
Saat Dita sampai di depan rumah,sudah ada sebuah mobil terparkir disana.
Saat mereka turun dari mobil dan hendak masuk kedalam rumah,ternyata Dicky sudah duduk di kursi teras.
"Dit,nie orang aneh deh kayaknya."bisik tante Dewi pada Dita.
"Udah gpp,tante masuk aja dulu."
"Mmmmmm...........Dicky silahkan mari masuk." dengan canggung tante Dewi mempersilahkan Dicky masuk.
Dicky masih terdiam lalu melangkah masuk masih dengan wajah dingin.
"Duduk dulu mas."
"Hmmm...."
Tante Dewi masuk bersama Dita.
"Dit,tuh cowok dingin banget sih kamu kok bisa sih di selametin sama orang kayak dia?" bisik tante Dewi saat membuatkan minum ubtuk tamu agungnya.
"Udah lah tante,di memang gitu orangnya."
"Silahkan di minum mas."
"Hm....,gimana keadaan kamu?"
"Udah gapapa kok,makanya sudah boleh pulang."
"Kamu sudah tau untuk apa Rin disini?"
"Iya,tadi Rin sudah menjelaskan sedikit.Harusnya mas gak usah repot-repot menyiapkan orang khusus buat menjaga saya seperti ini,apa ini tidak terlalu berlebihan?"
"Kamu tidak lupa dengan janji kamu tadi di rumah sakit kan?"
"Janji?"
"Apa kamu sudah lupa?belum juga genap 24jam apa kamu sudah lupa dengan janji kamu sendiri?"
Dita hanya terdiam mengingat kejadian tadi pagi di rumah sakit,janji apa yang sudah dia buat dengan pria aneh yang sekarang ada di hadapannya ini.
"Apa dia benar-benar serius dengan perkataannya tadi bahwa dia ingin aku menjadi istrinya?" batin Dita.
"Kalau kamu lupa,biar saya ingatkan.Nanti malam jam 7 bersiap-siaplah,Rin akan mengantarkanmu bertemu saya.Biar kamu tidak lupa,sepertinya kita harus membuat perjanjian tertulis."
"Perjanjian apa lagi?"
"Baiklah aku pulang dulu,bisa tolong panggilkan tante kamu?aku ingin berpamitan."
__ADS_1
"Baiklah."masih dengan wajah bingung,Dita berlalu untuk memanggilkan tantenya.
Setelah berpamitan Dicky pun berlalu pergi,dan sebelumnya sempat terlihat berbicara serius dengan Rin.
Setelah melihat tuannya pergi,Rin segera masuk kedalam rumah dan menemui Dita.
Rin menjelaskan jika jam kerjanya di mulai pada pukul 7 pagi Rin sudah akan tiba di kediaman Dita sampai 9malam barulah Rin akan pulang.
Namun jika di butuhkan Rin akan segera datang jika kapanpun di butuhkan.
Rin pun memberikan nomor hapenya pada Dita serta meminta Dita untuk menyimpan nomor hape milik Dicky.
Karena itu adalah perintah langsung dari Dicky.
Malam pun tiba tepat pukul 7 malam,Rin sudah sampai di sebuah restoran dimana Dicky sudah duduk menunggu mereka.
Rin hanya mengantarkan Dita sampai tempat dimana Dicky sudah menunggunya,lalu meninggalkan Dita hanya berdua saja dengan Dicky.
"Kamu mau makan dulu Dit?"
"Kita bicarakan saja dulu soal perjanjian yang sudah anda singgung tadi sore ketika di rumah saya mas."
"Ternyata kamu ini tidak sabaran sekali ya?"
"Bukannya begitu,saya hanya merasa penasaran janji apa yang sudah saya buat dengan anda tadi? padahal saya belum pernah berjanji apapun."
"Benarkah?bukankah kamu sendiri yang berjanji akan menuruti apapun kemauan ku? termasuk.....menjadi istriku?"
"Tapi aku sedang serius."
"Benarkah?"
"hmmmmm......"
Dicky mengeluarka sebuah map berisikan sebuah surat.
"Bacalah dengan teliti,lalu tanda tangan."
"Apa-apaan ini?kenapa harus ada surat perjanjiannya segala sih?pernikahan itu bukan untuk main-mainan tidak bisa di pake u tuk lelucon."
"Lalu siapa yang mau main-main,dan siapa yang menggunakannya untuk lelucon?"
"Lalu?apakah anda serius soal pernikahan ini?"
"Lalu,apakah wajahku ini nampak seperti orang sedang bercanda?"
Dita membaca kata demi kata dengan serius.
__ADS_1
Setelah membacanya,Dita hanya terdiam menatap wajah Dicky dan melihat kertas di hadapannya dengan serius secara bergantian.
"Bagaimana,apakah kamu akan mengingkari janji kamu sendiri?"
"Tapi sebelum saya menandatangani surat ini,saya perlu meminta izin dan restu dari tante saya sebagai pengganti orang tua saya."
"Lalu jika kamu mau menikah denganku,apakah tante kamu masih bisa menolaknya?bukankah pernikahan ini antar aku dan kamu bukan lagi butuh orang lain sebagai juri?"
"Tapi saya juga tidak bisa memutuskan masa depan saya sendiri tanpa imbangan dengan orang terdekat saya."
"Baiklah,akan ku beri waktu 1jam untuk mendiskusikan dengan tante kamu."
"Satu jam?!!!!"
"Ya,satu jam.apa terlalu lama waktu satu jam?setengah jam?!"
"Kenapa anda seenaknya sendiri memutuskan segala sesuatunya!"
Dita merasa kesal karena Dicky semakin seenaknya.
"Tenang saja,bukankah disitu sudah tertulis hanya menjadi istri saja tidak akan ada kontak fisik selama pernikahan?"
"Itu berarti kita menikah hanya untuk pura-pura?" tanya Dita merasa bingung.
"Menikahnya sungguhan,tapi saya tidak akan melakukan apapun padamu selama kamu tidak memaksa ku untuk melakukannya kecuali........"
"Kecuali apa!"
"Kecuali saya khilaf."
"Enak saja,mengatakan kalau saya yang akan memaksa anda melakukannya!memangnya saya terlihat seperti perempuan rendahan!"
"Bagaimana?apa kamu setuju menjadi istri saya?hanya dalam waktu 5tahun saja kok setelah itu kita cerai.Bukankah kamu sudah janji akan melakukan apapun kemauanku sebagai ucapan terimakasih kamu karena sudah ku tolong?!"
"Ya ampun.....!kenapa saya harus di tolong oleh orang seperti anda tuan!"
"Sepertinya kamu memang sudah di takdirkan untuk menikah denganku."
"Tapi kenapa anda tidak mencari perempuan yang mau menikah sungguhan dengan anda?menikahlah dengan perempuan yang anda cintai atau mencintai anda.Saya hanya tidak mau pernikahan di buat main-main seperti ini."
"Jadi kamu mau menghindari janji kamu sendiri?cepat tanda tangan!"
"Iya...iya,saya tanda tangan sekarang!"
Andai waktu bisa di putar kembali,ingin rasanya Dita menelan kembali kata-katanya yang akan melakukan apapun kemauan Dicky sebagai ucapan terimakasihnya karena sudah di tolong.
Namun sayangnya kata-kata tersebut sudah terlanjur teucap dan Dicky kini menagihnya.
__ADS_1
Kini surat perjanjian kontrak pernikahan sudah tertandatangani oleh Dita dan Dicky.
Bersambung.....