Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 10


__ADS_3

Sore harinya,semua rencana sudah tersusun rapi.


Bu Ratih sudah berbaring dengan santai di ranjang tempat tidurnya,seharian belajar acting supaya terlihat benar-benar sedang sakit.


"Sudah siap Mar?"


"I..iya buk"


"Ingat ya Mar,jangan gugup kita nggak boleh ketahuan."


"Baik bu."


"Sekarang kamu telfn Dicky,kalau pas telfn boleh gugup biar terlihat kalau kamu panik ketika saya sakit.Ingat jangan sampai ketahuan!"


"Iya bu."


Bik Mar segera mengambil hapenya di kantong serbaguna doraemon,kantong nya sendiri maksudnya.


Beberapa kali dia coba menghubungi tuan mudanya namun tak ada jawaban.


"Sudah saya telfn,tapi tidak di angkat bu...."


"Coba sekali lagi." kata bu Ratih santai.


Sekali lagi bik Mar menelfn namun tak di angkat juga.


Saat panggilan terakhir hendak di matikan tiba-tiba ada suara seseorang dari seberang telfn sana.


"Halo bik,ada apa?"


"Halo den.....segera pulang den,ibu....."


"tut,tut,tut"


Panggilan terputus karena bu Ratih sudah buri-buru menyambar hape bik Mar,dan bergegas mematikannya.


Karena panik terjadi sesuatu dengan mamanya,Dicky segera tancap gas menuju rumah.


Sesampainya dirumah segera memarkirkan mobil,dan bergegas lari menuju kamar bu Ratih.

__ADS_1


"Ma....mama kenapa ma?"


Bu Ratih masih diam dengan mata terpejam.


Perasaan Dicky sudah tak karuan.


"Bi....bi Mar,cepat bukakan pintu mobil!"


Perintah Dicky dengan nada serengah berteriak.


"Baik den."


Saat bi Mar hendak berjalan keluar kamar bunRatih,tiba-tiba bu Ratih membuka matanya.


"Gak usah bawa mama ke mana-mana,mama mau dirumah saja nak...." ucap bu Ratih lirih dan lemah.


"Tapi mah...mama sedang sakit.Dicky minta maaf ya mah,kemaren Dicky buat mamah sedih?"


"Gak papa kok nak,panggil saja dokter yang biasa merawat mama untuk datang kemari.Mama gak mau di bawa kemana-mana,mama mau di rumah saja nak..."


"Iya mah."


Dicky segera menghubungi dokter Dian agar secepatnya datang kerumah karena keadaan darurat.


"Ya ampun.......apa orang kaya bisa seenaknya main dokter-dokteran seperti ini?"


Ucapnya lirih sambil melajukan kendaraannya menuju kediaman Wijaya.


Sesampainya di kediaman Wijaya,Dicky segera berlari menhampiri dokter Dian agar secepatnya memeriksa keadaan mamanya.


"Dokter,cepat periksa mama saya dokter...!"


"Baiklah pak,mohon semuanya keluar dulu,biar saya fokus memeriksa pasien."


Setelah semuanya keluar,dokter Dian segera menutup rapat pintu kamar bu Ratih dan menguncinya.


"Lho....kok pake di kunci segala bik?"


"Mana saya tau den,mungkin biar dokter fokus memeriksa ibu den."

__ADS_1


"Saya permisi dulu den,mau membuatkan minum untuk dokter Dian."


Sebenarnya Selain memang akan membuatkan minum bi Mar juga hendak kabur dari hadapan Dicky,daripada titanyain yang aneh-aneh terus.


Takunya nanti lama-lama ketahuan sandiwara mereka.


Sementara di kamar bu Ratih,keduanya sedang santai menyusun rencana.


Bu Ratih menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi tentang alasannya membuat sandiwara yang sampai melibatkan dokter Dian.


"O....jadi ini alasannya bu Ratih minta saya membantu bermain dokter-dokteran?"


"Iya dokter......tolong kerjasamanya ya." ucap Bu Ratih sambil tersenyum penuh harap.


"Hmmmmm.......Baiklah...." sambil membalas senyuman bu Ratih.


Selang tak berapa lama dokter Dian pun keluar,namun tak mengizinkan siapapun masuk dulu dengan alasan biar pasien beristirahat dahulu.


"Bagaimana keadaan mama saya dokter?"


"Ada hal penting yang perlu kita bicarakan pak Dicky."


"Baiklah....mari duduk dokter."


"Begini pak,sebenarnya kondisi bu Ratih bisa di bilang kurang baik.Sebenarnya ada masalah apa dengan bu Ratih samapai membuatnya seperti ini? mohon kerjasamanya untuk kebaikan dan keaembuhan bu Ratih."


"Lalu apa yang bisa kami perbuat lagi dokter,selama ini kami sudah mengupayakan yang terbaik buat mama."


"Bukan masalah itu pak Dicky,apa ada keinginan bu Ratih yang belum tercapai dalam hidupnya?mohon bantuannya untuk memenuhi keinginan-keinginan terakhir beliau."


"Dokter tidak sedang bercanda kan dengan saya?"


"Ya Ampun....pak Dicky,apakah di saat seperti ini masih bisa saya bercanda?"


"Iya dokter,maaf."


"Baiklah pak Dicky saya pamit dulu,obat yang kemaren dari rumah sakit biar dihabiskan dulu saja karena bahaya jika obatnya di ganti-ganti lagi takutnya bu Ratih tidak kuat dosis tinggi.Tolong kalau ada apa-apa segera hubungi saya."


"Iya dokter terima kasih."

__ADS_1


Dokter Dian pun berlalu menuju mobilnya dengan perasaan lega,dan menahan tawa.


"Aneh-aneh saja bu Ratih ini." dokter Dian berbicara sendiri sambil tersenyum heran.


__ADS_2