Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 56


__ADS_3

"Tante perutku,anakku....!"


Suara Dita tertahan.


Tante Dewi segera memanggil dokter lalu memberi kabar pada Dicky lewat panggilan telfon,tante Dewi sangat bahagia melihat Dita sudah sadar dari koma.


Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi sedang berjalan dengan tergesa-gesa setelah mendapat telfn.


Brugh!


"Maaf,maaf mas saya sedang buru-buru."


Dicky menabrak seorang laki-laki yang sedang berjalan santai di depannya.


"Hati-hati dong mas kalo jalan"


Ucap seorang ibu sambil menggendong seorang anal kecil yang hampir menjadi korban tabrak oleh Dicky saat berjalan setengah lari.


"Maaf bu,saya sedang buru-buru."


Ucap Dicky masih sambil meneruskan perjalanannya menuju kamar ruang rawat Dita.


Tak lama setelah dokter dan para perawat selesai memeriksa keadaan Dita,Dicky datang dengan terburu-buru bahkan di sepanjang perjalanan dari ruang NICU sampai ke ruang kamar perawatan Dita entah berapa kali hampir dan bahkan sudah menabrak beberapa orang.


Dengan masih terengah-engah sambil mengatur nafas Dicky segera mendekat kearah Dita dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Dicky menggenggam erat jari jemari istrinya yang sedang tersenyum melihat sang suami menyeka berkeringat di dahinya.


"Sayang,kamu.....apa yang kamu rasain sekarang?"


"Dik,dokter bilang Dita belum boleh diajak bicara dulu soalnya tadi dia ngeluh kepalany pusing."


"Yaudah kalo begitu kamu istirahat saja dulu ya,biar nggak pusing lagi kepalanya."


"He'em."


Angguk Dita sambil tersenyum.


"Anak kita dimana?"


Tanya Dita lirih karena badannya masih sangat lemas serta seluruh tubuhnya terasa sakit semua terutama di bagian perut rasanya perih seperti di sayat.


"Nanti kalo kamu sudah pulih kita bisa lihat anak-anak,untuk saat ini kamu istirahat saja dulu biar cepat sembuh."


Dita hanya mengangguk.


"Kalo gitu biar tante gantian nunggu Bulan dan Bintang ya."


Tante Dewi meraih tas serta hapenya di atas meja sambi berpamitan.


"Bulan,bintang?"

__ADS_1


Tanya Dita bingung pada Dicky.


"Iya sayang,anak kita kembar sepasang jadi aku namai mereka nama Bulan dan Bintang."


Serta Dicky menjelaskan kalau kedua anaknya terpaksa harus lahir sebelum waktunya dengam cara operasi,dan kini harus menjalani perawatan di ruang NICU dalam inkubator.


Dita tersenyum bahagia mendengar bahwa kedua anaknya baik-baik saja saat ini,meski Dita juga tak bisa menyembunyikannkesedihannya karena sejak mereka dilahirkan belum sekalipun dia bisa melihat bahkan menyentuh kedua buah hatinya.


Semakin hari keadaan Dita semakin membaik,kini tinggal memulihkan kondisinya paca operasi.


Dita kini sudah berlatih jalan meski luka sayatan bekas operasi di perutnya masih terasa sakit dan perih,namun karena semangatnya demi segera sembuh dan bisa melihat buah hatinya dia harus menahan perih yang dia rasakan.


Dicky mengajak Dita untuk melihat kedua buah hari kembarnya diruang NICU,dengan telaten Dicky mendorong kursi roda yang di duduki Dita.


Meski sudah mulai bisa berjalan namun Dicky tak tega jika harus melihat sang istri berlama-lama jalan menuju ruang rawat sikembar.


"Permisi pak,dokter akan melakukan pemeriksaan."


Kata seorang perawat,dan benar saja tak lama berselang seorang perempuan berjas putih berkalung stetoskop masuk kedalam ruangan untuk memeriksa Dita.


Karena keadaan Dita sudah membaik,jadi Dita sudah diperbolehkan pulang sore ini.


"Sayang kalau aku pulang berarti nggak bisa ketemu lagi dong sama si kembar?"


Dita merasa sedih karena harus berpisah lagi dengan kedua buah hati kembarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2