Hati-Hati Dengan Hati

Hati-Hati Dengan Hati
Bab 44


__ADS_3

Sekitar pukul 2 dini hari mereka berpisah,Kity pulang di antarkan Reyhan dan Tiwi.


Pagi yang cerah,sepasang suami istri masih terlelap di balik selimut meski matahari sudah mulai naik.


Dita menggeliat membuka matanya saat matanya terasa silau oleh sinar matahari yang menyilaukan matanya.


"Selamat pagi sayang,kau pasti sangat kelelahan sampai jam segini baru bangun."


"Ini jam berapa mas?" tanya Dita sambil duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tampat tidur.


"Hampir jam 10."


"Sesiang itu!" Dita bergegas lari ke kamar mandi tanpa memperdulikan tubuhnya di hadapan suaminya,toh tak ada seincipun dari bagian tubuhnya yang blm pernah terlihat oleh suaminya.


"Gak usah buru-buru sayangku,aku sudah memintakan izin libur untukmu."


Setelah selesai mandi Dita keluar dengan rambut masih basah.


"Kau lapar sayang? mari kita sarapan."


"Terimakasih mas,aku benar-benar merasa lelah hari ini.perutku juga agak mual rasanya."


"Perlu kita kerumah sakit sayang?"


"Tidak usah,sepertinya hanya masuk angin karena kurang tidur."


"Baiklah habiskan sarapanmu."


"Hmmm...."

__ADS_1


Selesai sarapan Dita berlari kekamar mandi,di muntahkannya semua isi perut.


"Kamu kenapa sayang?"


"Perutku tiba-tiba sangat mual dan ingin....Huwek....!"


Dita kembali masuk ke kamar mandi saat kakinya hendak memebawa tubuhnya keluar dari pintu kamar mandi.


Dengan panik Dicky segera menghubungi dokter dan juga menghubungi mamanya serta tante Dewi,karena selama mereka menikah belum pernah Dita sakit sampai seperti ini.


Dita terlihat sangat pucat karena setiap melihat makanan kembali dia muntah.


"Singkirkan makanan itu mas,aku mual melihatnya!"


"Iya sayangku,baiklah."


Segera Dicky berlari keluar kamar dengan membawa semua makanan sarapan mereka.


Gumam Dicky merasa heran dengan sikap istrinya.


Dokter sudah datang terlebih dahulu sebelum bu Ratih dan tante Dewi datang.


Segera di lakukan pemeriksaan,tak lama kemudian dokter keluar dan Dicky segera menyambar dokter dengan beribu pertanyaan.


"Sabar pak Dicky,istri anda tidak apa-apa."


"Bagaimana mungkin tidak apa-apa,aku melihat dengan mata kepalaku sendiri istriku muntah dan kau bilang dia tidak apa-apa!"


Dicky mencengkeram kerah baju dokter yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Disaat yang tepat muncullah Bu Ratna dan tante Dewi.


"Ada apa ini....!!!!" teriak bu Ratih


"Iya Dik apa yang kamu lakukan!?" tanya tante Dewi mereka sama-sama panik melihat perlakuan Dicky pada seorang dokter yang baru saja memeriksa Dita.


"Dokter ini mempermainkanku ma,dia bilang istriku tidak apa-apa padahal aku lihat sendiri Dita sakit."


"Maaf nyonya-nyonya,saya baru saja akan memeberitahu bahwa Nona Dita baik-baik saja dan gejala yang di alami nona Dita adalah hal yang wajar untuk ibu hamil seperti nona Dita.Tapi pak Dicky tak mau mendengarkan penjelasan saya."


"APA,HAMIL....!!!!!!"


sontak merek semua terkejut mendengar penjelasan dokter.


"Maaf dokter,saya sudah salah paham."


Segera Dicky masuk ke dalam kamar dan memeluk tubuh istrinya.


"Kamu kenapa mas?apa aku terkena penyakit serius sampai kau begitu paniknya?"


"Terima kasih sayang,kita akan segera punya bayi."


Dita hanya tersenyum mendengarnya,di susul bu Ratih dan tante Dewi memasuki kamar dan memberi mereka berdua selamat.


Sejak kehamilan istrinya,Dicky semakin membatasi kegiatan istrinya.


Dita sudah tidak lagi di perbolehkan lagi bekerja dan mengerjakan pekerjaan apapun.


Dicky juga mencari 2 asisten rumah tangga,karena memang bibi yang biasa hanya bisa datang kerumah mereka untuk bersih2 rumah maka mereka menambah lagi orang selain untuk menemani Dita supaya tidak bosan di rumah sendiri juga untuk melakukan tugas rumah tangga melayani Dita.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2