HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
BERBEDA NASIB


__ADS_3

Sadar ada seseorang di depan pintu, Argham menoleh ke belakang. Ia melempar senyuman manis ke arah Jia.


" Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Argham menatap Jia.


" Sudah dari tadi Mas." Sahut Jia berjalan menghampiri Argham.


" Dari tadi?" Argham mengerutkan keningnya, aroma wangi shampo menyeruak ke dalam hidung membuat Argham sadar jika Jia sudah mandi. Ia terlihat sangat cantik dari sebelumnya.


" Kamu terlihat cantik sekali sayang." Ucap Argham memuji sang istri sambil memakaikan celana pendek kepada Raffa.


Jia tersipu malu mendengar pujian Argham. Sampai tatapannya melihat tangan Argham yang memasukkan kedua kaki Raffa pada lubang yang sama.


" Mas kakinya." Jia menunjuk kaki Raffa. Argham pun mengikuti arah pandangan Jia, ia menatap Jia lalu keduanya tertawa bersama.


" Mas gimana sih, masa' satu lubang buat dua kaki seperti pakai rok saja." Ucap Jia terkekeh.


" Kamu bikin aku nggak fokus sayang, jadi gini deh hasilnya." Sahut Argham.


Argham membenarkan celana Raffa hingga melekat sempurna, dan tentunya tidak salah lagi. Kedua kaki Raffa berada pada posisi yang benar.


" Mam.. Ma... Ma.. " Raffa merangkak mendekati Jia, ia berdiri memeluk leher Jia dengan erat. Jia menciumi pipi Raffa dengan gemas.


" Emm anak Mama udah wangi, terima kasih Papa udah mandiin adek Raffa." Ucap Jia.


" Sama sama sayang." Sahut Argham.


Argham dan Jia menemani Raffa bermain di atas ranjang. Semua mainan Raffa, Argham taruh di ranjang agar Raffa bebas bermain mainan apa saja.


" Sayang." Argham menggenggam tangan Jia.


" Iya Mas, ada apa?" Tanya Jia menatap Argham.


" Wahyu sakit." Ucap Argham.

__ADS_1


" Lagi?" Tanya Jia memastikan.


" Iya, setelah pulang dari rumah sakit dia tidak menjaga pola makannya dengan baik. Entah karena beban pikiran atau memang kondisinya yang tidak fit, Wahyu sakit lagi. Dia terserang sakit kepala dan demam bersamaan." Terang Argham menjelaskan semuanya setelah pembantu Wahyu memberitahunya lewat telepon.


Jia tidak tahu harus bagaimana meresponnya, ia takut membuat Argham cemburu dan marah lagi padanya. Bisa bisa ia salah paham lagi dengan hubungan mereka. Akhirnya Jia memilih untuk diam saja.


" Kenapa kamu diam saja?" Tanya Argham menatap Jia.


" Aku tidak tahu harus bagaimana Mas, aku takut ucapanku justru membuat Mas Argham kecewa atau pun curiga pada hubungan kami. Akan lebih baik jika aku diam saja." Ujar Jia.


Argham tersenyum mendengar ucapan Jia.


" Yah kau benar, aku pasti akan cemburu jika kamu terlihat memperhatikan Wahyu." Sahut Argham. Jia menganggukkan kepala.


" Tapi aku telah memberikan kepercayaan penuh kepadamu sayang, sama sepertimu yang memberikan kepercayaan penuh kepadaku waktu itu. Aku percaya jika kamu sudah tidak punya perasaan apa apa pada Wahyu, dia hanya pria masa lalumu dan akulah pria masa depanmu. Semoga aku tidak hanya terlalu percaya diri tapi memang ini kenyataannya." Ujar Argham.


" Aku pastikan ucapan Mas Argham akan menjadi kenyataan Mas." Sahut Jia.


" Lalu aku harus bagaimana Mas?" Sambung Jia.


" Baiklah aku akan ikut bersama Mas Argham." Sahut Jia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah rumah mewah berlantai dua, terdengar suara tangisan yang berasal dari Mikayla memenuhi seisi rumah tersebut. Erick yang berada di ruang kerjanya merasa terganggu dengan tangisan Mikayla. Emosi memuncak di dalam hatinya, ia segera keluar lalu berjalan cepat menuju kamar Ayu.


Brak....


Erick membuka pintu kamar dengan kasar membuat dia penghuni di dalamnya tersentak kaget. Ia menatap nyalang ke arah Ayu yang sedang tiduran di atas ranjang sedangkan Mikayla duduk di sampingnya sambil terus menangis.


