HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN

HANCURNYA SEBUAH KESETIAAN
KEHIDUPAN YANG MEMBOSANKAN


__ADS_3

" Katakan! Jangan ragu Jia!" Ucap Wahyu menatap Jia yang sedari tadi diam saja.


Sebenarnya Jia ingin mengatakan, tapi ia merasa sungkan.


" Jia... "


" Aku membutuhkan pekerjaan." Ucap Jia.


Wahyu tidak langsung menjawab, ia malah menatap Jia dengan tatapan Intens.


" Walaupun kehidupan Valle di tanggung oleh mas Alex nantinya, tapi aku butuh uang untuk menopang hidupku sendiri. Tidak mungkin kan aku mengurangi jatah Valle untuk kebutuhanku sendiri? Itu sudah bukan hakku Wahyu. Jadi aku ingin bekerja biar menghasilkan uang sendiri." Ujar Jia seolah tahu apa yang Wahyu pikirkan.


Wahyu mengangguk anggukkan kepalanya memahami apa yang sedang Jia rasakan.


" Aku tahu kalau aku membantumu dengan mencukupi kebutuhanmu pasti kamu tidak akan mau, baiklah aku akan membantumu mencarikan pekerjaan untukmu saja." Ujar Wahyu.


" Terima kasih kau selalu ada di saat aku seperti ini." Ucap Jia.


" Aku tidak tega melihat wanita yang aku cintai seperti ini." Ucap Wahyu membuat Jia salah tingkah. Valle tersenyum melihat reaksi mamanya.


" Kau mau pekerjaan seperti apa?" Tanya Wahyu.


" Sebenarnya aku mau pekerjaan yang bisa di sambi, karena aku harus mengantar jemput Valle ke sekolah. Kira kira pekerjaan apa yang memiliki waktu sedikit bebas untukku?" Jia balik bertanya.


Wahyu nampak sedikit berpikir memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuk Jia. Tiba tiba ia teringat dengan temannya yang membutuhkan seorang babby sister.


" Teman priaku membutuhkan seorang babby sister untuk mengurus babbynya yang berusia satu tahun, babby sister yang lama sudah tua, jadi ia ingin menggantinya yang lebih muda agar bisa cekatan mengurus babbynya. Dan dia mengutamakan seseorang yang sudah berpengalaman, seperti pernah menjadi seorang ibu. Kalau kamu mau, aku bisa membawamu ke sana untuk bernegosiasi sendiri." Ujar Wahyu.


" Babby sister." Jia nampak memikirkan tawaran Wahyu, yang ia beratkan di sini, apakah Jia harus menginap di rumah majikannya? Apakah Jia boleh keluar untuk menjemput Valle ke sekolah? Hanya dua pertanyaan itu yang bersarang di kepala Valle, kalau masalah gaji ia sama sekali tidak memikirkannya.


" Kapan kita bisa bertemu dengannya?" Tanya Jia memastikan. Ia akan menanyakan semua itu kepada calon majikannya langsung. Kalau cocok ia akan mengambil pekerjaan ini, demi hidupnya. Demi masa depannya.

__ADS_1


" Nanti malam, aku akan mengantarmu ke rumahnya. Kalau jam segini dia masih sibuk di kantor." Ujar Wahyu.


" Dia bekerja dimana?" Tanya Jia ingin tahu.


" Dia pengusaha jasa travel, sewa mobil, dan memiliki beberapa shorum mobil yang tersebar di kota ini." Sahut Wahyu.


" Cukup beritahu aku satu saja tidak perlu semuanya, seperti mau cari calon suami aja." Ucap Jia terkekeh.


" Eh siapa tahu nanti kamu berjodoh dengannya, dia duda tampan dan seumuran dengan kita lhoh. Siapa tahu nanti pekerjaan ini jadi jalan jodoh buat kamu." Ucap Wahyu menggoda Jia.


Jia sangat tahu ada rasa sakit yang menjalar di dalam hati Wahyu saat mengucapkan itu. Sangat terlihat jelas dari sorot mata Wahyu yang nampak terluka.


" Aku tidak memikirkan soal itu Yu, aku mau fokus mengurus Valle dan menjadikannya orang yang sukses suatu hari nanti. Aku ingin hidup Valle ke depannya lebih baik dari kehidupanku." Ujar Jia.


" Amin, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Tetap semangat walaupun badai menghadang." Ucap Wahyu.


" Terima kasih." Ucap Jia sambil tersenyum.


" Iya Om." Sahut Valle.


" Om minta kamu jadi anak yang baik ya, temani mama kamu, hibur mama kamu kalau dia sedang sedih. Kalau ada apa apa dengan kalian berdua, telepon Om ya! Om akan membantu kalian." Ucap Wahyu.


" Iya Om, terima kasih telah memberikan perhatian kepada kami." Ucap Valle di balas anggukkan kepala oleh Wahyu.


