HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
SANG MANTAN ARGHAM


__ADS_3

Setelah kepergian Claris, Wahyu nampak senyam senyum sendiri. Hardan yang melihatnya pun menggelengkan kepala.


" Apa yang sedang lo rencanakan?" Tanya Hardan seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh bosnya itu.


" Sini gue bisikin." Wahyu melambaikan tangannya membuat Hardan mendekat.


Wahyu membisikkan rencananya di telinga Hardan, mendengar itu Hardan membulatkan matanya.


" Gila lo. Nggak mau gue." Ujar Hardan menjauhkan tubuhnya dari Wahyu.


" Ya enggak lah." Sahut Wahyu.


" Pokoknya lo harus lakuin itu buat gue, atau gue bakalan mecat lo dan menggantikan lo dengan Aries." Ancam Wahyu.


" Well... Gue akan lakuin itu buat lo. Gue butuh waktu dua...


" Besok harus sudah selesai." Sahut Wahyu memotong ucapan Hardan.


" Iya besok pagi." Sahut Hardan kesal.


" Ya sudah ayo kita kembali ke kantor!" Ajak Wahyu beranjak dari kursi.


" Gue lapar, ijinkan gue makan dulu." Ujar Hardan.


" Baiklah kita makan bersama." Wahyu kembali duduk di kursinya.


Mereka memesan makanan untuk mereka berdua, setelah itu mereka kembali ke kantor.


Di tempat lain tepatnya di dalam rumah Argham. Valle nampak duduk gelisah di depan Romi. Pasalnya Romi terus menatapnya tanpa berkedip sedetik pun. Mendadak ia merasa takut Romi melakukan hal aneh dengannya, apalagi saat ini rumah sedang kosong. Argham dan Jia sedang memeriksakan kandungannya dan mereka pun mengajak Raffa.


" Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu? Apa kau takut denganku?" Tanya Romi sambil tersenyum. Entah mengapa setiap gerak gerik Valle nampak indah di matanya.


" I.. Iya Om." Sahut Valle jujur.


" Aku ke kamar aja ya Om, Om tungguin papa di sini. Sebentar lagi mereka pulang kok." Sambung Valle.


" Lhah malah ngode ke kamar segala, apa kamu tidak takut aku ikut bersamamu?" Valle langsung melotot menatap Romi.


" Enggak cuma bercanda, jangan melotot gitu donk! Aku jadi takut." Ujar Romi.


Valle bernafas lega mendengarnya. Ia memainkan ponsel untuk mengusir kekhawatirannya. Sebenarnya ingin sekali ia meninggalkan Romi sendiri, tapi Argham memintanya untuk menemaninya sampai ia sampai rumah.


" Valle." Panggil Romi.


Valle mendongak menatap Romi tanpa menyahut panggilannya.


" Apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Romi konyol menurut Valle.

__ADS_1


" Jangan tanyakan hal itu Om! Aku tidak tertarik." Sahut Valle cuek.


Hati Romi semakin senang mendengar jawaban Valle, sebenarnya ia hanya ingin memastikan saja jika gadis kecil incarannya belum punya kekasih atau mungkin belum tertarik dengan lawan jenis.


Mereka lanjut mengobrol seputar kegiatan sehari hari. Lebih tepatnya Romi yang bertanya tanya tentang kegiatan Valle. Tak lama Argham dan Jia masuk ke dalam rumah membuat Valle nampak senang, akhirnya ia terbebas dari Romi.


" Mama." Valle menghampiri Jia lalu mengambil Raffa dari gendongannya.


" Adik Kakak yang tampan, gimana? Apa Raffa udah lihat adek bayi dalam kandungan Mama?" Tanya Valle menatap Raffa yang menganggukkan kepala.


" Senang nggak Raffa punya Adek?" Tanya Valle lagi.


"Nang.. " Raffa mulai bisa mengikuti ucapan Valle walaupun hanya belakangnya saja.


" Pinter, ayo kita bermain." Valle membawa Raffa ke kamarnya.


" Kamu istirahat saja sayang! Aku akan menemui Romi dulu." Ucap Argham mencium kening Jia.


" Iya Mas." Sahut Jia.


Jia menaiki tangga menuju kamarnya sedangkan Argham menemui Romi.


" Sorry Bro, lama." Ucap Argham duduk di depan Romi.


" Aku malah ingin lebih lama lagi." Sahut Romi.


" Sialan lo! Ngehina banget sama gue." Cibir Romi.


" Oh ya, ada apa lo datang kemari?" Tanya Argham menatap Romi.


" Ada satu penumpang yang mau menggunakan jasa travel lo."


" Terus?" Argham mengerutkan keningnya heran, bukankah sudah biasa jika ada penumpang atau pelanggan yang menggunakan travelnya? Lalu kenapa Romi memberitahunya sampai sampai ia datang ke rumahnya? Pikir Argham.


