
Setelah acara pertunangan usai Dita dan Dicky kembali pada kesibukan masing-masing.
Dita kembali dengan rutinitasnya berangkat dan pulang dari kantor di kawal oleh Rin.
Bu Ratih merasa belakangan ini Dita Dicky jarang terlihat bersama karena kesibukan masing-masing.
Bu Ratih beberapa kali menanyakan perihal hubungannya dengan Dita pada putranya,namun hanya di jawab karena sama-sama sedang sibuk.
Entah kenapa bu Ratih merasa hubungan mereka justru terasa merenggang setelah acara pertunangan.
Bukankah seharusnya mereka semakin mesra seiring semakin dekatnya acara pernikahan mereka yang akan di laksanankan bulan depan.Bu Ratih berusaha mencari cara supaya hubungan mereka kembali membaik dan romantis kembali seperti kemarin sebelum mereka tunangan.
"Dik....mama mau ngomong."
"Iya ma,soal apa?" tanya Dicky sambil meletakkan sendok dan garpunya setelah menelan makanan terakhirnya.
"Setelah menikah nanti kalian akan tinggal disini atau dirumah Dita?"
"Soal itu belum kami pikirkan ma,nanti kalo ada waktu Dicky bicarakan dulu sama Dita ya ma."
"Apa perlu mama yang hubungi Dita,supaya bisa mengatur waktunya?"
"Nggak perlu ma,nanti biar Dicky yang bicara sama Dita."
Dicky berusaha menhubungi Dita berkali-kali namun Dita tidak menjawab telfon dari Dicky.
Ketika Dicky mengirim pesan mengajak Dita bertemu ketika jam makan siang,Dita menolak dengan alasan sibuk dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Karena merasa kesal akhirnya Dicky menyuruh Rin untuk tidak menjemput Dita sore harinya ketika jam pulang kantor,karena Dicky sendiri yang akan menjemputnya.
Dita berjalan keluar dari gedung Prima Group menuju halaman parkir dimana biasa Rin sudah menunggunya.
Dita menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru tempat parkir,namun tak ditemukan Rin beserta mobilnya.
Dalam pikirnya mungkin Rin sedikit terlambat atau sedang ada masalah dijalan.
Ketika Dita hendak mencoba menghubungi Rin,Dicky keluar dari dalam mobil menarik tangan Dita dan memaksanya masuk kedalam mobil.
"Apa-apaan sih ini mas?"
Dicky hanya terdiam tidak menjawab,malah melajukan mobilnya begitu saja.
__ADS_1
Membawa Dita kesebuah apartemen,Dita hanya pasrah saat Dicky menggandeng tangannya meski dalam hatinya merasa sangat takut.
Ketika sudah berada di depan pintu apartemen Dicky segera membuka pintu setelah memencet beberapa tombol.
"Kita mau ngapain kesini mas?"
"Mama ingin setelah menikah kita tinggal dirumah sendiri supaya antara mama dan tante kamu tidak ada yang merasa iri."
Dita menarik nafas lega,pikiran buruknya tentang apa yang akan Dicky lakukan padanya seketika menghilang.
"Sebenarnya ada dua pilihan antara apartemen ini atau rumahku,terserah kamu pilih yang mana."
Dicky duduk di kursi yang sama dengan Dita namun keduanya sama-sama duduk di ujung kurai yang berbeda,setelah mereka berkeliling ruangan apartemen melihat isi seluruh rumah.
"Kalo saya terserah mas saja."
Dicky menggeser duduknya mendekat ke tubuh Dita.
"Benarkah terserah aku?!"
Dicky semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dita,sontak Dita langsung memejamkan mata dan menundukkan wajahnya takut akan terjadi kejadian yang sama seperti yang sudah-sudah dengan tiba-tiba Dicky akan menciumnya.
Namun kali ini Dicky hanya memandangi wajah Dita sambil tersenyum melihat tingkah Dita.
"Ayo kita lihat Rumah,disini berlama-lama denganmu membuatku takut khilaf."
"I....iya mas,baik."
Dita kembali menjaga jarak aman dengan Dicky.Ia berjalan mengekor di belakang Dicky.
Dicky kembali melajuakan mobilnya menuju sebuah rumah mewah berlantai dua.
Dicky segera membuka pintu setelah lagi-lagi memencet beberapa tombol.
Dita kembali mengekor saat Dicky memasuki rumah.
"Kita mau langsung lihat isi di dalamnya?"
"Boleh."Rumah yang meskipun kosong namun semua barangnya tertata dengan rapi dan juga bersih.
"Setiap dua hari sekali akan ada orang yang datang untuk bersih-bersih."
__ADS_1
Dita hanya mengangguk tanda mengerti.
"Ini kamar utama yang akan menjadi kamar tidur kita nanti."
Dicky membuka pintu kamar yang tampah sangat luas,memang kamar ini terlihat jauh lebih besar di banding kamar yang lain.Kamar tersebut berada di lantai dua.
"Maaf bukankah dalam perjanjian tidak akan ada kontak fisik?"
"Tapi kamu ingat kan dalam surat perjanjian yang nomor 1?"
Dita kembali mengingat-ingat isinya bahwa;
Pihak kedua,yaitu Dita harus patuh pada peraturan apapun yang di buat atau apapun yang di minta oleh pihak pertama yaitu Dicky.
Rasanya surat perjanjian itu tak ada satupun yang bisa di bilang kerjasama,karena seluruh isinya hanya memaksa Dita untuk patuh pada Dicky.
"Lalu kamu ingin tinggal dimana nanti setelag menikah?"
Dita masih terdiam nampak sedang berfikir.
"Apa kamu masih akan menjawab terserah?"kata Dicky sambil mendekat ke arah Dita dan mendorongnya sampai terjatuh ke atas tempat tidur.
Dicky segera menindih tubuh Dita dan menggenggam kedua tangan dits dengan kedua tanganyya.
"Apa yang anda lakukan? lepaskan!"
Dita berusaha meronta dengan menggeliatkan tubuhnya sekuat tenaga,namun apa daya tubuhnya kalah kuat dari Dicky.
Dicky hanya terdiam memandangi wajah Dita masih dalam keadaan berada di atas tubuh Dita.
"Tolong menyingkirlah,saya merasa kesulitan bernafas."
Dicky hanya sedikit mengangkat tubuhnya dan menopang tubuhnya dengan kedua siku supaya tidak menindih tubuh Dita.Namun masih tetap tak melepas Dita dari kungkungannya.
Dengan lembut Dicky mencium bibir mungil Dita,jantungnya berdegup dengan sangat cepat rasanya ada sesuatu yang harus dia lakukan.Namun dia kembali teringat bahwa tidak seharusnya dia melakukan ini pada Dita mengingat mereka belum sah menjadi suami istri.
Dicky segera bangkit,dan mengulurkan tangannya untuk membantu Dita bangun,Dita segera meraih tangan Dicky dan bergegas merapikan rambut dan pakaiannya.
"Maaf Dit,aku....."
Dicky segera berlalu menuju kamar mandi,entah apa yang dia lakukan disana hanya dia dan tuhan yang tau.Mungkin berusaha menenangkan diri atau menenangkan yang lain.
__ADS_1
Bersambung.....