
"Emang rencana elu apa sih Rey?"
Dicky mulai tak sabar untuk menyudutkan Rey agar segera bicara soal usulnya.
"Gini Dik,kita secepatnya kesana dan salah satu diantara kita harus menyamar sebagai karyawan baru disana."
Dicky terdiam mendengarkan penjelasan Reyhan dengan seksama.
"Tapi kayaknya gue nggak bisa ikut kesan dalam waktu dekat ini,kan elu tau sendiri gue gak bisa lama-lama jauh dari anak istri gue untuk saat ini."
Dicky mulai berfikir.
"Bagaimana kalo elu sama si.......siapa ya waktu itu namanya?"
"Siapa ?"
Tanya Rey penasaran.
"Yang waktu itu jemput gue di kemacetan,trus anterin sampe pulang kerumah.Kayaknya dia bisa dipercaya."
"Siapa? Ooooooo si Riyan?"
"Iya Riyan namanya kalo nggak salah."
Jawab Dicky dengan agak sedikit ragu karena agak lupa nama anak itu.
__ADS_1
Reyhan dan Dicky mulai mengatur rencana untuk mengumpulkan bukti yang cukup kongkrit untuk menjerat para pekerja yang berlaku curang selama ini.
Dicky bahkan sengaja secara mendadak memberi kabar pada kantor cabang yang sedang bermasalah bahwa Riyan akan kembali dipindah tugaskan ke kantor cabang,dengan tujuan mereka tak sempat menyembunyikan bukti kejahatan dan kecurangan mereka selama ini.
Namun mereka sangat licik dan sangat kompak,nyatanya selama ini mereka mampu mengelabui Dicky yang memang tidak mungkin bisa memantau seluruh kantor cabangnya.
Sebelum Riyan dipindah tugaskan ke kantor cabang Dicky berjanji akan mengurus pengobatan dan segala keperluan ibunya selama Riyan berada di luar kota,serta ibu Riyan pun telah dicarikan seorang pengasuh yang akan mengurus dan menemani ibu Riyan dirumah.
Riyan pun telah meminta izin kepada sang ibu meski dengan berat hati,namun sang ibu justru dengan senang hati memberinya izin.
Bu Siti,ibunya Riyan justru bangga jika Riyan mampu dengan setia bekerja pada Dicky untuk membalas budi baik dang bos besarnya.
Mungkin ini salah satu hal yang bisa Riyan lakukan untuk Dicky dan perusahaan yang selama ini telah membantu pengobatan ibunya,meski sampai kapanpun budi baik Dicky tak akan pernah bisa terbalas dengan hal apapun menurut Riyan.
Saat Riyan masih sibuk mengemasi barang-barangnya,seorang perempuan muda salah seorang yang akan mengurus bu Siti mengetuk pintu yang tak tertutup dengan pelan.
"Permisi mas,saya mau mengantarkan minun."
Nina melangkahkan kakinya memasuki kamar Riyan dengan membawa baki berisi jus jeruk segar.
"Mmmmmm,iya taruh situ saja."
Jawab Riyan sambil menunjuk sebuah meja kecil yang berada di seberang tempat tidur.
"Maaf sebelumnya mbk....."
__ADS_1
"Nina mas,nama saya Nina"
Jawabnya sambil menundukkan kepala dihadapan Riyan.
"Iya mbk Nina maaf ya,saya malah jadi merepotkan."
"Nggak papa mas,sudah menjadi tugas saya."
Nina melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Riyan dengan sopan.
Setelah selesai packing,Riyan memutuskan istirahat sejenak sebelum sore nanti mobil kantor yang akan mengantarkannya datang.
"Bu,ibu mau makan apa?"
Ucap Riyan mendekati sang ibu yang sedang duduk di tempat tidurnya.
Riyan memang anak yang sangat berbakti pada orang tuanya,setiap hari ia lah yang mengurus sang ibu serta melakukan segala pekerjaan rumah.
Sejal kecil ibunya mengajarinya untuk hidup mandiri karena memang mereka bukanlah ditakdirkan lahir dari keluarga berada.
Riyan adalah anak semata wayang bu Siti,sedangkan ayahnya....ah,seharusnya kita tak perlu membahas soal ini.
Hufh,apa boleh buat daripada membuat penasaran akan lebih baik diperjelas saja dimana ayah Riyan.
Bersambung......
__ADS_1