" Hentikan tangisan anakmu itu Ayu! Kepalaku hampir pecah setiap kali mendengar anakmu menangis. Mengganggu aku kerja saja tahu nggak hah?" Erick berbicara dengan nada tinggi.


" Erick kepalaku sangat sakit, aku tidak bisa menggendong Mikay.. Aku mohon tolong aku! Gendong lah Mikay sampai dia tidak menangis lagi." Ujar Ayu dengan nada lemah.

__ADS_1


" Kamu pikir aku babby sister anakmu apa? Aku tidak mau tahu, cepat minta anakmu untuk diam! Atau aku akan melemparnya dari sini!" Ucap Erick memberikan ancaman.


" Lakukan saja jika itu membuatmu senang! Aku sudah lelah menghadapi kebencianmu, kali ini aku pasrah Erick. Aku siap menerima apapun yang kau lakukan pada kami." Ujar Ayu membuat emosi Erick semakin memuncak karena merasa telah di tantang.


Bagaikan membangunkan singa yang tertidur lelap, Erick berjalan cepat mendekati Mikayla, ia mengangkat tubuh Mikayla lalu kembali berjalan menuju balkon. Jantung Ayu berdetak dua kali lebih kencang. Benarkah Erick tega melakukan semua itu pada darah dagingnya sendiri? Atau Erick hanya mencoba menggertaknya saja? Berbagai pikiran buruk bersarang di kepala Ayu.


Erick mengangkat tubuh mungil milik Mikayla di atas pagar pembatas balkon, melihat hal itu Ayu benar benar merasa panik luar biasa. Sekuat tenaga ia mencoba turun dari ranjang, kepalanya berdenyut nyeri, pandangannya terasa berputar tak karuan namun ia tidak mempedulikan keadaannya, ia lebih mempedulikan keselamatan Mikayla. Bagaimanapun ia tidak mau melihat kematian buah hatinya di depan matanya sendiri.


" Erick tolong hentikan!" Ayu berjalan tertatih tatih sambil memfokuskan pandangannya pada Mikayla.


Erick tersenyuk smirk, ia semakin tinggi mengangkat Mikayla yang semakin mengeraskan tangisannya.


" Kau yang menantangku Ayu! Jangan kau pikir anakmu dan dirimu berarti dalam hidupku, kalian bagaikan parasit di dalam kehidupanku yang seharusnya aku singkirkan sejak lama. Gara gara kalian berdua, Jia tidak jadi milikku. Dia malah memilih menikahi pria lain. Andai saja dulu aku tidak tergoda dengan rayuan mu, aku pasti sudah hidup bahagia bersama Jia saat ini. Kalian benar benar tidak berguna." Ucap Erick.


Ayu semakin dekat dengan Erick. Ia meminta Erick memberikan Mikayla padanya namun Erick tidak mau. Ia bersikeras akan melempar Mikayla ke bawah jika ia berani menantangnya lagi.


" Aku minta maaf Erick! Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku minta maaf! Sekarang berikan Mikay padaku, kau bisa menghukumku apa saja." Ujar Ayu.


Kepala Ayu semakin berdenyut nyeri, sepertinya migrain mulai menyerangnya. Pandangannya nampak menghitam, bahkan ia tidak bisa melihat wajah Erick dengan jelas. Ayu berusaha untuk tetap kuat, ia harus bisa menyelamatkan anaknya dari iblis serupa Erick. Langkahnya semakin maju, maju dan maju hingga tubuh bagian depannya menabrak pagar pembatas balkon sedangkan Mikayla berada di depannya.


Hua... Hua...


Tangisan Mikayla semakin kencang saat melihat ibunya. Wajahnya nampak sangat ketakutan.


" Sayang tenanglah ada Mama di sini!" Ucap Ayu.


Kepala Ayu rasanya semakin tak menentu, pandangannya semakin menghilang, tangannya meraba raba berharap bisa menemukan Mikayla dan memeluknya. Erick tersenyum smirk, ia membawa Mikayla menjauh dari Ayu membuat Ayu semakin panik. Ayu berjalan tergesa hendak mendekati Erick sambil terus meraba raba, tiba tiba kaki kanannya tersandung kaki kirinya hingga....


Dugh.... Brugh....


" Aaaaaaaaaaa"


Hua.... Huaaaa...

__ADS_1


Brak....


TBC.....


__ADS_2