Jia. Lervia menganggukkan kepala. Setelah itu mereka turun menuju meja prasmanan untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji.
Kedua pengantin kembali duduk di kursi pelaminan.
" Cakep juga mantan suami kamu." Lervia langsung menatap Wilson begitu mendengar ucapannya.
" Iya, tapi sayang aku telah menyianyiakannya." Sahut Lervia.
" Apa kau menyesalinya?" Tanya Wilson menatap Lervia.
" Jujur kalau penyesalan memang ada, karena aku telah salah memilih orang. Aku lebih memilih adik yang membuatku menderita daripada suami dan anakku saat itu." Ujar Lervia.
" Lalu?" Tanya Wilson.
" Tapi sekarang aku bersyukur bisa bersamamu Mas. Aku bahagia dan semoga kebahagiaan ini kekal untuk selamanya." Jawab Lervia sambil tersenyum.
" Terima kasih kembali." Ucap Lervia.
Acara berlangsung hingga sore hari. Banyak tamu yang hadir untuk memberikan doa restu untuk mereka berdua.
...****************...
Semilirnya angin malam tidak menyurutkan niat Wahyu untuk memenuhi undangan makan malam keluarga Claris. Dengan memakai celana denim selutut di padu dengan kaos hitam yang tertutup jaket senada membuat Wahyu terlihat sangat tampan, bahkan isinya terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya.
Setelah turun dari mobil, ia masuk ke dalam rumah Claris dengan di sambut oleh tuan dan nyonya Dodi.
" Selamat malam Tuan dan Nyonya, terima kasih atas undangannya." Ucap Wahyu menjabat tangan tuan Dodi.
" Selamat malam tuan Wahyu." Sahut tuan Dodi.
" Panggil nama saja Tuan, rasanya canggung sekali kalau anda memanggil saya dengan sebutan Tuan." Ujar Wahyu.
" Baiklah kalau begitu saya panggil Nak biar lebih akrab." Ujar tuan Dodi.
__ADS_1
" Itu lebih baik Tuan." Sahut Wahyu.
" Kamu juga panggil saya om saja, jangan Tuan!" Ujar Tuan Dodi.
" Baiklah Om." Sahut Wahyu.
Mereka bertiga menuju meja makan dimana beberapa menu hidangan lezat tertata rapi di atas meja.
" Silahkan Nak Wahyu!" Ucap Tuan Dodi mempersilahkan.
Mereka mulai mengambil makanan, Wahyu nampak celingak celinguk mencari keberadaan sang pujaan hati.
" Anda mencari Claris?" Tanya Tuan Dodi seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Wahyu.
" Ah tidak Om." Sahut Wahyu cepat.
" Tapi dimana dia Om? Kenapa dia tidak kelihatan?" Tuan Dodi tersenyum mendengar pertanyaan Wahyu.
" Dia ada di kamar sedang mempelajari berkas yang asistentmu kirim barusan." Sahut Tuan Dodi.
" Rupanya Hardan bergerak cepat, good job." Batin Wahyu.
Mereka mulai makan dengan khidmat sampai kedatangan Claris membuat semuanya terkejut.
" Apa apaan ini Om?" Teriak Claris sambil melemparkan dokumen ke arah Wahyu.
" Claris.. Yang sopan Nak pada tamu kita." Ucap nyonya Dodi.
" Aku tahu cara menghormati orang dengan benar Ma, tapi aku juga tahu cara memperlakukan orang yang licik sepertinya." Sahut Claris tegas.
" Apa maksudmu berbicara seperti itu Nak?" Tanya nyonya Dodi.
" Apa Mama tidak tahu bagaimana liciknya dia mengambil keuntungan dari kerja sama ini?" Bukannya menjawab Claris justru balik bertanya pada mamanya.
" Tidak." Nyonya Dodi menggelengkan kepalanya.
" Dia... " Claris menunjuk Wahyu dengan kesal.
" Dia... "
Dia apa hayooo.. Ada yang bisa menebaknya? Author minta doa kepada kalian semua ya.. Semoga sampai bab ini cerita Argham terpilih editor menjadi bab delapan puluh terbaik.. Amiin..
Terima kasih..
__ADS_1
Miss U All...
TBC..