" Kalau begitu aku pulang dulu Jia, aku akan menjemputmu nanti malam. Sampai bertemu lagi." Ujar Wahyu.


" Sampai bertemu lagi." Ucap Jia.


Wahyu meninggalkan Jia dan Valle dengan perasaan entah. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas di dalam hatinya masih terukir jelas nama Jia di sana.


Wahyu melajukan mobilnya menuju rumahnya. Lima belas kemudian, mobil yang di tumpangi oleh Wahyu terparkir di depan rumahnya. Rumah sederhana namun terlihat mewah yang memiliki dua lantai. Ia turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Hua... Hua...


Tangisan dari Dea terdengar jelas memekakkan telinga. Wahyu segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ceklek...


Wahyu membuka pintu kamarnya dengan kasar, ia dapat melihat Dea sedang duduk di lantai sambil menangis, sedangkan Vita malah asyik bermain ponselnya sambil duduk bersandar pada headboard ranjangnya. Vita merupakan penggemar novel online, hari hari ia habiskan untuk membaca novel tanpa mau mengurus Dea apalagi pekerjaan rumah lainnya. Ia juga mempunyai hobby shopping dan berkumpul dengan teman teman sosialitanya. Hingga sering kali ia meninggalkan Dea bersama omanya. Entah apa yang di pikirkan Vita hingga ia teh melakukan semua itu.


Ya.. Wahyu dan Vita tinggal bersama nyonya Eti yang tak lain ibu dari Wahyu. Vita tidak memperlakukan ibu mertuanya dengan baik, ia bahkan menyerahkan semua tanggung jawab dan pekerjaan rumah pada ibu mertuanya. Wahyu memang sengaja tidak menggunakan jasa art, untuk mendidik istrinya. Ia berharap istrinya bisa berpikir lebih dewasa yang mau mengurus suami dan anaknya dengan baik. Namun istrinya benar benar memiliki sikap pemalas tingkat dewa.


Vita selalu bersikap semena mena pada Wahyu dan ibunya. Itulah yang membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Andai saja tidak ada Dea di antara mereka Wahyu pasti sudah meninggalkan Vita sejak lama.


" Astaga Vita.. Anakmu menangis malah kau sibuk dengan ponselmu." Ucap Wahyu menggendong Dea.


" Orang di suruh diam nggak mau, ya biarin aja." Sahut Vita cuek tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


Wahyu menggelengkan kepalanya, selalu seperti ini sejak dulu. Kalau Wahyu bersikap lebih tegas dari sekarang, Vita pasti kabur ke rumah orang tuanya dan tidak membiarkan Wahyu bertemu dengan putrinya. Sama dengan Jia, Wahyu mempertahankan pernikahannya karena putrinya.


" Seharusnya kamu gendong dia, terus turuti apa yang dia inginkan. Jadi Dea tidak akan menangis seperti ini. Ini aku gendong dianya juga diam." Ucap Wahyu.


Vita meletakkan ponsel di ranjangnya, ia beranjak berdiri di depan Wahyu.


" Emangnya kamu pikir menggendong Dea tidak capek apa? Ini kesalahan mama kamu, mama kamu terlalu memanjakan Dea. Biasanya jam segini mama kamu menggendong Dea dan mengajaknya jalan jalan sehingga Dea menjadikannya kebiasaan. Sekarang giliran mama kamu pergi nggak ada yang mengajak Dea jalan jalan, jadi nangis kan dia." Ucap Vita lancang. Vita tidak ada takut takutnya dengan suaminya. Entah apa ia menganggap suaminya sehingga ia mengharuskan Wahyu menuruti semua ucapannya.


" Sepertinya kamu lebih sayang dengan ponsel kamu itu. Kamu lebih mentingin membaca novel daripada mengurus putrimu sendiri." Ucap Wahyu.


" Ya iyalah, membaca novel itu hobiku Mas. Aku butuh hiburan yang bisa membuat aku bahagia. Tidak hanya mengurus anak saja, emangnya nggak bikin stress apa." Cebik Vita kembali duduk di ranjang dan membaca novel onlinenya.


Tidak mau membuat keributan di depan putri kecilnya, Wahyu membawa Dea keluar. Begitulah kehidupan sehari hari mereka berdua. Selama menjadi istri Wahyu, Vita tidak mau melakukan pekerjaan apapun. Bahkan membuat kopi, memasak untuk Wahyu saja nyonya Eti yang melakukannya. Semua itu membuat Wahyu merasa jengah, ingin meninggalkan Vita namun ia memikirkan Dea. Ingin tetap bertahan tapi semakin ke sini ia semakin tidak tahan. Jadi salahkah Wahyu jika ia tertarik dengan wanita lain yang bisa mengerti keadaan dan bisa membuatnya nyaman?


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2