" Penumpang yang satu ini beda Gham, tadi pagi dia menelepon gue. Dia bilang butuh bantuan untuk sampai ke rumahnya...


" Ya tinggal angkatin saja, dimana bedanya?" Tanya Argham memotong ucapan Romi.


" Dia Lervia, mantan istri lo."


Jeduaaarrrr......


Bagai di sambar petir di siang bolong, Argham benar benar terkejut dengan ucapan Romi. Bagaimana bisa penumpang itu mengaku mantan istrinya sedangkan istrinya sudah tiada. Dan dia sendiri yang mengebumikan jasadnya. Namun satu hal yang tidak Argham lakukan, yaitu membuka kain kafannya.


" Lo jangan bercanda Rom! Nggak lucu candaan lo ini." Argham mengusap kasar wajahnya.


" Gue nggak bercanda Gham, dia cerita kalau jasad yang lo kebumikan bukan jasadnya. Lora telah menukarnya dengan jasad orang lain. Lora mengirimnya yang sedang sekarat waktu itu ke pulau B sebagai wanita pengh!bur di sana. Dan sekarang dia sudah tidak kuat lagi, dia ingin pulang Gham. Dia sangat butuh bantuan lo saat ini." Ucap Romi membuat Argham semakin galau.

__ADS_1


" Nih dia mengirim bukti foto dirinya dan kartu pengenal nya. Dia bilang kalau lo tidak percaya dia mau tes DNA kalau sudah sampai sini. Dia bisa menjamin kalau dia benar benar Lervia." Romi membuka ponselnya lalu menunjukkan foto yang di kirim oleh Lervia.


" Dia juga memberitahuku kalau dia dapat nomor kantor travel kita dari brosur yang kebetulan pelangganannya bawa, dan dia langsung menelepon gue." Sambung Romi.


Argham memandang wajah yang terpapang jelas di sana, meskipun sudah lama berpisah namun ia masih mengingat wajah mantan istrinya.


" Semua keputusan ada di tangan lo sih, kalau lo merasa bantuan lo akan mengancam hubungan lo dengan Jia ya nggak perlu lo lakuin. Anggap saja lo tidak tahu menahu masalah hal ini. Tapi kalau lo mau membantu ya biar gue aja yang jalan." Ujar Romi.


" Tetap saja kehadirannya akan mengancam pernikahan gue sama Jia, dia pasti akan datang walaupun sekedar menengok Raffa." Ujar Argham.


" Ya udah mending biarin aja kalau gitu, biar dia cari bantuan yang lain saja." Ujar Romi.


" Tapi gue kasihan Rom, bagaimanapun dia ibu dari anak gue. Tapi gue bingung sendiri, gue harus apa." Ujar Argham.


" Pikirkan saja dulu Gham! Tapi jangan lama lama! Kasihan dia kalau harus nunggu lama. Mungkin sekarang kesempatan bagus buat dia meninggalkan tempat itu." Ujar Romi.


Argham nampak berpikir sejenak, ia nampak bimbang untuk mengambil keputusan karena keduanya akan menyulitkan dirinya.


" Baiklah bilang padanya, kita akan membantunya tapi dengan syarat dia tidak boleh menemui keluargaku setelah dia sampai di sini, apalagi menemui Raffa dan Jia." Ujar Argham.


" Baiklah, aku akan katakan padanya. Jika dia mau...


Belum sempat Romi menyelesaikan ucapannya tiba tiba ponsel Romi berdering. Romi menatap layar ponselnya yang menyala.


" Lervia." Ucap Romi menatap Argham.


" Angkat saja!" Ucap Argham.


Romi segera mengangkat panggilan lalu mengaktifkan loudspeaker nya.


" Halo."


" Halo Romi, gimana? Apa Argham mau membantuku? Aku mohon Romi, mumpung aku ada kesempatan untuk pergi dari tempat yang menyiksa ini. Tolong jangan buang waktu lebih lama lagi, aku tidak mau terus terus an berada di sini hiks... Aku mohon bantu aku kembali pada kedua orang tuaku. Aku mohon hiks... "


Suara ini... Sangat jelas di telinga Argham jika suara ini milik mantan istrinya. Mendengar tangisannya ia menjadi tidak tega.


" Aku akan membantumu Lervia, jangan khawatir! Aku akan ada untukmu." Kata kata itu liolos begitu saja dari bibir Argham. Tanpa Ia sadari Jia telah melihatnya dari tadi di belakangnya.


Ya.. Jia berniat membuat minuman untuk mereka, saking asyiknya mereka mengobrol sampai sampai tidak sadar saat Jia menuruni tangga.


Sakit... Melihat suaminya masih peduli dengan sang mantan. Tidak mau kehadirannya di ketahui oleh Argham, Jia membalikkan badan dengan tergesa, dan...


Brugh...


Argham dan Romi sontak menoleh ke asal suara.


" Jia."

__ADS_1


TBC....


__ADS_2