
Dua hari berlalu setelah kejadian malam itu bu Ratih masih menginap di rumah mereka meski masih diam seribu bahasa.
Bahkan ketika Dicky dan Dita mengajaknya bicara bu Ratih hanya menjawab seperlunya saja.
"Ma....mama masih marah?"
Tanya Dita sambil memeluk bu Ratih yang baru saja duduk di kursi ruang makan.
"Ma....apa perlu bi Mar ikut kesini biar mama tidak kesepian saat kami tinggal bekerja?" tanya Dicky.
"Tidak perlu."
"Ma.....udahan dong marahnya,kami memang salah ma tapi jangan hukum kami seperti ini."
"Baiklah mungkin malam ini terakhir mama tinggal disini,mama akan segera pulang besok dan kalian,SEMUA TERSERAH KALIAN." dengan nada pelan namun kata-katanya sperti di tekan.
Bu Ratih segera menghabiskan sarapannya lalu kembali ke kamarnya,lalu menghubungi seseorang.
Sore menjelang Dita dan Dicky pulang dari kantor bu Ratih sudah menyiapkan masakan kesukaan Dicky.
Nampak ada senyuman licik disana.
Saat Dita sampai rumah tak berselang lama kemudian Dicky datang.
"Kalian sudah pulang?mandilah lalu kita makan bersama." ucap bu Ratih pada keduanya.
"Mama udah gak marah sama kami lagi kan?"
Tanya Dita sambil memeluk mertuanya penuh haru.
"Mandilah dulu Dita....kalian tidak mungkin mandi bersama kan?"
tanya bu Ratih sambil tersenyum pada keduanya.
"Makasih ya ma,mama udah gak marah lagi sama kami."
Ucap Dicky saat Dita berjalan menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai mandi secara bergantian,kemudian mereka bertiga makan bersama.
Setelah itu mereka duduk santai di depan tivi menani bu Ratih nonton sinetron emak-emak kesukaannya.
"Rasanya kok lama-lama disini gerah ya?"
Kata Dicky tiba-tiba mengibas-kibaskan tangannya kedepan wajahnya.
"Ah,masak sih?" jawab bu Ratih santai.
"Iya ya mas,lama-lama aku juga ngerasa gerah.Apa Ac ruangan ini mati ya mas?"
Dita mendekat ke arah bawah Ac dan mendongak melihat alat pendingin ruangannya serta melihat remotnya.
"Nyala kok."Dita berbicara sendiri.
"Apa nyala tapi nggak dingin,mungkinperlu di servis kali."
Keduanya nampak semakin gelisah dan berkeringat.
"Ma....Dita naik dulu ya,kayaknya perlu mandi lagi deh,gerah banget."
"Dicky juga ma,mau ngadem di kamar kayaknya ni Ac nya bermasalah deh."
"Baiklah mama juga mau kekamar."
Bu Ratih berjalan kekamarnya sambil melihat keduanya berjalan terburu-buru menuju kamar mereka di lantai atas.
Bu Ratih tertawa kecil sambil menutupi mulutnya sendiri.
Sebenarnya siang tadi bu Ratih menyuruh orang untuk membelikan obat perangsang untuk keduanya,bu Ratih sengaja menyiapkan makanan untuk mereka.
Lalu bagaimana bisa jika mereka bertiga memakan makanan yang sama,tapi hanya mereka berdua yang terkena efek dari obat tersebut sedangkan bu ratih tidak apa-apa?
Karena obat tersebut tidak di campurkan pada makanan,namun pada gelas minum mereka.
Meski mereka hanya minum air putih saat makaan,itu bukan masalah karena sifat dari obat tersebut tidak berbau dan tidak ada rasanya juga langsung larut jadi terlihat seperti air putih pada umumnya.
__ADS_1
Sepertinya bu Ratih berhasil membuat mereka bereaksi pada obat tersebut,tinggal menunggu hasilnya.
Sementara di kamar atas Dita sudah selesai mandi,sedangkan Dicky berusaha menenangkan diri.
"Mas,aku sudah mandi tapi kok masih gerah ya?"
Tiba-tiba Dicky mendekati Dita,dan menarik tangan dita menuju tempay tidur.
"Mas mau apa?!"
"Dit,apa kamu merasa gelisah? dan gerah?"
"Iya,meski sudah mandi tetap saja masih gerah."
"Yasudah tidur saja sana."
Dicky keluar Dari kamar menuju ruang kerjanya yang berada tepat di sebelah kamar tidurnya,berusaha menenangkan diri.
Karena berlama-lama berada di dekat Dita bisa membuatnya gila karena takut akan menyalahi perjanjian yang sudah mereka sepakati untuk tidak ada kontak fisik.
Tak lama setelah itu Dicky kembali ke kamarnya dan ternyata disana dilihatnya Dita yang hanya mengenakan celana pendek dan tangtop tanpa bra hingga terlihat gundukan dada dita dan ****** di tengahnya,membuat Dicky semakin tak bisa mengendalikan dirinya.
"Kok balik lagi mas?"
Dicky sudah berusaha menghindari tatapan matanya dari tubuh Dita,kalu berbaring di tempat tidur membelakangi Dita.
Saat Dicky berbalik badan ke arah Dita ternyata Dita juga melakukan hal yang sama hingga membuat mereka berbaring dalam saling berhadapan dan tanpa sengaja tubuh mereka bersentuhan.
Tanpa di komando,merka sudah saling berpelukan.
Mereka sama-sama tak bisa mengendalikan diri,karena sedang dalam pengaruh obat keduanya saling menikmati sentuhan satu sama lain.
Dalam sekejap mereka sudah sama-sama tanpa sehelai benagpun,nafas mereka saling beradu.
Dicky semakin tak bisa mengendalikan dirinya begitu juga dengan Dita yang menciumi beberapa bagian tubuh Dicky hingga meninggalkan jejak tanda kemerahan di beberapa tempat seprti leher dan tempat lainnya begitu juga dengan Dicky yang tangan dan bibirnya menggerilya kemana-mana.
Hingga pada akhirnya mereka menyatukan tubuh mereka malam itu,suara desahan dan lenguhan memenuhi kamar mereka sampai keduanya tertidur setelah mencapai kenikmatan karena pengaruh obat.
__ADS_1
Bersambung.....